Mencari Spot Mancing Cumi

Inneke Agustin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 09:07 WIB
LOKASI PAS: Dermaga di Pantai Mayangan yang biasanya menjadi tempat untuk menarik untuk memancing cumi-cumi. (Foto: Istimewa)
LOKASI PAS: Dermaga di Pantai Mayangan yang biasanya menjadi tempat untuk menarik untuk memancing cumi-cumi. (Foto: Istimewa)

 

IKAN tak melulu menjadi target angler saat memancing di lautan lepas. Bagi sebagian pemancing, memancing cumi-cumi (squid fishing) boleh dibilang menjadi aktivitas yang menguntungkan. Jika dapat, cumi-cumi bisa dimasak atau bahkan dijual. Namun perlu strategi untuk memancingnya.

Untuk memancing cumi-cumi, angler harus menghabiskan waktu di malam.Namun pemancing tak harus menuju tengah lautan lepas.

Aktivitas memancing cumi-cumi dari atas dermaga, pemecah ombak (breakwater), atau langsung dari bibir pantai kini menjelang menjadi tren hiburan baru yang digemari berbagai kalangan.

Aktivitas ini biasanya mulai ramai selepas senja hingga dini hari. Saat matahari mulai tenggelam dan lampu-lampu penerangan dermaga atau joran mulai dinyalakan, para pemancing mulai bersiap.

Berbeda dengan memancing ikan biasa yang menggunakan umpan alami seperti udang mati atau potongan ikan, memancing cumi menuntut teknik tersendiri menggunakan umpan buatan yang disebut jig atau squid jig.  Umpan yang biasanya berbentuk seperti ikan tengiri tiruan. Umumnya dilengkapi dengan mahkota kail berlapis tajam.

Budiono, 44, warga Mayangan adalah salah satunya. Pria yang biasa melaut ini menyebut, memancing cumi-cumi memang paling enak di dekat tepi pantai. “Karena cumi-cumi biasanya tak memerlukan tempat yang dalam. Bahkan bisa di dermaga,” beber Budiono.

Walau begitu, seorang angler harus tetap melakukan persiapan. Minimal lampu yang terang. Karena cumi-cumi merupakan hewan laut yang sangat tertarik pada cahaya.

Oleh karena itu, banyak pemancing sengaja memilih lokasi yang dekat dengan sorotan lampu atau menggunakan tambahan lampu senter khusus di dalam air untuk memancing perhatian hewan berkaki sepuluh ini.

Budiono bilang, saat memancing cumi-cumi, joran yang dibutuhkan juga tak harus menggunakan reel. Joran tegek juga dapat digunakan. Namun yang diperlukan adalah teknik lempar dan tarik (casting and retrieving) serta kesabaran, menjadi kunci utama. Pemancing harus mampu merasakan getaran halus saat cumi menyambar umpan tiruan tersebut.

Bagi yang sudah terbiasa, pemancing cukup hanya mengandalkan tangan saat mengambil cumi dari joran. Tapi bila tidak biasa, pemancing bisa menggunakan jala kecil yang fungsinya memudahkan saat mengangkat.

Memancing cumi juga jelas berbeda dengan ikan. Saat berhasil ditangkap, cumi-cumi pasti mengeluarkan tinta sebagai senjatanya. Di sinilah letak perbedaannya.

"Sensasinya luar biasa saat cumi menyambar umpan. Tarikannya terasa unik, seperti ada sedotan kuat yang disusul perlawanan ringan saat ditarik ke darat," ujar Romadhoni, 40, salah seorang pemancing yang ditemui di kawasan pesisir pantai Mayangan.

Lalu bagaimana dengan musim? Sebagai hewan laut, cumi-cumi sebenarnya memang tidak mengenal musim. Hanya saja saat awal musim kemarau, biasanya cumi-cumi lebih mudah ditemui.

“Rentang waktunya antara Juni ke Juli. Di saat seperti itu, cumi-cumi lebih banyak yang berukuran besar. Termasuk sotong,” beber  Budiono.

Di bulan-bulan itu, angler bisa mendapat lebih dari 2 kilogram. “Saya pernah dapat sampai 15 kilogram,” beber Budiono.

Meski tak harus ke perairan yang dalam, bagi angler yang tertarik mencoba, tetap harus memperhatkan sejumlah hal. Mengingat aktivitas dilakukan di tepi laut atau batuan pemecah ombak, safety harus menjadi hal utama. Termasuk pasang surut air laut. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
cumi angler mancing