KEGIATAN robotika dapat mencetak generasi muda yang produktif dan dapat mengembangkan sumber daya manusia. Dengan harapan, ke depan generasi muda mampu berkompetisi dengan negara-negara maju lainnya. Tak hanya menjadi konsumen.
Kata robotik berasal dari kata robot yang mulanya diperkenalkan oleh penulis asal Ceko bernama Karel Capek dalam dramanya R.U.R (Rossum's Universal Robots) pada 1920.
Sementara, menurut Oxford English Dictionary, kata robotika kali pertama digunakan oleh Isaac Asimov dalam cerita pendek fiksi ilmiahnya yang berjudul Pembohong, yang terbit pada Mei 1941.
Robotika merupakan serapan dari kata robot yang diartikan sebagai perangkat elektronik yang diprogram untuk mempermudah kehidupan manusia.
Robotika sejatinya merupakan salah satu cabang ilmu yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan mekanika.
Saat ini robotika makin mengukir jejak dalam evolusi teknologi. Di dunia industri robot cerdas yang mampu melakukan tugas berulang dengan akurasi dan produktivitas yang tinggi serta efisiensi maksimal.
Kegiatan robotika semacam ini dapat mencetak genarasi muda yang produktif dan dapat mengembangkan sumber daya manusia.
Harapannya, pada 2030, generasi muda mampu berkompetisi dengan negara-negara maju lainnya. “Sangat disayangkan bila kita hanya bisa menjadi konsumen teknologi. Kita tahu penggunaan gadget oleh anak-anak saat ini. Dari pada hanya sebagai pengguna teknologi, akan lebih baik bila mereka diajarkan untuk menjadi kreatornya,” ujar Gamma Kristian Adikurnia, 28, seorang tutor robotik di salah satu tempat kursus di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.
Gamma mengatakan, bekal pertama yang harus dimiliki seorang kreator robot bisa berangkat dari hobinya bermain game.
“Biasanya anak-anak yang suka bermain game, itu bisa membuka wawasannya. Dari sana sebenarnya sudah menjadi tanda dia suka membuat program, robot, ataupun permainan. Tinggal diasah dan diarahkan,” katanya.
Pelajar kelas I Sekolah Dasar (SD) pun, kata Gamma, sudah bisa memulai belajar robotik. Nantinya bertahap dan levelnya terus ditingkatkan. Ketika sudah mampu, akan diajarkan membuat robot yang membutuhkan penyolderan.
“Baru di level ini pesertanya minimal harus kelas VI ke atas. Tapi, yang penting dia suka main game dulu,” katanya.
Salah seorang bocah yang mulai berlajar tentang robotika adalah Muhammad Faturrayyan, 11. Ia mengaku sangat menyukai aktivitas membuat robot, karena hal baru dan seru. Ia meyukai robot sejak masih taman kanak-kanak (TK). Kemudian, mulai lebih fokus dengan hobinya sejak setahun lalu.
“Bikinnya juga tidak susah. Ada yang menggunakan aplikasi, kadang ada juga yang tidak,” kata bocah kelas V Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini.
Meski menurutnya membuat satu buah robot membutuhkan waktu cukup lama, namun waktu setahun, Rayyan telah mampu membuat beberapa robot. Seperti robot soccer dan line traccer. Tak sampai di sini saja, ia bahkan bercita-cita menjadi seorang profesor di bidang robotika.
Ia bersyukur, hobinya tersebut juga mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Terutama ayahnya yang juga menyukai dunia robotika.
“Dibantu ayah kalau di rumah. Sementara di sekolah dibantu guru pembimbing. Kadang ada juga kendala yang ditemui saat membuat robot. Misalnya, baterainya mati, jadi harus ganti ataupun beli baru lagi,” katanya.
Abdan Khairi Tsabit Habibi, 10, mengatakan, dalam membuat robot terdapat alat-alat yang perlu disiapkan. Di antaranya, solder listrik, tang pemotong, cutter, kabel, serta komponen-komponen lainnya. “Semuanya tetap dalam pengawasan orang tua atau guru. Jadi, didampingi agar tidak salah,” katanya.
Abdan juga pernah mengikuti kompetisi robotika di Kota Surabaya. Menampilkan robot transporter. Sayang saat uji coba mengalami kendala, sehingga belum berhasil juara. “Masih perlu disempurnakan lagi. Nantinya saya juga ingin membuat dan menghadiahi orangtua saya sebuah robot mesin cuci otomatis,” katanya.
Harus Tentukan Dulu Tujuan Pembuatan
Aswar Pashori dan Iswandi dalam artikelnya yang berjudul Teknologi Robot tahun 2014 menjelaskan beberapa jenis robot. Dilihat dari fungsinya, robot dibagi menjadi empat jenis. Meliputi industrial robot, service robot, robot science, dan robot entertainer.
Ada pula klasifikasi yang berdasarkan konstruksinya. Seperti robot beroda, robot manipulator, robot berkaki, flying robot, under water robot, robot humanoid, dan robot animaloid. Berdasarkan kendalinya, robot dibagi menjadi tiga jenis. Yakni, autonomous robot, teleoperetad robot, dan semi autonomous.
“Antarjenis robot biasanya memiliki komponen yang berbeda-beda. Tergantung fungsi dan lokasi kerjanya. Antara robot yang ada di darat, di udara, dan di air pasti beda komponen dan materialnya,” ujar Gamma Kristian Adikurnia.
Lulusan Bachelor degree Information Technology with Specialism in Mobile Technology, Information Technology Project Management, Staffordshire University ini mengatakan, ada jenis robot analog dan robot digital. Robot analog merupakan robot yang dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan jaringan internet. Robot digital membutuhkan jaringan internet.
“Tapi, kalau untuk edukasi biasanya hanya jenis analog. Sebab, kalau digital biaya pembuatannya lebih mahal, bisa dua kali lipat dibandingkan robot analog,” katanya.
Dalam pembuatan robot, mula-mula kreator harus menentukan terlebih dahulu tujuan pembuatannya. Setelah itu, barulah membuat mesinnya dengan memasangkan sejumlah komponen. Setelah mesin rampung, dilanjutkan membuat tubuh robot menggunakan material sesuai kebutuhan.
Biaya yang diperlukan cukup beragam. Terutama dalam segi riset, dimana robot mengalami fase trial and error. “Pastinya di sana akan membutuhkan dana dan waktu lebih. Itu bisa dikatakan tantangan ataupun kendala,” kata Gamma.
Biaya pembuatan juga bergantung jenis komponen ataupun material yang digunakan. Apalagi ketika robot tersebut akan menghadapi sebuah kompetisi, pastinya akan disesuaikan kembali dengan tantangan ataupun rintangan dalam kompetisi.
“Termurah yang pernah kami garap di sini seharga Rp 300 ribu. Yang paling mahal mencapai Rp 8 juta sapai Rp 9 juta. Itu body berbahan dasar lego yang di dalamnya dipasang mikrokontroler sebagai otaknya. Otaknya ini bisa diprogram. Misalnya disuruh jalan atau angkat barang atau yang lainnya,” katanya.
Mikrokontroler itu kemudian dipasang pada Printed Circuit Board (PCB). Alat ini lantas diprogram dengan memasukkan coding sebagaimana tujuan dibuatnya robot menggunakan aplikasi Arduino.
Arduino merupakan board open source hardware dan software sistem minimum mikrokontroler yang sangat fleksibel serta memiliki banyak fasilitas. “Ada Arduino Uno. Ada juga Arduino Nano. Jadi, coding dan robotika sebenarnya satu kesatuan. Coding adalah perintahnya, sedangkan robot adalah produk fisiknya,” jelas Gamma. (gus/rud)
JENIS ROBOT
Industrial Robot
Merupakan robot yang dibuat khusus untuk membantu proses produksi di suatu pabrik.
Service Robot
Berfungsi mempermudah manusia dalam melakukan tugasnya.
Robot Science
Robot yang dibuat untuk membantu melakukan riset-riset guna mengembangkan ilmu pengetahuan.
Robot Entertainer
Merupakan jenis robot penghibur.
Sifat Robot
Fixed Robot
Merupakan robot yang memiliki ruang kerja yang terbatas, sebab stay di tempat.
Mobile Robot
Memiliki ruang kerja yang luas dan dapat bergerak kesana-kemari.