DESA Guyangan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Tak sekadar nama, desa di lereng Pegunungan Argopuro itu, ternyata erat kaitannya dengan kisah rombongan prajurit Majapahit yang singgah berabad-abad lalu.
Menurut Kepala Desa Guyangan, Hasyim, rombongan prajurit Majapahit kala itu, ditugaskan untuk mengontrol wilayah kekuasaan kerajaan.
Dalam perjalanan, beberapa prajurit memilih berhenti di sebuah tempat yang memiliki sungai dengan aliran deras.
Sungai itu dianggap ideal untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
“Setiap hari, para prajurit itu memandikan kudanya di sungai. Kegiatan itu dilakukan secara rutin dan menjadi perhatian warga sekitar. Dari situlah muncul kata nguyang atau memandikan, yang kemudian berkembang menjadi nama Guyangan,” jelas Hasyim.
Sejak itu, nama Guyangan melekat sebagai identitas wilayah. Sungai yang digunakan prajurit tersebut, ternyata berhulu pada sebuah air terjun indah yang kini dikenal dengan nama Air Terjun Jaran Goyang.
“Air terjun ini bukan hanya cantik secara visual. Tapi juga, punya cerita sejarah yang membuatnya berbeda dari air terjun lainnya. Jadi, Guyangan bukan sekadar destinasi wisata alam, tapi juga menyimpan nilai budaya dan sejarah Majapahit,” tegas Hasyim.
Kini, keberadaan Air Terjun Jaran Goyang menjadi ikon wisata Guyangan. Pemandangan alam yang masih asri, dipadukan dengan kisah masa lalu, menjadikan lokasi ini kian menarik.
Wisatawan bisa menikmati gemuruh air, kesejukan udara pegunungan, sekaligus mengingat jejak prajurit kerajaan yang pernah singgah di tempat ini.
“Kami ingin kisah asal-usul Guyangan ini tetap hidup, terutama bagi generasi muda. Sejarah harus berjalan beriringan dengan perkembangan wisata, agar desa kami punya identitas kuat,” ungkap Hasyim.
Menjelma Menjadi Destinasi Wisata Hits
Tak hanya menyimpan sejarah Majapahit, kini Desa Guyangan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, menjelma menjadi salah satu destinasi wisata alam favorit di Kabupaten Probolinggo. Beragam fasilitas ditawarkan.
Mulai dari glamping di kaki Gunung Argopuro hingga Taman 99 yang unik dengan koleksi tanaman langka.
Menurut Kepala Desa Guyangan, Hasyim, konsep wisata di Guyangan memang dirancang berbeda.
“Kami tidak hanya mengandalkan air terjun, tapi juga menghadirkan fasilitas modern yang bisa dinikmati semua kalangan. Salah satunya Glamping Argopuro,” ungkapnya.
Glamping (glamour camping) menjadi pilihan wisatawan yang ingin merasakan suasana berkemah di alam terbuka, tanpa harus meninggalkan kenyamanan.
Dari tenda glamping, pengunjung bisa menikmati panorama pegunungan sekaligus udara sejuk khas Krucil.
Tak kalah menarik adalah Taman 99, yang berada di jalur sebelum masuk area air terjun.
Sesuai namanya, taman ini ditanami 99 jenis buah dan tanaman. “Taman 99 bukan hanya tempat bersantai, tapi juga edukasi. Wisatawan bisa belajar mengenal berbagai jenis tanaman,” terang Hasyim.
Daya tarik wisata Guyangan, terbukti mampu menyedot banyak pengunjung. Setiap akhir pekan, ratusan wisatawan memadati kawasan ini.
Mereka datang dari berbagai daerah. Tak hanya dari Probolinggo tetapi juga Lumajang hingga Pasuruan.
“Alhamdulillah, saat weekend pengunjung bisa mencapai ratusan orang. Kehadiran wisata ini, juga membawa dampak positif bagi warga sekitar. Karena mereka bisa berjualan makanan, minuman, maupun buah-buahan,” tambah Hasyim.
Dengan kombinasi wisata alam, sejarah, dan edukasi, Guyangan kini kian dikenal luas.
Desa ini bukan sekadar tempat singgah, tetapi destinasi lengkap yang siap bersaing dengan wisata-wisata unggulan lain di Jawa Timur.
“Harapan kami, Guyangan bisa terus berkembang. Tidak hanya terkenal di tingkat lokal, tapi juga di level nasional,” ulas Hasyim dengan optimistis. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin