GENDANG merupakan alat musik tradisional khas nusantara. Alat musik ini merupakan salah satu instrumen utama yang digunakan dalam ansambel gamelan musik Jawa, Sunda, dan Bali. Meski tergolong tradisional, alat musik ini tetap disukai banyak kalangan.
Gendang dimainkan dengan cara ditepuk menggunakan tangan di bagian ujung. Memukulnya bisa menggunakan alat pemukul khusus gendang atau tangan pemain. Meski dimainkan dengan dipukul, bukan berarti dipukul secara sembarangan tanpa tempo, nada, atau instrumen.
Permainan alat musik ini dapat ditemui dalam sejumlah pertunjukan. Seperti gamelan untuk pertunjukan wayang kulit dan ludruk. Juga sering dimainkan untuk acara-acara tertentu. Berupa jaranan, bantengan, pencak silat, dan lain sebagainya.
“Gendang ini alat musik tradisional. Juga bisa dikatakan sebagai alat musik warisan budaya nusantara,” ujar pemain sekaligus perajin gendang asal Desa Jerukpurut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Bedjo Santoso.
Di Pulau Jawa, konon gendang sudah ada sejak zaman Sunan Kalijogo. Jenisnya beragam. Di antaranya, ada gendang Jawa Timuran, Jawa Tengahan, Jawa Baratan atau Jaipongan, dan Reog. Setiap gendang mempunyai ciri khas bunyi atau nada tersendiri. Bunyi yang dihasilkan terdengar berbeda-beda.
Ketika dimainkan dengan alat musik lainnya, seperti gamelan, jaipongan, jaranan, dan sebagainya, gendang fungsinya sangat penting. Cukup kompleks. “Sebagai pengatur tempo, bisa cepat, sedang, maupun lambat. Juga sinyal gaya, titik awal hingga titik akhir instrumen musik,” ujar pria 56 tahun ini.
Hal senada juga diutarakan Andi Kresdianto, 28, penabuh gendang asal Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Gendang sebagai alat musik tradisional, tidak lapuk dan tergerus oleh zaman. Termasuk di era modern seperti sekarang.
Bahkan, sejauh ini gendang menjadi salah satu alat musik tradisional yang masih disukai dan digandrungi masyarakat. Semua kalangan. Mulai anak kecil, remaja, hingga para sesepuh.
“Gendang ini sebagai alat musik utama, kalau di musik tradisional. Ibarat mobil, gendang itu sopirnya. Jadi, pengendali utamanya gendang,” jelasnya.
Sebagai alat musik tradisional, gendang harus dilestarikan, sehingga Indonesia tidak kehilangan ragam budaya dan alat musik tradisional.
Perhatikan Kualitas Kayu dan Kulit
Gendang banyak diminati masyarakat dari semua kalangan. Sebagai alat musik tradisional, alat musik tepuk ini mudah didapatkan. Harganya terjangkau.
Untuk mendapatkannya, bisa langsung membeli kepada perajin. Juga bisa menuju pusat-pusat kerajinan atau toko alat musik. Harganya terjangkau, antara Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
“Harganya tergantung jenis dan ukuran. Serta, kualitas bahan yang digunakan. Secara umum relatif terjangkau,” ujar perajin gendang asal Desa Jerukpurut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Bedjo Santoso.
Bedjo mengaku selama ini sering membuat gendang menggunakan kayu nangka dan sawo. Menurutnya, dua jenis kayu ini paling cocok untuk gendang. “Kayu nongko dan sawo, selain mudah didapatkan, juga gampang dibentuk. Tidak terlalu keras. Jadi, cocok dibuat gendang,” katanya.
Setelah di tengah-tengah kayu dibuat rongga, kedua ujungnya ditutup menggunakan bam. Bam ini bisa mengunakan kulit sapi, kerbau, ataupun kambing. Biasanya, kulit kerbau sering digunakan untuk bam di bagian yang memancarkan ketukan bernada rendah, sedangkan kulit kambing digunakan untuk chang atau permukaan luar yang memancarkan ketukan bernada tinggi.
“Penentu suara atau nada yang dihasilkan tergantung dari tebal-tipisnya kulit yang digunakan. Kulit sangat memengaruhi enak atau tidaknya. Sehingga, saat pemasangannya harus ekstra hati-hati,” jelasnya.
Jika kulitnya sudah kendor, masih bisa diperbaiki. Agar suara atau nada yang dihasilkan tetap maksimal. Bisa dibawa ke perajin gendang agar kembali prima.
“Sama seperti wayang kulit, tidak hanya dalang saja yang punya wayang kulit. Masyarakat umum juga banyak yang memilikinya. Begitu juga dengan gendang. Juga banyak yang mengoleksi,” ujar penabuh gendang asal Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Andi Kresdianto, 28.
Hindari Tempat Lembap
Sama seperti alat musik tradisional lainnya, perawatan gendang tidak terlalu ribet. Agar awet dan nada yang dihasilkan tetap terjaga, penyimpanan harus diperhatikan. Alias tidak boleh asal-asalan.
“Gendang sebaiknya taruh di tempat kering. Hindari yang lembap. Bisa ditaruh di atas lemari, meja, atau tempat khusus lainnya,” ujar Bedjo Santoso.
Posisi menaruhnya juga diperhatikan. Hendaknya disimpan dalam keadaan tidak berdiri. Lebih lagi bila di bawahnya ada jagrak.
Perawatan tak kalah penting lainnya dan harus hindari adalah menaruh gendang di atas lantai atau keramik secara langsung. “Ini dilakukan supaya kulitnya tidak jamuran dan tidak cepat rusak. Jadi, harus hati-hati. Tidak boleh asal-asalan,” ujarnya. (zal/rud)
Editor : Jawanto Arifin