Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Desa Tamansari dan Makam Gunung Pandek di Probolinggo, Meleburnya Dua Desa hingga Tempat Pemakaman Wali Agung

Inneke Agustin • Sabtu, 1 November 2025 | 20:35 WIB
PEMBABAT ALAS: Makam Mbah Selo dan Nyai Sari di Dusun Bukolan, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.
PEMBABAT ALAS: Makam Mbah Selo dan Nyai Sari di Dusun Bukolan, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

DESA Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, memiliki kisah yang panjang.

Sebelum menjadi seperti sekarang, konon dulunya desa setempat merupakan dua desa yang dilebur menjadi satu.

Hal ini seperti yang dilansir dari skripsi berjudul Membangun Ketahanan Keluarga Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Di Desa Tamansari Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo karya Luluk Amalia.

Disebutkan bahwa Desa Tamansari mulanya merupakan dua Desa yaitu Desa Gunung Pandak dan Desa Kepel.

Di mana Desa Gunung Pandak dipimpin oleh Mbah Selo sebagai pembabat alas Desa Gunung Pandak, dan Desa Kepel dipimpin oleh Nolo Setro.

Namun karena di Desa Gunung Pandak sering terjadi “Carok“ (perkelahian, red) maka setelah para petinggi dari kedua desa tersebut meninggal, masyarakat menghendaki adanya peleburan dua desa antara Desa Kepel dan Desa Gunung Pandak.

Dan segera diadakan pemilihan calon petinggi untuk memimpin kedua desa tersebut. Kala itu, pemilihan dimenangkan oleh Bapak Saba’i.

KERAMAT: Perangkat Desa Tamansari saat berfoto di depan Makam Mbah Wali Agung Raden Joyo Laksono di Gunung Pandek, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.
KERAMAT: Perangkat Desa Tamansari saat berfoto di depan Makam Mbah Wali Agung Raden Joyo Laksono di Gunung Pandek, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Sementara nama Tamansari dipilih karena desa ini, memiliki sebuah taman yang indah dan dipenuhi dengan bunga-bunga.

Sementara di tengah taman terdapat mata air yang jernih di mana banyak angsa putih yang berenang.

Sejak pemerintahan Desa Tamansari terbentuk, kepala desanya masih merupakan keturunan dari Mbah Selo maupun Nolo Setro.

Dimulai dari Kepala Desa Saba’i, Temo, Saputri, Mustari Hadi Purnomo, Tahir Suwandi, Sudiono, Misnawi dan yang sekarang Soetadji.

Kasi Pembangunan Desa Tamansari, Totok Kiswanto mengatakan, Mbah Selo dan istrinya, Nyai Sari merupakan orang asli daerah Batu Ampar, Kabupaten Pamekasan, Madura. Saat pertama kali membabat alas, mereka memulainya dari Dusun Bukolan.

“Kata orang-orang sepuh dulu, saat babat alas, celuritnya itu bisa motong sendiri,” katanya.

Ada juga makam yang tak kalah keramatnya. Yakni makam yang dipercaya merupakan keponakan dari Mbah Selo, yaitu Bujuk Sigumbing dan Kyai Ridin.

“Makam Kyai Ridin ini kalau orang yang bisa melihat, katanya keluar cahaya sampai ke langit. Makam seluruh pembabat alas di sini sengaja tidak diberi bangunan tertutup. Semuanya terbuka, karena petunjuk dari juru kuncinya dulu. Mintanya didesain mirip seperti di Sunan Ampel, terbuka. Mungkin agar lebih mudah bila ingin berdoa di sini, kan kalau Jumat Legi di sini rutin ada pengajian,” papar Totok.

 

Makam Wali Agung di Gunung Pandek

Di atas Gunung Pandek, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo berdiri makam Mbah Wali Agung Raden Joyo Laksono.

Salah satu pegiat sejarah Kabupaten Probolinggo, Abdul Rohman mengatakan bahwa Gunung Pandek merupakan bagian dari gugusan Gunung Bentar.

Menurutnya, Gunung Pandek terbentuk, setelah sebuah batu meteorid jatuh menghantam Gunung Bentar hingga membantu dua anak gunung. Salah satunya Gunung Pandek.

“Kalau daerah di sekitarnya, dulu bernama Desa Sempulungan. Lalu lambat laun berganti menjadi Desa Dringu. Luas wilayahnya ya meliputi Kecamatan Dringu sekarang ini,” katanya.

Pada masa penyiaran Islam, Gunung Bentar terutama Gunung Pandek memang sering menjadi jujugan para wali agung untuk beristirahat.

Lokasinya yang nyaman dan pemandangannya ynag indah, membuatnya cocok untuk dijadikan lokasi persinggahan.

Hingga suatu hari, ada salah satu dari para wali agung ini meninggal dunia di daerah tersebut dan dimakamkan di atas Gunung Pandek. Dialah Mbah Wali Agung Raden Joyo Laksono.

“Lalu pada masa penjajahan Belanda yang datang ke Kota Probolinggo, daerah tersebut dijadikan pemukiman yang juga disebut Kampung Belanda,” tutur pria yang akrab dipanggil Eko ini.

Sementara juru kunci makam, Artumin, 55, mengatakan bahwa makam Mbah Wali Agung Raden Joyo Laksono ini, biasanya ramai ketika malam Jumat.

Biasanya orang-orang ke sana untuk bertawasul. “Permintaannya mereka juga beragam. Ada yang hanya berdoa, tapi ada juga yang mungkin minta hal lain,” beber dia. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kabupaten probolinggo #wali #sejarah #makam #desa tamansari