Sumberdawesari merupakan salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.
Sebelum seperti sekarang, Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, memiliki kisah unik yang panjang. Keberadaannya, tak bisa dipisahkan dari dua senopati yang berasal dari Banyuwangi.
---------------------
Dua senopati yang dimaksud, adalah Wongso Pati dan Suryo Pati. Konon, keduanya merupakan senopati asal Banyuwangi yang memiliki misi khusus.
Yakni menyelamatkan Pangeran Diponegoro yang saat itu dibawa oleh tentara Belanda.
Rencananya, Belanda mau mengasingkan Pengeran Diponegoro ke daerah Maluku. Namun, misi kedua senopati itu gagal.
Karena Pangeran Diponegoro sudah dibawa jauh naik kapal dari pelabuhan Banyuwangi. Akhirnya kedua Senopati ini kembali pulang ke Mataram.
Di tengah perjalanan, keduanya sempat singgah di daerah Kadipaten Klindungan.
Kebetulan, daerah ini merupakan naungan kerajaan Mataram, yang nama adipatinya adalah Raden Mas Sigit. Lokasi senopati singgah itu, berada di Desa Ranuklindungan.
“Makanya, ada nama Mesigit di bukit atas Danau Ranu Grati,” sebut Sekretaris Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Naim.
Keduanya kemudian memutuskan untuk tidak pulang ke Mataram. Karena itu oleh Raden Mas Sigit, mereka diberikan tanah perdikan, yang tempat itu dikenal dengan nama Mblerah.
“Dahulu, tanah perdikan ini, diseut-sebut juga tempat petilasannya Gajah Madah. Dan dikenal dengan tempat penyembelehan Baruklinting,” imbuhnya.
Dari situlah, senopati yang bernama Wongso Pati, putra selir Darui Hamongko Buwono I dan senopati Suryo Pati yang dikenal sebagai Mbah Sayid Hamdan, memutuskan tinggal di daerah tanah singgahannya.
Mereka tinggal di tanah perdikan, yang berada di Sumberdawesari, Kecamatan Grati.
Hingga akhirnya, mereka menikah dan memiliki keturunan. Garis keturunan Wonso Pati, bergelut di dunia pemerintahan.
Ada yang sampai menjadi kades. Sementara keturunan Suryo Pati, banyak melahirkan ulama di wilayah Pasuruan Timur.
Banyak yang beranggapan, dahulu Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, dikenal angker dan menyeramkan.
Konon, banyak kejadian gaib di wilayah setempat. Salah satanya, terjadinya insiden tank amphibi dari Yon Zipur 10 yang tenggelam di danau masuk wilayah Desa Sumberdawesari.
Namun saat ini, Desa Sumberdawesari sudah ramai dan maju. Bahkan, masuk predikat sebagai desa mandiri.
“Ini sesuai data dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Pasuruan,” sampainya. (zen/one)
--------------------------
Melebur Menjadi Satu Desa
Nama Sumberdawesari sebenarnya lahir pada tahun 1922 silam. Sebelumnya, tanah desa setempat, terbagi menjadi tiga desa.
Yakni Desa Sumber Topeng, yang kala itu dipimpin oleh Karnawi sebagai kepala desa. Dan dilanjutkan oleh Tandan Dirjo Atmojo.
Lokasi desa ini, berada di bagian Desa Sumberdawesari sebelah utara.
Lalu, ada Desa Dawe, yang saat itu dipimpin oleh Kair Kerto Miharjo. Lokasi desa ini, berada di tengah Desa Sumberdawesari atau disebut Krajan.
Terakhir, Desa Jatisari yang kadesnya waktu itu, bernama Wongso Arjo. Lokasinya, berada di sebelah selatan Desa Sumberdawe saat ini.
Sekretaris Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Naim menjelaskan, tiga desa itu sudah ada sejak kisaran tahun 1856-an.
Atas persetujuan semua pihak dan difasilitasi pemerintah Hindia Belanda waktu itu, pada tahun 1922, ketiga desa ini kemudian di-marger atau digabung menjadi satu.
Dengan nama awalan Sumber yang diambil dari nama Desa Sumber Topeng. Kemudian juga mengambil dari nama Dawe.
Terakhir ditambah Sari, nama itu diambil dari nama Desa Jatisari. “Akhirnya, jadilah Desa Sumberdawesari pada waktu itu,” jelasnya.
Untuk menentukan kepala desa pertama kali, usai terbentuk Sumberdawesari, diadakanlah pemilihan kepala desa, dengan calon dari ketiga pimpinan desa sebelumnya.
Dari Desa Sumber Topeng, diwakili oleh Kades Dirjo Atmojo. Sementara dari Desa Dawe, diwakili oleh Kades Kair Kerto Miharjo dan dari Desa Jatisari diwakili Wongso alias Sunarto.
Waktu itu, yang terpilih menjadi Kades Sumberdawesari dari Desa Dawe, Kades Kaor Kerto Miharjo.
Setelah penentukan kepala desa, ditentukan pula kantor pemerintah desa, yang akhirnya diputusan di wilayah Dawe.
“Namun yang pasti, berdirinya Sumberdawesari, tak luput dari perjuangan tokoh yang disebut berasal dari kerajaan Mataram tersebut,” bebernya.
Naim mengatakan, peninggalan dari pembabat alas desa, sebenarnya ada. Bahkan, banyak.
Namun, semuanya lenyap, usai dimusnahkan ketika perang kemerdekaan. Beberapa gapuro kuno yang berdiri pada jalan masuk desa, serta beberapa punden yang tidak terawat menjadi penanda adanya sejarah.
“Banyak sebenarnya peninggalan sejarah tentang Sumberdawesari ini. Tapi hampir semuanya hilang karena dimusnahkan. Yang tersisa hanyalah punden,” ujarnya. (zen/one)
-----------------
Jadi Jujukan Peziarah
Makam kedua tokoh penting di Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Mbah Wongso Pati dan Mbah Suryo Pati dianggap keramat bagi banyak orang. Tak heran, jika banyak masyarakat berdatangan untuk berziarah.
Tidak hanya dari sekitaran Pasuruan. Tetapi juga, dari luar daerah. Sekretaris Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, Naim mengungkapkan, seperti makam keramat pada umumnya, banyak pengunjung yang bertujuan mencari keberkahan.
Terutama orang yang ingin terlaksana hajatnya. Misalnya ingin cepat kaya.
Selain itu, ada pula yang mengincar pusaka di makamnya Mbah Suryo Pati. Konon, di makam setempat, ada banyak pusaka yang bisa didapatkan.
Mulai dari keris, tombak dan cemethi hingga benda-benda peninggalan Mbah Suryo yang lain.
“Bahkan pernah ada orang yang sempat mengincar beberapa batang emas. Tapi tidak tahu, apa ada yang berhasil atau tidak,” sampainya.
Naim menambahkan, ada satu tradisi yang masih digelar di Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati.
Namanya Districan. Suatu budaya yang dilaksanakan pada bulan Suro. Yaitu tasyakuran masyarakat di sekitar Danau Ranu.
Mereka berharap diberikan kemurahan rezeki. Berupa hasil tangkapan ikan di Danau Ranu yang terletak di Desa Sunberdawesari.
Rasa syukur itu berupa selamatan dan larung sesajen di Danau Ranu tersebut. Menu khusus disiapkan.
Yakni Begagak Larang yang disebut-sebut menjadi makanan kesukaan dari Joko Baru alias Baruklinting.
“Selain larung sesajen, juga ada acara pagelaran kirap budaya dan pagelaran wayang semalam suntuk,” paparnya.
Juru Kunci Makam Wongso Pati, Rasad, 67, mengatakan, sejak dahulu makam Wongso Pati tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi, ketika malam Jumat Legi.
Mereka yang datang, bukan hanya dari wilayah sekitar. Tetapi juga luar daerah.
Kondisi makam Wongso Pati, dulunya dipenuhi makam warga sekitar. Namun saat ini, yang tersisa hanyalah makam Wongso Pati dan keluarganya.
Karena saat menggalali dua kali cangkulan, tanahnya sudah keluar air. Jadi warga memutuskan untuk memindahkan makam umum di lokasi lain.
“Bahkan dahulu kondisinya tidak seperti sekarang. Dahulu banyak pepohonan. Dan lokasi makam Mbah Wongsopati dikenal angker,” sampainya. (zen/one)
Editor : Fahreza Nuraga