Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Mekanik Motor Balap Probolinggo Melanglang Buana hingga Lombok

Inneke Agustin • Minggu, 14 Januari 2024 | 21:35 WIB
CEK BAN: Ghani Widiyanto mengecek performa ban salah satu motor balap garapannya.
CEK BAN: Ghani Widiyanto mengecek performa ban salah satu motor balap garapannya.

DALAM dunia balap, mekanik tidak sekadar tukang beres-beres tunggangan. Tetapi juga menjadi kunci sukses di balik lintasan. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi balap.

Mekanik menjadi orang penting dalam dunia balap. Berperan mengoptimalkan performa kendaraan dan merancang inovasi untuk meningkatkan daya saingnya.

Tugas ini menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi para pehobinya. Salah satunya seperti dilakukan Ghani Widiyanto.

Pria 51 tahun ini terjun sebagai mekanik motor balap sejak 30 tahun lalu. Melalang buana sampai luar Jawa. Mulai dari Malang, Bali, Lombok, hingga kini menetap di Kota Probolinggo.

PASANG DATA LOGGER: Denny Ahmad, memasang data logger pada motor di bengkel milik Ghani Widiyanto.
PASANG DATA LOGGER: Denny Ahmad, memasang data logger pada motor di bengkel milik Ghani Widiyanto.

Ia kerap menjadi tim mekanik pembalap hingga keluar kota ataupun pulau. Saat itu, ia hanya fokus terhadap motor balap.

Namun, sejak dua tahun lalu mulai menerima obrak-abrik motor umum.

“Sekarang sudah lebih beragam. Mulai dari motor road race, drag, off road, bahkan untuk sepeda motor sunmori atau travelling. Semua kami terima, kecuali motor dua tak,” ujar warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo ini.

Pengguna jasanya berasal dari dalam kota maupun luar kota. Seperti Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Ghani mengatakan, ada sejumlah bagian yang sering diobrak-abrik.

Mulai dari mesin hingga body. Mesin seperti bagian piston hingga klep. Sementara, body seperti ban, velg, dan shock.

 

Motor-motor tersebut lantas dilakukan uji dynotest hingga uji emisi. Dynotes bertujuan menguji performa mesin kendaraan dengan cara melihat power (tenaga) dan torque (torsi).

“Sebab, setiap kelas balap memiliki spesifikasi motor masing-masing, sehingga dengan dynotest tadi, harapannya bisa diketahui apakah motor tersebut mumpuni mengikuti kelas race itu,” katanya.

Menurut Ghani, dalam sebuah race, performa kendaraan tak dapat dikira-kira melalui feeling. Namun, harus dengan teknologi yang dapat menganalisi kondisi kendaraan sebenarnya.

“Bukan dari hasil kira-kira. Kira-kira kuat, kira-kira cukup kencang. Tapi, dari dynotest itu memang bisa diketahui, oh motor ini kecepatannya masih kurang, masih perlu di-upgrade lagi. Seperti itu,” jelasnya.

Hasil dynotest membantu menentukan langkah selanjutnya dalam reparasi motor balap. Karena itu, mekanik juga dapat melihat dampak langsung dari perubahan teknis pada kinerja kendaraan.

Sementara, untuk alat uji emisi, Ghani membuatnya sendiri. Alat tersebut dibuat dari sensor lamda yang dinamakan air fuel ratio (AFR). Fungsinya untuk mengukur proporsi dan komposisi dari gabungan gas.

DYNOTEST: Denny Ahmad, melakukan dynotest salah satu motor touring.
DYNOTEST: Denny Ahmad, melakukan dynotest salah satu motor touring.

“Ini kemudian dimasukkan ke knalpot. Nanti muncul nilainnya. Untuk motor standar berkisar 14-15 banding 1. Sementara, motor balap nilainya 12-13 banding 1. Kadang kalau terlalu tinggi hasil uji emisinya, bisa jadi tidak diperbolehkan ikut balap,” ujarnya.

 

 

Tak Ragu Rogoh Kocek Dalam-dalam

Seperti kata pepatah, “di mana ada uang, ada kualitas.” Hal tersebut juga berlaku dalam dunia balap motor yang kian kompetitif.

Denny Ahmad, 26, yang juga merupakan seorang mekanik menjelaskan, bahwa hal ini makin relevan bila dikaitkan dengan harga sejumlah sparepart motor balap.

Demi mendapatkan performa maksimal, tak jarang seorang pecinta balap merogoh kocek dalam-dalam. Bersedia menggelontorkan investasi besar, demi memastikan setiap komponen kendaraannya memenuhi standar tertinggi.

Denny juga bercerita bahwa ada salah seorang customer-nya pernah melakukan reparasi motor jenis Yamaha MX King.

Awalnya motor tersebut dibeli seharga Rp 12 juta dalam kondisi bekas. “Lantas dimodifikasi oleh pemiliknya hingga menghabiskan dana mencapai Rp 80 juta,” katanya.

Sejumlah bagian diubah dan ditambah. Mesinnya di-pull-up dari yang awalnya hanya memiliki 150 cc menjadi 300 cc. Juga ditambah sistem data logger pada motor senilai Rp 13 juta.

“Dengan adanya data logger, sama fungsinya seperti black box pada pesawat. Ketika rider sering mengerem di tikungan ataupun rpm kurang tinggi, semuanya terekam. Jadi, rider tidak bisa bohong. Dan itu bisa menjadi fondasi evaluasi nantinya,” katanya.

Denny mengatakan, tidak semua sparepart motor balap berharga mahal. Ada juga yang masih terjangkau. Tergantung merek. Sparepart dari merek terkenal dan terkemuka mungkin cenderung memiliki harga lebih tinggi. Tetapi, seringkali memberikan performa dan kualitas yang unggul.

Ada juga pilihan sparepart yang lebih terjangkau. Namun, performanya setara dengan harganya. “Ya tidak bisa dibandingkan antara yang harga Rp 1 juta dan yang Rp 7 juta. Sama seperti handphone, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” jelasnya.

SINERGI: Ghani Widiyanto dan Denny Ahmad berfoto bersama di bengkel milik Ghani Widiyanto.
SINERGI: Ghani Widiyanto dan Denny Ahmad berfoto bersama di bengkel milik Ghani Widiyanto.

Imron Hamzah, 40, ayah seorang rider terkenal di Kota Probolinggo, Muhammad Nabil Zahsena mengaku mereparasi motor anaknya sesuai spesifikasi dalam peraturan lomba balap. Karena, setiap kelas memang memiliki aturan masing-masing.

“Tidak boleh di bawahnya maupun di atasnya. Kalau di bawahnya, ya bisa-bisa kalah karena motor tak mumpuni. Kalau di atasnya bisa jadi didiskualifikasi karena tak sesuai kelas,” katanya.

Imron mengaku bisa menghabiskan anggaran hingga Rp 25 juta untuk melakukan reparasi satu motor milik Nabil. “Masih ditambah biaya-biaya perbaikan lainnya. Misal ada bagian yang rusak, harus diperbaiki,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#mekanik #Motor balap