DESA Besuk merupakan salah satu desa di Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
Menurut cerita turun temurun, dahulu ada sosok pembabat alas yang lantas menjadi kepala desa pertama di desa ini. Masyarakat akrab menyebutnya Bujuk Rengsa.
Menurut keterangan salah satu sesepuh di desa setempat, Mansur, 74, Mbah Bujuk Rengsa merupakan warga Madura yang merantau ke tanah Jawa.
Semula ia tinggal di daerah Pandaan. Namun karena di sana memiliki kontur tanah yang naik turun, sehingga kurang cocok bila dijadikan pertanian.
“Akhirnya ia pindah ke sini bersama seorang perempuan,” tuturnya.
Mansur menceritakan, perempuan tersebut merupakan istri seseorang di Pandaan.
Namun karena rasa cintanya kepada Bujuk Rengsa, ia rela meninggalkan suaminya untuk kemudian ikut ke Kabupaten Probolinggo.
Cikal bakal desa dimulai dari daerah yang dahulu disebut Jatian, kini disebut Dusun Nangka di Desa Besuk.
Disebut Jatian, karena memang daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon jati.
“Bahkan Bujuk Rengsa dan istrinya saat pertama kali datang ke sini, tinggalnya di atas pohon. Sebab di sini, masih hutan belantara dan banyak harimaunya. Namun setelah adanya Bujuk Rengsa, hewan buas itu pergi semua,” terangnya.
Lambat laun, Bujuk Rengsa memiliki keturunan. Di daerah tersebut tumbuh subur dengan pertanian sebagai penopang kehidupan.
Ia lantas dinobatkan sebagai kepala desa pertama di daerah tersebut tanpa adanya pemilihan.
“Karena masyarakat mempercayakan hal tersebut kepadanya. Akhirnya, ia memimpin sebagai kepala desa dengan jumlah warga sekitar 172 orang saat itu,” ujarnya.
Sepeninggalan Bujuk Rengsa, tongkat kepemimpinan dialihkan pada sang menantu yang bernama Romisi.
Saat itu, penduduk sudah bertumbuh menjadi 500-an orang. Setelahnya, dilanjutkan oleh Marni. Baru kemudian Genaryo yang dipercaya sebagai kepala desa.
Genaryo merupakan kepala desa satu-satunya yang bukan merupakan keturunan atau keluarga dari Bujuk Rengsa.
Ia pun merupakan warga dari luar Desa Besuk. Konon, siapapun yang menjadi kepala desa di Desa Besuk, haruslah merupakan keturunan atau keluarga asli dari Bujuk Rengsa. “Sebab kalau bukan, biasanya tidak bertahan lama,” ujar Mansur.
Benar saja, hanya 4 hari menjabat kepala desa, Genaryo mengalami nasib naas. Ia meninggal usai ditembak oleh seseorang.
Sehingga kepemimpinan Desa Besuk harus dilanjutkan oleh Murjani. Selanjutnya, Basman.
“Lalu ada Bongso dan Abu Kertowibowo yang menduduki kursi kepala desa. Keduanya ini masih keluarga dari Bujuk Rengsa. Bahkan keduanya, menjabat sebagai kepala desa seumur hidup hingga meninggal dunia. Baru kemudian, digantikan oleh Madris. Lalu Husen Siswanto selama 3 periode dan adiknya, Nur Arifin,” kisah Bendahara Desa Besuk, Muhammad Badrun.
Meski demikian, ada hal unik lainnya yang diakui oleh masyarakat setempat. Bahwa kepala desa setempat, dipercaya biasanya memiliki pasangan lebih dari satu.
“Mungkin karena dari awal mula cerita kepala desa pertama, jadi sepertinya menitis ke kepala desa setelahnya,” kata Badrun dan Mansur sambil tersenyum.
Sang Pawang Hujan Sakti
Selain Bujuk Rengsa, ada pula satu makam yang dikeramatkan masyarakat di Desa Besuk, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
Yakni makam Bujuk Presi atau Kresi yang berada di Dusun Nangka.
Sekretaris Desa Besuk, Heri Abdullah mengatakan, Bujuk Presi dahulu dikenal sebagai pawang hujan sakti mandraguna di wilayah setempat.
Ia memiliki rumah yang tak beratap. Namun saat hujan mengguyur, tak setetes air pun membasahi bagian dalam rumahnya tersebut.
“Bahkan kalau ada orang yang hendak menggelar hajat, harus izin atau pamit terlebih dahulu ke sana. Bawa nasi tumpeng yang nantinya didoakan dan dimakan di sana. Kalau tidak, nanti hajatnya tidak sukses karena turun hujan,” terangnya.
Dahulu juga ada cerita di kalangan masyarakat, semasa hidup Bujuk Presi pernah mengawal sebuah acara pernikahan.
Karena waktu itu pernikahan masih dilakukan secara sederhana, orang-orang melakukannya dengan jalan kaki dari rumah mempelai satu ke rumah mempelai lainnya.
“Kebetulan saat itu musim hujan. Jadi sudah mendung mau hujan. Oleh Bujuk Presi diminta kasih kepala dan buntut sapi. Itu hujannya ada di belakang rombongan pengantinnya. Jadi pengantinnya tidak kehujanan,” ujar Heri.
Kini makam Bujuk Presi juga sering menjadi jujugan warga. Terutama saat hendak melakukan hajatan.
Meski demikian, Heri mengatakan bahwa bila masyarakat hendak melintas di makam tersebut, minimal harus bertawasul atau baca doa terlebih dahulu.
“Atau permisi, anak cucunya ingin lewat begitu. Kalau tidak demikian, biasanya kendaraannya akan mati. Saya pernah merasakan demikian. Bawa pikap, mati sendiri saat melintas di sini. Padahal jalannya menurun, tidak nanjak,” sampainya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin