Sumur sedalam 55 meter itu, digali bukan oleh banyak orang. Hanya dua. Dan dari situlah Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, bermula.
----------------------
Orang-orang menyebutnya Sumur Bujuk. Berada di balik pepohonan, lingkaran batu tak simetris dan berdiameter hampir dua meter, seolah menjadi identitas dari sumur tersebut. Keberadaannya pun masih bertahan, di tengah gerusan zaman.
Sulit membayangkan, sumur sedalam sekitar 55 meter itu, pernah menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi warga dari beberapa pedukuhan.
Airnya tak pernah berhenti mengalir. Bahkan, ketika kemarau panjang datang. Permukaan air di dasar sumur, tetap memantulkan cahaya.
Konon, sumur itu digali bukan oleh banyak orang. Hanya dua. Seorang lelaki yang dikenal dengan panggilan Bujuk Dimah bersama istrinya.
Dalam tradisi Madura, kata bujuk merujuk pada sebutan untuk kakek buyut atau orang yang dituakan dalam silsilah keluarga.
Cerita itu masih hidup dari mulut ke mulut. Tak ada prasasti. Tak ada arsip yang menceritakannya. Yang tersisa, hanya ingatan para tetua kampung.
Menurut penuturan sesepuh desa, Bujuk Dimah dipercaya berasal dari Sumenep. Ia datang bersama beberapa saudara seperjuangannya atas permintaan Adipati Pasuruan, untuk membantu membuka wilayah timur Pasuruan.
Mereka datang menyeberangi laut. Ada cerita naik ikan pari, ada juga yang bilang naik bambu.
“Karena itu, sampai sekarang masih ada pantangan makan ikan pari dan rebung,” tutur Eko Suryono, tokoh masyarakat Desa Sumberanyar.
Ketiganya dipercaya, mendarat di kawasan yang kini menjadi Desa Semedusari. Salah satunya kemudian menetap di Tampung, satu lagi di Alastlogo.
Sedangkan Bujuk Dimah, memilih terus berjalan hingga wilayah yang kini menjadi Sumberanyar.
Di sanalah, ia memulai kehidupan baru. Baginya, sebuah permukiman tak mungkin tumbuh tanpa air. Maka yang pertama kali dibangun adalah sumur.
Masyarakat percaya, Bujuk Dimah menggali menggunakan kapak sederhana, sambil bertumpu pada sebuah batu besar di dasar sumur.
Batu dan kapak itu diyakini masih berada di dalam sumur hingga sekarang, meski sudah tidak dapat dijangkau.
Beberapa dasawarsa kemudian, sumur tersebut menjadi satu-satunya sumber air bagi warga, dari sejumlah pedukuhan di sekitarnya.
Sebelum sumur bor dikenal, hampir seluruh kebutuhan air masyarakat, bergantung pada Sumur Bujuk.
Mereka datang sejak dini hari. Mengisi kendi. Memikul air. Memandikan ternak. Mencuci pakaian. Hingga sekadar berbincang sambil menunggu giliran mengambil air.
“Kalau malam, atau di jam-jam antara waktu magrib hingga isya, baru agak sepi. Selain itu, hampir 24 jam dipakai warga,” tutur Eko, yang juga anggota DPRD Kabupaten Pasuruan.
Suara timba memang sudah lama tak terdengar. Tak ada lagi antrean warga yang bergantian, menarik tali dari bibir sumur.
Kini, hampir setiap rumah memiliki sumur bor maupun jaringan air bersih. Namun di mata warga, Sumur Bujuk tetap menjadi titik awal lahirnya kampung.
“Kalau sumur ini hilang, anak-anak nanti tidak tahu dari mana sejarah desanya dimulai,” katanya. (tom/one)
---------------------
Macha, Langgam yang Menjaga Ingatan
Bulan Suro dahulu selalu membawa suasana berbeda di Gunung Bukor. Sejak pagi, warga berkumpul di sekitar Sumur Bujuk. Sebagian membawa cangkul. Sebagian lagi membawa tali dan ember.
Mereka bergotong royong menguras sumur, yang telah menghidupi kampung selama ratusan tahun.
Tapi, pekerjaan itu lebih dari sekadar membersihkan endapan lumpur. Ada ritual yang menyertainya. Ada doa. Ada pertunjukan wayang kulit. Dan ada sebuah tradisi yang kini nyaris hilang bernama macha.
Eko Suryono, tokoh masyarakat Desa Sumberanyar, mengatakan ritual pengurasan sumur diwariskan turun-temurun, sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan air yang tidak pernah benar-benar kering.
Prosesi dimulai, dengan membakar menyan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat kala itu.
“Asap menyan dipercaya menjadi penanda, ketika para penguras sudah sampai pada batu tempat Bujuk Dimah dulu menggali,” ujarnya.
Setelah itu, dimulailah pembacaan macha. Banyak orang mengira, macha adalah mantra.
Padahal menurut Eko, isinya justru berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon dengan langgam pembacaan yang khas.
“Kalau didengarkan, pasti ada nama Muhammad berkali-kali disebut,” katanya.
Menjelang sore, suasana semakin ramai. Warga mulai menyelipkan uang di sela-sela kitab yang sedang dibaca, layaknya tradisi sawer.
Pembaca macha kemudian membacakan pesan atau ramalan, mengenai kehidupan orang yang menyelipkan uang tersebut.
“Konon, ramalannya banyak yang tepat. Sampai ada yang takut diramal dirinya sendiri, lalu minta dibacakan nasib orang lain,” tutur Eko sambil tersenyum.
Tradisi itu bertahan hingga awal tahun 2000-an. Setelah para pembacanya wafat satu per satu, tak ada lagi generasi yang mampu meneruskan. Kitab-kitab macha pun perlahan menghilang.
Kini masyarakat menggantinya dengan pembacaan Burdah, hataman Al-Qur'an, dan salawat.
Nilainya tetap sama. Mensyukuri tanah dan air yang diwarisi leluhur. Hanya bentuknya yang berubah mengikuti zaman.
“Yang berubah hanya medianya. Rasa hormat kepada leluhur tetap kami jaga,” ujarnya. (tom/one)
----------------------
Lubang Tua Itu Masih Menyimpan Sejarah
Kini Sumur Bujuk tidak lagi menjadi satu-satunya air kehidupan. Suara ember beradu dengan dinding batu telah lama menghilang.
Generasi muda lebih akrab dengan keran air, daripada tali timba. Tapi bagi Eko Suryono, tokoh masyarakat Desa Sumberanyar, justru di situlah tantangan terbesar muncul. Bukan soal menjaga bangunan. Melainkan menjaga ingatan.
Masyarakat, katanya, bisa kehilangan hubungan dengan sejarah kampungnya sendiri. Kalau dibiarkan, Sumur Bujuk hanya akan menjadi lubang tua, yang terlupakan.
“Kami khawatir anak cucu kehilangan jati dirinya, karena tidak mengenal asal-usulnya sendiri,” ujarnya.
Bagi Eko, sejarah bukan hanya cerita masa lalu. Sejarah adalah sumber pembentukan budi pekerti.
Melalui kisah para pendahulu, masyarakat belajar tentang kerja keras, gotong royong, keberanian membuka hutan, hingga cara menghormati alam yang memberi kehidupan.
“Kalau orang tidak tahu dari mana asalnya, dia akan mudah terbawa arus. Tidak punya pijakan,” katanya.
Karena itu, setiap peringatan Bulan Suro masih terus diupayakan, meski pesertanya tidak lagi sebanyak dulu.
Bukan semata mempertahankan tradisi. Melainkan menghubungkan kembali generasi sekarang, dengan jejak para pendahulunya.
Eko berharap, Sumur Bujuk kelak tidak hanya dirawat sebagai situs tua. Tapi juga, menjadi ruang belajar sejarah desa.
Di sana tersimpan jejak pembabat hutan, jejak lahirnya permukiman, jejak bagaimana air menjadi awal sebuah kehidupan.
“Kalau situs seperti ini hilang, bukti sejarah ikut hilang. Padahal sejarah adalah identitas kita,” jelasnya. (tom/one)
JALUR SEJARAH SUMUR BUJUK DIMAH
1. Profil Fisik dan Lokasi
- Lokasi: Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
- Kedalaman: ± 55 Meter.
- Diameter: ± 2 Meter (dengan lingkaran batu tidak simetris).
- Kelebihan: Air tidak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang.
2. Tokoh Pendiri (Asal-Usul)
- Nama: Bujuk Dimah dan istrinya.
- Asal: Sumenep, Madura.
- Misi: Membantu Adipati Pasuruan membuka wilayah timur Pasuruan.
- Alat Gali: Menggunakan kapak sederhana di atas batu besar (diyakini masih ada di dasar sumur).
3. Pantangan Budaya (Mitos Lokal)
Warga dilarang mengonsumsi dua hal ini karena terkait cerita transportasi gaib leluhur saat menyeberangi laut:
- Ikan Pari (cerita naik ikan pari).
- Rebung / Bambu Muda (cerita naik bambu).
4. Fungsi Zaman Dulu vs Sekarang
- Dulu (Hampir 24 Jam): Satu-satunya sumber air minum, mencuci, memandikan ternak, dan tempat bersosialisasi warga dari berbagai pedukuhan.
- Sekarang: Tidak lagi digunakan untuk harian karena warga sudah beralih ke sumur bor dan keran air, namun tetap dirawat sebagai situs sejarah dan identitas desa.
5. Ritual Bulan Suro (Tradisi dan Perubahan)
Setiap Bulan Suro, warga menggelar gotong royong kuras sumur dengan prosesi:
- Asap Menyan: Penanda pekerja sudah mencapai dasar batu tempat Bujuk Dimah menggali.
- Tradisi Macha (Dulu): Pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab Pegon berirama khas, disertai tradisi sawer dan pembacaan ramalan nasib. (Punah awal tahun 2000-an).
- Tradisi Baru (Sekarang): Digantikan dengan pembacaan Burdah, hataman Al-Qur'an, dan salawat tanpa mengubah nilai rasa syukur kepada leluhur.
Editor : Moch Vikry Romadhoni