Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Kentongan Lembu Suro di Kota Probolinggo, Alat Komunikasi Tradisional yang Dipercaya Berkekuatan Gaib

Inneke Agustin • Sabtu, 5 April 2025 | 17:25 WIB
SAKRAL: Prosesi jamas pada acara Belah Jimat Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
SAKRAL: Prosesi jamas pada acara Belah Jimat Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

SEBUAH kentongan bersejarah, tersimpan di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Kentongan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tradisional.

Tetapi juga menyimpan cerita panjang yang berkaitan dengan kepemimpinan desa dan perlindungan masyarakat sejak masa kolonial.

Kentongan tersebut dikenal dengan nama Kentongan Lembu Suro.

Menurut Rudi Purwanto, pegiat sejarah di Kelurahan Mangunharjo, kentongan ini dibuat pada tahun 1918 oleh Lurah kedua Mangunharjo, Misrun, yang dijuluki Lembu Suro.

Julukan tersebut diberikan karena keberaniannya membunuh perampok sakti yang sering meresahkan wilayah Belo’an, yang kini dikenal sebagai Kelurahan Sukoharjo.

KOKOH: Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
KOKOH: Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
BERGAYA: Sejumlah masyarakat saat berfoto di depan Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
BERGAYA: Sejumlah masyarakat saat berfoto di depan Kentongan Lembu Suro yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

"Pembuatan kentongan ini merupakan instruksi dari pemerintah kolonial, yang mewajibkan beberapa desa di Jawa Timur memiliki kentongan berukuran besar," jelas Rudi.

Kentongan Lembu Suro, terbuat dari kayu nangka. Benda tersebut memiliki diameter sekitar 70 sentimeter.

Awalnya hanya difungsikan sebagai alat peringatan dini atau titir bagi masyarakat.

"Ketika ada bahaya, kentongan ini dibunyikan dengan kode tertentu sebagai tanda peringatan," tambahnya.

Namun dalam perjalanannya, kentongan itu difungsikan banyak hal. Selain sebagai tanda bahaya, kentongan ini juga berperan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Setiap kali ada pertemuan penting atau hajatan desa, perangkat desa akan dipanggil dengan suara kentongan.

Menariknya, menurut cerita turun-temurun, jika ada perangkat desa yang pura-pura tidak mendengar bunyi kentongan, mereka bisa mengalami ketulian.

"Ketulian ini baru akan sembuh jika mereka meminum air bunga yang diletakkan di bawah kentongan," ungkap Rudi.

 

Kekeramatan Kentongan Lembu Suro

Pada awalnya, kentongan ini memiliki keris keramat yang tertanam di lidah macannya.

Namun, pada masa kepemimpinan Lurah keempat, Anom Rantimin, keris tersebut dilepaskan. Meski demikian, kentongan ini tetap dianggap bertuah oleh masyarakat.

Kentongan Lembu Suro di Kelurahan Mangunharjo bukan sekadar alat komunikasi tradisional.

Masyarakat setempat percaya bahwa kentongan ini memiliki nilai spiritual dan kekuatan gaib, yang masih terasa hingga kini.

Setiap tahun, pada malam 1 Suro atau 1 Muharram, kentongan ini menjalani ritual jamasan dalam acara yang dikenal sebagai Belah Jimat.

Sebelum dikirab, kentongan ini didoakan dan dimandikan menggunakan air dari tujuh sumber mata air, serta bunga tujuh rupa.

"Prosesi ini dilakukan untuk menjaga kesucian dan tuah kentongan agar tetap membawa kebaikan bagi masyarakat," jelas Rudi Purwanto, pegiat sejarah Kelurahan Mangunharjo.

Selain itu, dalam upacara ini, juga disertakan sesajen berupa tujuh jenis hasil bumi serta bubur lima warna.

Sajian tersebut diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga gaib yang diyakini masih menaungi kentongan ini.

Mitos lain yang berkembang adalah keberadaan sosok macan kumbang yang sering terlihat di sekitar kentongan, terutama pada malam-malam tertentu.

Beberapa warga mengaku pernah melihat makhluk tersebut, seolah menjaga kentongan ini.

Masyarakat juga percaya, bahwa kentongan tidak boleh dimainkan sembarangan tanpa alasan yang jelas.

"Jika ada orang yang main-main memukul kentongan tanpa keperluan, biasanya mereka akan mengalami kesialan. Seperti jatuh sakit atau bahkan kesurupan," kata Rudi.

Meski zaman terus berkembang, Kentongan Lembu Suro tetap menjadi simbol kearifan lokal di Kelurahan Mangunharjo.

Tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menyimpan sejarah, mitos, dan kepercayaan masyarakat dari masa ke masa. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#tradisional #suro #lembu #kentongan #sejarah #gaib