Jabatan Bupati Pasuruan sempat mengalami kekosongan pada era 1930-an. Sebelum akhirnya, kekosongan itu diisi RT Bawadiman Kartohadiprodjo.
Dalam pencalonan, gubernur saat itu sebenarnya lebih memilih kerabat mantan Bupati Pasuruan sebelumnya yang saat itu menjabat anggota dewan (Volksraad), R.A.A Soejono.
----------------------
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan Bupati Pasuruan baru ditunjuk 24 Maret 1932. Yaitu Mas Kartohadiprodjo alias Bawadiman.
Sebelumnya, ia adalah patih di Kabupaten Sidoarjo. Ia dianugerahi gelar bangsawan Raden dan gelar resmi Tumenggung.
Sehingga dikenal Raden Tumenggung Kartohadiprodjo (RT Kartohadiprodjo).
RT Kartohadiprodjo dilahirkan 25 Desember 1886 di Rembang, Jawa Tengah. Ia menapaki karir di pemerintahan dari bawah.
Sejak 24 Desember 1904 sampai 25 Mei 1906, ia menjadi asisten juru tulis Bupati Tuban.
Selanjutnya, menjadi juru tulis Wedana Jatirogo dan pada 1908 menjadi mantri polisi. Pada 24 Mei 1911, ia diangkat menjadi Asisten Wedana Todanan, di Kabupaten Blora.
Pada 16 Oktober 1915, ia diangkat menjadi jaksa di Pengadilan Negeri Blora.
Lalu, pada 1916, Kartodiprodjo melanjutkan sekolah di Sekolah Tata Usaha Negara hingga 1918.
Setelah itu, ia menjadi wedana di Rembang. Pada 1920 dipindah ke Panolan di Cepu. Dilanjutkan menjadi patih di Bojonegoro pada 24 September 1924.
Pada 1926, selain jabatan tersebut, ia juga ditugasi menjadi pengawas PNS di Bojonegoro.
Hingga 12 Juli 1930 kemudian, ia diangkat menjadi pemimpin sensus penduduk. Tidak lama berselang, pada 27 Oktober 1930, ia dipindah menjadi patih di Sidoarjo.
"RT Kartohadiprodjo ini berbeda. Biasanya, bupati saat itu dipilih dari keturunan bupati sebelumnya. Sebelum menjadi bupati, ia adalah Patih di Sidoarjo," jelas Budiman. (riz/one)
-----------
Kematian Mendadak Sang Bupati
Masa jabatan RT Kartohadiprodjo tidak lama. Ia hanya menduduki kursi Bupati Pasuruan, selama 16 bulan.
Sebab, ia wafat mendadak. Kepergiannya cukup mengagetkan keluarganya. Bupati ini meninggal dunia saat sedang tidur.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, Kartohadiprodjo dilantik sebagai bupati pada 23 April 1932 di Pendopo Pasuruan.
Upacara pelantikan dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Godefridus Hendricus de Man.
Sejumlah bupati hadir dalam pelantikan. Mulai dari Bupati Malang, Surabaya, Kediri dan Jombang.
Namun, masa pemerintahannya tidak lama. Pada Rabu pagi, 18 Oktober 1933, ia meninggal dunia secara mendadak.
Selama hidupnya, ia dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat. Perbuatan terakhir yang disaksikan keluarganya, adalah ia menunaikan Salat Subuh, beberapa jam sebelum ia wafat. Kartohadiprodjo meninggal dunia dalam posisi sedang tertidur.
Istrinya, Raden Ayu sempat menyangka ia masih tidur. Namun, ia menemukan suaminya sudah wafat.
Kabar wafatnya bupati secara mendadak disambut geger dan haru oleh masyarakat pribumi dan Eropa di Pasuruan.
"Kematian bupati membuat masyarakat kaget. Semalam sebelum wafat, ia sempat mengadakan pesta Patih Pasuruan yang dimutasi ke Bangkalan," jelas Budiman.
Kartohadiprodjo wafat dalam usia 47 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan tujuh orang anak.
Yang tertua bersekolah di Batavia (Jakarta) di Sekolah Tinggi Hukum . Sementara yang paling bungsu baru berusia 2,5 tahun. Pemakaman dilakukan di hari berikutnya, sekitar pukul 10 pagi.
Ia dimamkan di pemakaman pribadi keluarga, Algadrie di Pasuruan yang disebut juga Astana Kadipaten. Sebidang tanah kecil yang di atasnya terdapat beberapa kuburan.
Banyak rangkaian bunga dan telegram yang diterima di Kabupaten Pasuruan.
Dikirim oleh rekan, pejabat hingga lembaga. Baik dari dalam maupun luar negeri.
"Saat usungan jenazah dibawa keluar, santri, bangsawan hingga masyarakat bergantian membawa jenazahnya. Seolah ingin memberikan penghormatan terakhir," tutur Budiman.
Makam Bupati Pasuruan asal Rembang ini, bisa ditemukan di komplek makam yang dikenal oleh masyarakat sebagai Makam Turba.
Berada di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Masih satu komplek makam dengan Habib Alwi Assegaf.
Dalam prasasti makam itu tertulis R.T Bawadiman Kartohadiprodjo (25 Desember 1885 - 17 Oktober 1935).
Meski begitu, berdasarkan sumber data dari koran lama, seharusnya tanggal lahirnya adalah 25 Desember 1886. Sedangkan tanggal wafatnya dapat dipastikan pada 18 Oktober 1933. (riz/one)
Editor : Fahreza Nuraga