DI sudut Dusun Binangun, Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, terdapat sebuah rahasia alam yang masih terjaga keasliannya. Warga menyebutnya Coban Binangun.
Air terjun alami satu-satunya di desa setempat ini, menyimpan perpaduan antara keindahan alam dan kentalnya legenda rakyat.
Memiliki ketinggian sekitar 10 meter, Coban Binangun menawarkan kejernihan air yang luar biasa.
Berbeda dengan air terjun pada umumnya yang debitnya bergantung pada musim, air di sini terus mengalir stabil meski musim kemarau panjang melanda.
Hal ini dikarenakan, sumber airnya berasal langsung dari mata air murni di bagian hulu.

“Warga menyebutnya Coban Binangun, mengikuti nama dusun di sini. Sejak dulu hingga sekarang, kondisinya tetap alami seperti itu,” ujar Kepala Dusun Binangun, Ikhwan.
Namun, daya tarik Coban Binangun bukan hanya soal lanskapnya. Tempat ini menyimpan cerita legenda, tentang Mbah Borimah dan Mbah Robiyah.
Mereka merupakan pasangan suami istri yang dikenal sebagai tokoh ‘babat alas’ atau pendiri Dusun Binangun.
Konon, air terjun ini menjadi lokasi pertapaan kedua tokoh sakti tersebut di masa lampau.
Mitos yang beredar di masyarakat bahkan menyebut, adanya sisi supranatural yang kuat.
"Dipercaya secara ghoib, tempat ini merupakan pintu masuk menuju Air Terjun Putuk Truno di Prigen. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahuinya," ungkap Rohmat, 55, salah seorang warga setempat.
Selain nilai mistisnya, air di Coban Binangun dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.
Beberapa warga dari luar kota, seperti Gresik dan Surabaya, dikabarkan pernah datang untuk mandi ritual, demi kesembuhan penyakit kronis, seperti stroke.
Meski kerap menjadi jujukan para peritual di bulan-bulan tertentu, suasana di lokasi kini lebih tenang.
Hal ini dikarenakan, akses masuk menuju titik air terjun, telah diberi pagar dan gerbang demi keamanan dan ketertiban lingkungan.
Di luar sisi spiritualnya, Coban Binangun tetap menjadi urat nadi kehidupan bagi warga Desa Plintahan.
Aliran airnya yang tak pernah putus, dimanfaatkan secara maksimal untuk sistem irigasi, memastikan lahan pertanian di bawahnya tetap produktif sepanjang tahun.
Bagi pengunjung yang ingin datang, tidak ada pantangan khusus yang memberatkan.
Warga hanya berpesan, agar setiap pendatang tetap menjaga sopan santun dan menjaga kelestarian alam di sekitar air terjun bersejarah ini.
Disolek Menjadi Destinasi Wisata
Menjadi satu-satunya air terjun di wilayah Kecamatan Pandaan, Coban Binangun kini bersolek menjadi destinasi wisata alam unggulan.
Terletak di Dusun Binangun, Desa Plintahan, objek wisata ini menawarkan perpaduan sempurna antara kesegaran air terjun alami dengan suasana pedesaan yang asri dan sejuk.
Meski sempat vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, geliat wisata di Coban Binangun kembali bangkit sejak tahun 2022.
Pengelolaannya yang dilakukan secara swadaya oleh dusun setempat, kini membuahkan hasil dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
"Kami mulai merintis sejak 2019, lalu sempat terhenti karena pandemi, dan mulai aktif kembali tahun 2022 hingga sekarang. Ini menjadi kebanggaan kami, karena merupakan satu-satunya air terjun yang ada di Kecamatan Pandaan," ujar Ikhwan, Kepala Dusun Binangun.
Akses menuju titik air terjun pun, tergolong ramah bagi semua kalangan. Dari loket masuk, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sejauh 50 hingga 75 meter, melalui jalan cor berundak yang tertata rapi.
Sepanjang perjalanan, udara sejuk dan pemandangan hijau siap menyambut para pelancong.
Fasilitas yang disediakan pun, terbilang lengkap untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Mulai dari gazebo untuk bersantai, musala, toilet bersih, hingga deretan warung makanan dan minuman.
Bagi para pecinta fotografi, pengelola juga menyediakan berbagai titik swafoto (spot selfie), dengan latar belakang air terjun setinggi 10 meter tersebut.
Keistimewaan lain dari Coban Binangun, adalah debit airnya yang stabil. Karena berasal dari mata air murni di hulu, airnya tetap jernih dan terus mengalir, meski di tengah musim kemarau panjang.
Hal inilah yang menarik minat wisatawan dari luar kota seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, hingga Mojokerto untuk datang sekadar mandi atau bermain air.
Untuk menikmati keindahan ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Tiket masuk dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp 5.000 per orang.
Sementara untuk biaya parkir, dipatok sebesar Rp 3.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.
Destinasi ini, buka setiap hari dari pagi hingga sore, menawarkan alternatif wisata keluarga yang murah meriah, namun kaya akan nilai sejarah dan keasrian alam. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin