CANDI Jabung merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit di Kabupaten Probolinggo.
Bangunan yang menjadi warisan budaya ini, rupanya menyimpan legenda yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Salah satunya hilangnya kepala kala naga sisi barat candi yang masih menjadi misteri.
Candi yang dibangun begitu megah tersebut berada di Dusun Candi, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Bangunan berkonstruksi bata merah, dengan tinggi 16,20 meter, panjang 13,13 meter dan lebar 9,58 meter.
Dibangun sekitar tahun 1276 Saka atau 1354 Masehi, saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Koordinator Juru Pelihara Candi Jabung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Abdurrahman, 52, mengatakan Candi Jabung merupakan bangunan suci yang memiliki 3 fungsi.
Pertama tempat pemujaan. Kedua, tempat persinggahan para raja dan keluarga kerajaan Majapahit.
Dan ketiga tempat (altar, red) abu jenazah. Konon Abu jenazah Bhre Gundal yang masih keluarga Hayam Wuruk, ditempatkan pada bilik bagian tengah candi induk.
“Candi ini (Jabung, red) merupakan bangunan suci yang dihormati oleh raja dan keluarga zaman kerajaan Majapahit. Bahkan bilik candi menjadi altar abu jenazah,” katanya.
Sebagai bangunan suci, tentunya Candi Jabung begitu dihormati. Candi dibangun tidak sembarangan melainkan dibangun secara khusus. Termasuk relief yang terpahat menghiasi kaki, tubuh, hingga atap candi.
Relief yang menghiasi candi tersebut semuanya memiliki makna. Selain itu, juga terdapat pahatan yang ditambahkan pada tubuh candi. Sehingga, tak sekedar terlihat indah, namun syarat dengan filosofi.
Relief yang ada pada Candi Jabung, seperti relief singa dengan ekor bunga padma atau teratai yang terdapat pada kaki candi.
Relief ini menggambarkan perwujudan watak manusia yang buas, rakus, tamak, dan serakah.
Semuanya seolah-olah akan dihabiskan oleh manusia. Sementara ekor singa tersebut, berupa bunga padma atau teratai yang melambangkan kemakmuran.
Relief singa dengan ekor bunga padma yang posisinya paling bawah pada tubuh candi ini, ditafsirkan semua watak dan tingkah laku manusia.
Pada intinya apa yang dilakukan manusia memiliki tujuan untuk mencapai kemakmuran, ketenangan, dan kepuasan.
Di atas relief singa ini, terdapat relief medallion yang berbentuk bundar. Terpahat makhluk hidup yakni manusia, hewan dan tumbuhan.
Diartikan bahwa makhluk hidup merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Sementara pada tubuh Candi Jabung, terpahat relief tokoh pewayangan Sri Tanjung. Sosok putri yang menawan, sopan dan santun lalu dipersunting oleh seorang pangeran yang tampan, gagah perkasa. Namun kemudian harus mengorbankan dirinya karena telah difitnah.
Sementara pada atap candi terdapat relief kepala kala naga yang ukurannya paling besar di antara relief lainnya.
Relief ini memiliki makna yang amat dalam. Sebab sosok kala naga ini menjadi pelindung atau tolak balak candi yang merupakan bangunan suci.
Kala naga ini dipasang pada 4 penjuru arah mata angin. Mulai dari timur, barat, selatan dan utara.
Uniknya, di setiap relief kala naga, tepat di bawahnya terdapat sebuah batu andesit. Berfungsi sebagai pondasi relief pelindung candi tersebut.
“Kala naga ini menjadi pelindung candi. Struktur Candi Jabung merupakan bata merah, tetapi pada bagian bawah pondasi kala naga ini, justru batu andesit atau batu gunung. Sampai saat ini, masih belum ada yang mengetahui filosofi atau maksud leluhur menempatkan bantu andesit di bawah kala naga tersebut,” ungkapnya.
Hilangnya Relief Kala Naga
Sebenarnya relief candi cukup banyak. Semua relief terpahat mengelilingi candi. Bahkan memiliki makna tersendiri.
Untuk relief paling bawah candi, menerangkan mengenai kehidupan duniawi.
“Tapi relief yang ada saat ini, kondisinya sudah banyak yang aus atau rusak,” kata Koordinator Juru Pelihara Candi Jabung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Abdurrahman.
Ia menambahkan, hal itu dipengaruhi beberapa hal. Mulai tergerus zaman hingga termakan cuaca. Yang masih tampak jelas, relief singa dengan ekor bunga Padma.
Rahman - apaan akrab Abdurrahman-mengisahkan, ada legenda yang hingga kini masih dipercaya dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat setempat. Yakni hilangnya relief kala naga sisi sebelah barat Candi Jabung.
Konon sebelum Candi Jabung masih belum terurus, sekelilingnya dipenuhi oleh tanaman dan pohon liar.
Saat itu, bagian atap candi pernah tersambar petir. Sambaran petir tersebut, tepat mengarah pada relief kala naga yang berada di sisi barat atau bagian depan, tepatnya di atas pintu masuk altar Candi Jabung.
Dentuman sambaran petir tersebut terdengar oleh warga yang bermukim dekat candi.
Penasaran dengan bunyi tersebut, warga lalu mengecek kondisi candi. Rupanya petir tersebut menyambar relief kala naga.
Anehnya, kala naga tersebut hilang begitu saja tanpa bekas. Seolah-olah ada sosok kasat mata mengambilnya.
“Saat petir menyambar candi, warga mencari reruntuhan relief kala naga. Karena posisinya cukup tinggi, mereka mengira reruntuhannya akan jatuh ke bawah. Setelah dicari dengan teliti tidak ada bekasnya. Bentuknya ya seperti saat ini, rata. Relief kala naga seperti ada yang mengambil,” tuturnya.
Setelah beberapa bulan berselang, seorang pengembara datang ke Candi Jabung.
Pengembaran itu, melakukan ritual di candi. Pengembara itu mengatakan mengatakan kepada warga, bahwa kepala kala naga yang hilang, berada di sebuah pulau kecil di sisi timur yang tak lain adalah Pulau Bali.
Kondisi relief masih utuh. Bahkan ada beberapa orang pernah bermimpi, bahwa potongan kala naga tersebut memang berada di Pulau Bali yang merupakan pulau para Dewata.
“Jabung ini merupakan candi bercorak Buddha tapi ajarannya Hindu. Cerita yang melekat merupakan sebuah legenda dari leluhur secara turun-temurun dan diyakini sampai hari ini,” tukasnya. (ar/one)
Editor : Jawanto Arifin