DI Indonesia dikenal ada tiga kelompok peternak kambing. Kambing pedaging, kambing perah, dan kambing dwiguna (perah dan pedaging). Sedangkan, kambing etawa merupakan salah satu jenis kambing penghasil susu. Ternyata, hasil penjualan susu lebih menguntungkan dibanding penjualan anakan kambing.
Kambing etawa sendiri berasal dari Jamnapari, India. Impor kambing etawa dilakukan pada saat penjajahan Belanda. Yang ada di Indonesia saat ini merupakan hasil persilangan antara kambing etawa dengan kambing lokal yang disebut kambing Peranakan Etawa (PE).
Setelah diseleksi, saat ini ada jenis kambing PE kaligesing, PE senduro, dan lainnya. Sejauh ini yang banyak dipelihara penghobi berupa kambing PE dengan saanen atau disebur sapera dan peranakan anglo nubian.
Salah seorang peternak kambing etawa, Kristin Dwi Riawati, 55, mengatakan, beternak kambing etawa harus lebih dahulu memastikan indukannya bagus. Sebab, di Indonesia banyak yang sudah disilangkan. Artinya, perlu dipastikan keasliannya.
Misalkan, dilihat dari bibit. Bibit harus dipilih yang baik dan mempunyai ciri khas mendekati kambing etawa. Seperti, bertelinga panjang menggantung, hidung dan muka cembung, leher bergelambir, badan tinggi dan panjang, bulu kaki belakang panjang, dan lainnya.
“Pastikan dulu keasliannya. Namun, semua kambing bisa menghasil susu. Yang paling banyak kambing PE saanen,” ujar warga Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan ini.
Kambing PE memang jenis kambing yang diseleksi dengan tujuan untuk menghasilkan susu dan daging atau tipe dwiguna. Dengan demikian, produksi susu dan daging kambing PE lebih tinggi dibandingkan dengan kambing lokal.
Kristin mengembangkan jenis kambing persilangan baru antara saanen jantan dan PE betina. Kemudian, disebut sapera. Kambing ini lebih ditujukan untuk menghasilkan susu.
Untuk menghasilkan susu yang baik dan melimpak, peternak harus memperhatikan pasokan pakan. Harus lebih baik dibandingkan kambing lokal atau PE. Meliputi hijauan dan konsentrat berkualitas. Kebersihan kandang dan sekitarnya juga harus diperhatikan.
Menurutnya, beternak kambing PE lebih menguntungkan dibanding hewan penghasil susu yang lain. Biaya murah dengan perhasilan besar. Sebab, susu kambing lebih mahal dibanding susu sapi. “Modal sapi banyak. Lebih murah kambing,” kata Kristin.
Pernyataan serupa disampaikan peternak kambing etawa, Muhammad Ircam, 25. Menurutnya, beternak etawan lebih bagus dibandingkan yang lain. Bisa memperoleh pemasukan setiap hari dari hasil penjualan susu. Bahkan, pendapatan penjualan susu jauh di atas pendapatan penjualan anakan kambing.
Pemerahan susu harus dipastikan dulu kebersihannya. Sedikit saja ada bulu kambing, susu itu akan dinilai buruk. Karenanya, kebersihan kambing harus benar-benar terjaga. Apalagi saat melalukan pemerasan susu.
“Pemerahan susu kambing, ya pagi dan sore. Karena susu kambing lebih mudah menyerap bau lingkungan yang kurang baik, maka kebersihan tempat dan lingkungan pemerahan harus lebih baik dibandingkan sapi,” ujar warga Desa/Kecamatan Nguling.
Susu kambing hasil produksi peternak asal Kabupaten Pasuruan, mampu menembus pasar luar daerah. Seperti, Probolinggo, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, dan Madura. Hasilnya juga dinyatakan telah lulus pengujian.
Kristin menambahkan, susu kambing bisa diminum mentah. Susu kambing mentah juga diyakini dapat menjadi obat sejumlah penyakit. Seperti kolesterol, asma, paru-paru, dan lainnya. Bisa juga direbus atau pasteurisasi setelah proses pemerahan, penyaringan, dan penyimpanan.
Boleh Dikawinkan Setelah Berusia 1 Tahun
Perawatan kambing etawa penghasil susu perlu pemdapatkan perhatian khusus. Terlebih soal pakan dan kebersihan kandang.
Kristin Dwi Riawati, 55, mengatakan, nutrisi pakan dan jumlah pemberian harus diperhatikan untuk menghasilkan susu yang baik. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Susu harus bebas dari bau prengus atau khas bau kambing.
Karena itu, kandang harus rutin dibersihkan. Kambing juga harus sering dimandikan. Agar terbebas dari penyakit. Agar beranak pinak dengan baik, kesehatannya harus dijaga.
“Pemeliharaan dan kesehatan yang bagus, otomatis bisa menghasilkan. Prinsipnya cukup pakan dan tersedia pejantan yang dikumpulkan dalam kelompok betina,” ujarnya.
Biasanya kambing mulai dikawinkan laktasi pertama sekitar umur 1 sampai 1,5 tahun. Selanjutnya akan beranak setiap 6 sampai 7 bulan. “Bila kondisinya sehat, hewan apapun akan beranak pinak. Sehat juga mempengaruhi mental. Mental yang baik sudah pasti kambing akan kawin,” ujarnya.
Dibanding kambing jenis lain, menurutnya, kambing etawa cukup terbilang mahal. Kambing yang satu ini selain tubuhnya besar dan bagus, juga bisa banyak memberikan keuntungan bagi peternak. Salah satunya dari susu.
Menurutnya, kambing etawa berusia tiga bulan sudah bisa dibanderol dengan harga mulai Rp 3 juta sampai Rp 3,5 juta. Bila sudah bunting, bisa mencapai Rp 7 juta sampai Rp 9 juta. “Ada yang lebih mahal lagi. Sampai puluhan juta, ya ada,” jelasnya.
Jika ingin dibanderol lebih mahal, kata Muhammad Ircam, penghobi kambing asal Desa/Kecamatan Nguling, kualitasnya harus diperhatikan. Salah satunya bisa diperlombakan atau dikonteskan. “Selain hasil dari susu dan daging atau penjualan, ya begitu. Jika memang ingin lebih, harus dikonteskan. Itupun akan menelan biaya mahal,” ujarnya.
Penyakit yang Harus Diwaspadai
Beternak kambing etawa juga harus paham dengan manajemen kesehatan kambing. Hasil anakan yang bagus tergantung bagaimana kondisi kesehataan indukannya.
Seperti yang diungkap Muhammad Ircam. Pehobi kambing etawa asal Desa/Kecamatan Nguling, ini mengatakan, pengawasan kesehatan harus dilakukan secara rutin. Satu persatu kondisinya harus dicek.
“Namanya hewan, urusan kebersihan tidak akan teratur. Kita yang memelihara siap-siap juga mengurus kesehatan dan kebersihannya,” katanya.
Karenanya, hal yang rutin untuk menjaga kesehatan adalah dengan pemberian obat cacing. Bisa diberikan setiap 6 bulan sekali. Jika ada kejadian, misalkan, mencret atau kasus penyakit kulit kudisan, harus segera diobati.
Katanya, penyakit kambing yang perlu diwaspadai adalah mencret, kembung, kudis atau scabies, dan radang susu atau mastitis. “Rawan sekali penyakit pada kambing,” ujarnya. (zen/rud)
Editor : Jawanto Arifin