Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Mbah Suryopati, Kiai yang Banyak Melahirkan Ulama di Pasuruan Timur

Fuad Alyzen • Sabtu, 6 Desember 2025 | 18:35 WIB
ZIARAH: Makam Mbah Suryopati di Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan yang menjadi jujukan peziarah.
ZIARAH: Makam Mbah Suryopati di Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan yang menjadi jujukan peziarah.

MBAH Suryopati merupakan tokoh penting di Pasuruan timur. Ia merupakan putra dari pasangan Mbah Hamdani atau Mbah Gedhe yang makamnya di Kota Pasuruan. Mbah Hamdani disebut-sebut merupakan anak dari Mbah Slagah.

Nama Suryopati merupakan julukan untuknya. Sebenarnya, ia bernama Hamdan. Sosoknya, hidup di masa Pangeran Diponegoro, sekitar tahun 1700-an.

Mbah Suryopati bersinggah di wilayah Pasuruan timur. Tepatnya di wilayah Desa Sumberdawesari, Kacamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

Sebelum tampak seperti sekarang, tempat yang ditinggal Mbah Suryopati dahulunya merupakan hutan belantara. Banyak pohon besar, tumbuh memenuhi wilayah Pasuruan timur.

Konon, tidak ada manusia yang bisa memasuki wilayah setempat. Bahkan, tentara Belanda saja, tidak bisa masuk.

Ketika Mbah Suryopati mulai tinggal, pohon di wilayah setempat sempat disebut-sebut mengeluarkan darah saat ditebang.

AKSES: Lokasi menuju makam Mbah Suryopati di Sumberdawesari, Kecamatan Grati. Ia dikenal sebagai kiai karismatik yang banyak melahirkan ulama.
AKSES: Lokasi menuju makam Mbah Suryopati di Sumberdawesari, Kecamatan Grati. Ia dikenal sebagai kiai karismatik yang banyak melahirkan ulama.
MAKAM: Tempat Mbah Suryopati dimakamkan. Sebelum tampak seperti sekarang, dahulu kawasan yang ditinggalinya, merupakan hutan.
MAKAM: Tempat Mbah Suryopati dimakamkan. Sebelum tampak seperti sekarang, dahulu kawasan yang ditinggalinya, merupakan hutan.

Namun, dengan karomah yang dimilikinya, pohon tersebut akhirnya bisa tumbang, ditebang.

Setelah penebangan itulah, mulai banyak masyarakat bermukim. Mayoritas masyarakat masih mengikuti ajaran leluhur, menganut ajaran kejawen.

Mbah Suryopati yang tinggal dengan masyarakat, mulai menebar ajaran Islam. Meski begitu, perjuangannya tidak mulus.

“Bayangkan kala itu, Mbah Suryopati ini menyebarkan ajaran agama Islam, di saat mayoritas masyarakat menganut ajaran kejawen. Bahkan zaman mbah saya saja, masih banyak yang belum Islam,” kata Achmad Khusaeri, 43, yang merupakan keturunan ke-6 Mbah Suryopati.

Lelaki asal Dusun Brandong, Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati ini menguraikan, perlahan masyarakat mulai menganut ajaran Mbah Suryopati. Bahkan orang yang pernah belajar ke Mbah Suryopati menjadi ulama besar.

Salah satunya Abu Zdarrin. Dia menguraikan pada buku yang ditulis oleh Ponpes Sidogiri itu menjelaskan, ketika itu Abu Zdarrin diutus ke Pasuruan timur, tepatnya di Grati. Ia pernah belajar agama ke Mbah Suryopati.

Dahulu yang masih masa kerajaan, tempat pembelajaran agama masih berupa padepokan. Masyarakat mulai banyak yang menganut ajaran Islam.

“Dan masa hidup Mbah Suryopati sama dengan zaman Mbah Wongsopati. Wongsopati ini, kepala desa nya Suryopati, kiyainya di wilayah ini,” paparnya.

Menurutnya, istri Mbah Suryopati ini, juga merupakan cucu Mbah Slagah. Hubungan Mbah Suryopati dengan istrinya masih sepupu.

Melahirkan anak, yang keturunannya mayoritas memiliki lembaga dan yayasan.

“Banyak pondok di Pasuruan yang didirikan oleh keturunannya. Selain itu, banyak kiai kampung yang belajar di sini,” kisahnya.

 

Jadi Jujukan Peziarah

Makam Mbah Suryopati berada di Dusun Brandong, Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati.

Di sebelah selatan makam, terdapat rel dan jalan tol. Sampai saat ini, masyarakat Grati dan sekitarnya masih berziarah setiap hari.

Rel tersebut terbangung, disebut-sebut setelah wafatnya Mbah Suryopati oleh Belanda.

Informasinya, dahulu Belanda menggambarkan desainnya di lahan makam.

Konon saat proses pembangunan, lahan di makam Mbah Suryopati tak terlihat pada teropong milik Belanda. Dan diarahkan ke selatan Makam.

“Jadi yang tampak di selatan makam. Akhirnya Belanda membangun rel melengkung,” ujar Achmad Khusaeri.

Hingga saat ini, makam Mbah Suryopati menjadi jujukan peziarah. Setiap hari, peziarah berdatangan. Biasanya, mulai Magrib hingga Subuh.

Ia menambahkan, ada kejadian, di mana seorang warga Grati mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.

Tidak lama, orang tersebut bermimpi. Dalam mimpinya itu, ada sumber air di utara danau Ranu Grati.

Tak lama kemudian, orang itu bertanya ke salah satu keturunan Mbah Suryopati. Ia diarahkan untuk berkunjung ke makam Mbah Suryopati.

Setiap hari, habis salat Subuh, orang tersebut berkunjung hanya untuk tawasul. Beberapa bulan kemudian bisnisnya jaya kembali. “Masih ada orangnya sampai sekarang, orang Sumberdawesari sendiri,” ujarnya.

Hal yang sama kemudian terjadi pada seorang warga Desa Segoropuro, Kecamatan Rejoso.

Dengan tekunnya, orang itu berkunjung untuk bertawasul. Akhirnya penyakit sembuh. “Ini juga orangnya masih ada,” kata dia.

Selama ini, kata Juru Kunci makam Mbah Suryopati, belum pernah menemukan orang yang berziarah untuk minta pesugihan. Semua peziarah hanya membaca Surat Yasin dan Tahlil. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pasuruan #sejarah #ulama #kiai #legenda