SETIAP jengkal tanah di Kota Probolinggo menyimpan cerita masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu kisah yang paling melekat di telinga masyarakat adalah sejarah berdirinya Kelurahan Pakistaji di Kecamatan Wonoasih.
Wilayah yang kini padat penduduk dan subur tersebut, dulunya merupakan hutan belantara menakutkan, yang dibuka oleh tiga sosok bersaudara.
Yaitu Bujuk Pakis, Bujuk Rimah dan Bujuk Asih. Nah, Bujuk Rima sebagai salah satu tokoh utamanya.
Berdasarkan cerita rakyat yang mengakar kuat, asal-usul nama Pakistaji diambil dari kondisi geografis masa lampau.
Dahulu kala, kawasan ini adalah hutan lebat yang dipenuhi oleh tanaman pakis liar.



Uniknya, tanaman pakis di tempat ini, memiliki duri yang sangat tajam. Atau dalam bahasa setempat, disebut taji.
Karena karakteristik alamnya yang ekstrem tersebut, para sesepuh terdahulu menamai wilayah ini Pakistaji, yang berarti hutan pakis berduri tajam.
Nikmat, 55, salah seorang warga asli Kelurahan Pakistaji, menuturkan pada mulanya, tidak ada satu pun manusia yang berani menempati wilayah ini.
Kondisi hutan yang liar dan berbahaya, membuat kawasan tersebut terisolasi. Sampai akhirnya, datanglah tiga sosok sakti yang merupakan saudara kandung.
"Menurut cerita orang-orang tua terdahulu, ada tiga sosok utama yang melakukan babat alas di sini. Mereka adalah Bujuk Rima, Bujuk Asih, dan Bujuk Pakis. Ketiganya membagi tugas, untuk membuka wilayah pemukiman, agar bisa ditempati oleh warga," ujar Nikmat.
Dalam pembagian wilayah tersebut, Bujuk Rima bersama Bujuk Pakis, fokus membuka lahan di bagian utara hingga ke bagian tengah.
Sementara itu, saudara mereka yang bernama Bujuk Asih, bergerak mandiri untuk membuka pemukiman di wilayah bagian selatan Pakistaji.
Seiring berjalannya waktu, wilayah Pakistaji yang memanjang dari utara ke selatan ini, berkembang menjadi empat blok utama dengan karakteristik yang unik.
Bagian paling utara, dikenal sebagai Blok Pakis. Karena sejarah vegetasi pakis lebatnya.
Sementara bagian paling selatan, dinamakan Blok Gerdu. Hal ini, merujuk pada banyaknya bangunan pos kamling (gerdu), yang didirikan warga untuk menjaga keamanan wilayah.
Sedangkan blok tengah sendiri, dibagi dua. Untuk utara jalan raya Prof Hamka, disebut Blok Sipon.
Karena adanya bangunan Dam Sipon, yang dibangun oleh zaman Belanda dulu. Sedangkan blok selatan jalan raya, disebut Blok Krajan, karena kepadatan penduduknya.
Nama Sipon sendiri, memiliki benang merah sejarah dengan masa kolonialisme Belanda.
Di wilayah tengah ini, pemerintah Hindia Belanda, dahulu membangun infrastruktur pengairan berupa bendungan besar yang aslinya bernama Bendungan Nippon, serta Bendung Ser-ser.
Kedua bendungan ini dirancang, sebagai sistem pembuangan air untuk mengatasi masalah banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.
"Dulu, lidah warga lokal atau penduduk zaman Belanda, kesulitan mengeja kata Nippon. Alhasil, pelafalannya bergeser menjadi Sipon hingga sekarang. Hebatnya, sampai detik ini, bendungan peninggalan sejarah itu, masih berfungsi dengan sangat baik dan menjadi urat nadi para petani lokal, untuk mengairi area persawahan di Kelurahan Pakistaji," ungkap Nikmat.
Kini, mayoritas penduduk Kelurahan Pakistaji, hidup makmur dengan memeluk agama Islam yang taat.
Meski zaman telah berganti menjadi modern, penghormatan terhadap perjuangan Bujuk Rima, Bujuk Asih, dan Bujuk Pakis dalam menjinakkan hutan pakis berduri, tetap hidup di hati sanubari masyarakat Pakistaji.
Jadi Jujukan Peziarah hingga Luar Kota
Keberadaan makam para tokoh pembuka wilayah (babat alas) di Kota Probolinggo, selalu diselimuti cerita mistis dan daya tarik tersendiri.
Salah satunya adalah makam Bujuk Rima, sosok legendaris yang membabat alas wilayah tengah Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Meski terletak terpencil di area pertanian, makam kuno ini terus mengundang rasa penasaran, bahkan bagi masyarakat dari luar daerah.
Secara geografis, makam Bujuk Rima berada di posisi yang cukup unik. Petilasan keramat ini, terletak di tengah-tengah hamparan area persawahan yang subur. Tepatnya di akses masuk Jalan Sunan Derajat, Kelurahan Pakistaji.
Uniknya, meski dikelilingi oleh lebatnya tanaman jagung milik petani setempat, keberadaan makam tunggal ini, tetap dipertahankan secara utuh.
Hingga saat ini, tidak ada satu pun warga, yang berani membongkar ataupun memindahkan posisi makam tersebut.
Meski tidak terletak di pinggir jalan raya besar, magnet spiritual makam Bujuk Rima, ternyata mampu menembus batas kota.
Hal ini dibuktikan, dengan kedatangan sejumlah orang asing yang sengaja berkunjung ke Kota Probolinggo, hanya untuk mencari titik lokasi makam sang tokoh pembuka adat tersebut.
Nikmat 55, salah seorang warga Kelurahan Pakistaji, membenarkan fenomena unik tersebut.
Ia menceritakan, belum lama ini ada rombongan peziarah menggunakan satu mobil dari luar kota, yang sengaja datang dan menanyakan letak makam Bujuk Rima kepada warga sekitar.
“Tidak banyak dan tidak rutin, orang yang datang ziarah ke makam Bujuk Rima. Tapi anehnya, orang dari luar kota jauh-jauh datang ke sini, khusus mencari makam tersebut,” ungkap Nikmat.
Hingga kini, tujuan dan kepentingan pasti dari para peziarah luar kota tersebut, masih menjadi teka-teki bagi warga lokal.
Beberapa orang menduga, kedatangan mereka berkaitan dengan silsilah keluarga.
Sementara yang lain, meyakini adanya dorongan spiritual untuk menghormati jasa besar Bujuk Rima, dalam sejarah masa lalu.
Keberadaan makam di tengah ladang jagung ini, menjadi bukti nyata. Bahwa jejak sejarah orang terdahulu, tidak akan pernah luntur ditelan zaman. (mas/one)
Menelusuri Jejak Sejarah Kelurahan Pakistaji
Arti Nama Wilayah
· Pakis: Hutan lebat tanaman pakis liar.
· Taji: Duri pakis yang sangat tajam.
Tiga Tokoh Babat Alas
· Bujuk Pakis: Pembuka wilayah utara hingga tengah.
· Bujuk Rima: Pembuka wilayah utara hingga tengah.
· Bujuk Asih: Pembuka wilayah bagian selatan.
Pembagian 4 Blok Wilayah
· Blok Pakis (Utara): Area asal vegetasi pakis lebat.
· Blok Sipon (Tengah-Utara): Lokasi kantor kelurahan baru dan bendungan Belanda.
· Blok Krajan (Tengah-Selatan): Pusat kepadatan penduduk.
· Blok Gerdu (Selatan): Area pertahanan/pos kamling masa lalu.
Situs Sejarah dan Cagar Budaya
· Bendungan Sipon: Infrastruktur irigasi peninggalan Belanda (Dam Nippon).
· Makam Bujuk Rima: Makam keramat tunggal di tengah ladang jagung.
Editor : Jawanto Arifin