NGULING merupakan salah satu nama desa yang ada di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Penamaan Nguling sebagai sebuah desa, bukan asal begitu saja. Ada kisah panjang yang menyelimutinya.
Mungkin, tidak banyak yang tahu, mengapa desa setempat dinamakan Nguling. Konon, nama Nguling berasal dari kata Oling.
Yakni nama seekor ikan oling atau sidat berukuran raksasa, yang dulunya membuat masyarakat resah.
Keresahan itu muncul, lantaran ikan tersebut memiliki ukuran dua kali lipat lebih besar dibandingkan manusia dewasa.
Ikan oling atau sidat ini, kerap memangsa hewan ternak warga. Hingga suatu hari, masyarakat berhasil membunuhnya.
Dari situlah, namanya dikenang. Masyarakat terbiasa menyebut lokasi di sana dengan sebutan Oling.
Kala itu, banyak masyarakat dari Jawa Tengah dan Madura yang datang merantau ke wilayah setempat.
Agar memudahkan penyebutannya, huruf awalan, berupa O berubah menjadi U. Akhirnya menjadi nama Uling.
Ditambah lagi, masyarakat Jawa Tengah sering menambahkan kata Ng pada awal nama Uling tersebut. Akhirnya, masyarakat mengikutinya dan terbiasa dengan sebutan Nguling.
“Bukan masyarakat lokal setempat, yang mencetuskan nama Nguling. Nama Nguling itu muncul, karena keterbiasaan masyarakat menyebut nama berdasarkan kisah ikan oling yang sering memangsa ternak. Bahkan manusia,” kata Kepala Desa/Kecamatan Nguling, Edi Suyitno.
Kisah itu terjadi, pada tahun 1700-an. Di sana, terdapat sumber air yang tanahnya sangat becek.
Bila diinjak, tanahnya akan menelan benda apapun. Lokasi itu berada di RT 1/RW 13, Dusun Gunungan, Desa/Kecamatan Nguling.
Karena selalu keluar air dan tak pernah surut, akhirnya terbentuk muara yang mengarah ke utara.
Nah, di sumber itu lah, yang menjadi tempat hunian bagi ikan oling yang sering memangsa ternak.
Masyarakat dibuat resah karenanya. Karena hewan ternak sering hilang. Dan diyakini dimangsa ikan oling.
Bahkan, bukan hanya hewan ternak. Warga juga menduga, ikan oling juga memangsa manusia.
Karena, ketika ada orang hilang, warga mendapati jejak kaki orang pada area sumber tersebut.
“Di sekitar sumber banyak kuburan. Salah satunya, kuburan potongan kaki manusia yang diduga dimakan ikan oling,” imbuhnya.
Hingga pada suatu malam, ikan tersebut mulai menampakkan diri. Kala itu, dalam suasana dingin, terdengar anjing menggonggong.
Anjing tersebut disebut-sebut berada di sebuah aliran sungai tepi sebuah sumber. Warga menyebut lokasi setempat, Tumenggungan yang kini menjadi permukiman.
Juga adanya bangunan RPH. Masyarakat kemudian juga menyebutnya Jagalan. Mbah Senapon salah satu tokoh pada zaman itu di wilayah setempat, mendengar gongongan anjing itu. Dan berpikir, anjing itu pasti melihat sesuatu yang aneh.
Karena penasaran, Mbah Senapon menghampiri datangnya suara gongongan anjing tersebut.
Ternyata, suara itu berasal dari lokasi yang dikenal angker. Yakni sebuah sumber, di mana ikan oling besar hidup.
Di sana Mbah Senapon dibuat kaget setengah mati. Setelah melihat seekor ikan yang mirip dengan belut.
Namun memiliki bentuk besar, seukuran pohon pinang, tepat berada di depannya berdiri.
Mbah Senapon berlari ketakutan sambil berteriak "Ada Oling, ada Oling !!.." Sehingga malam itu, membuat penduduk setempat geger, usai mendengar teriakan Mbah Senapon.
Karena membahayakan, masyarakat termasuk Mbah Senapon yang merupakan asli warga desa setempat berdiskusi.
Hasilnya, disepakati untuk segera membunuh ikan oling tersebut. Agar tidak lagi ada korban.
Karena penduduk setempat yakin, kalau oling itulah yang memakan ternak mereka. Termasuk anak kecil yang dinyatakan hilang.
Masyarakat bersiap untuk membunuhnya, ketika ikan oling menampakan diri. Namun, sampai beberapa hari, Oling tersebut tidak kunjung keluar dari lubang sumber tersebut.
Hingga datanglah pengembara yang berasal dari Madura. Kebetulan, sedang lewat wilayah setempat.
Setelah mengetahui keresahan penduduk setempat, akhirnya pengembara memberi saran agar memancingnya.
Waktu itu juga, disusunlah rencana untuk memancing keluar Oling besar itu.
Persiapan pun dilakukan dengan menggunakan umpan darah hewan ayam dan kambing. Juga abu dari kayu bakar.
Rencana itu pun digelar bersama. Darah hewan disebar ke utara aliran sungai pada sumber tersebut. Sementara penduduk setempat, menunggu dengan hati cemas.
Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya ikan oling muncul dari persembunyiannya. Ikan tersebut mengikuti bau darah yang disebar. Menjauh dari lubang huniannya.
Warga kemudian menaburkan abu kayu bakar pada bekas jalan Oling tersebut. Dengan harapan, Oling tidak bisa kembali ke lubangnya. Usai menyantap umpan, ikan Oling itu hendak pergi ke persembunyiannya.
Namun, abu bakar yang ditebar, ternyata membuatnya kesulitan. Saat itulah, pengembara dari Madura mengkomandoi masyarakat, untuk beramai-ramai membunuh Oling besar tersebut.
Dengan kerjasama yang baik, ikan oling tersebut akhirnya tak berdaya. Dan berhasil dibunuh oleh warga.
Karena kisah itulah, masyarakat lalu menyebut lokasi di desa setempat dengan sebutan Uling.
Hingga akhirnya, nama Uling berubah menjadi Nguling. “Sampai saat inipun, Oling masih ditemukan oleh penduduk Desa Nguling, yang menggali di aliran sungai itu. Walau tidak sebesar yang dibunuh oleh leluhur kami,” ungkap dia.
Kisah ini juga dibenarkan Sugeng Siswoyo 66, sebagai keturunan ke-empat Mbah Senapon. Menurutnya, di sekitar sumber banyak pohon besar. Dan memang dikenal angker.
Bahkan saat dirinya kecil, di sumber ini masih banyak pohon. Kala itu, tidak ada orang yang berani melintas di kawasan sumber setempat. Meski saat ini, bekas lubang sumber tersebut, sudah tidak ada.
“Tidak ada yang berani, Mas. Meski ceritanya sudah mati, tapi jika ada yang berani ke sana, konon orang tersebut akan mati,” kata warga yang rumahnya 50 meter ke barat dari bekas sumber tersebut.
Berbeda dengan sekarang, kini lokasi sumber itu sudah menjadi pemukiman. Bahkan, bekas lubang sumbernya hilang tertutup tanah.
Dicari sampai sekarang belum ditemukan. “Dahulu, saat saya masih kecil, sisanya masih ada. Sekarang sudah hilang,” tandasnya sembari menunjukkan lokasi lubangnya.
Sosok Mbah Senapon yang Dikenal Sakti
Mbah Senapon termasuk salah satu tokoh yang disegani di Desa Nguling pada zamanya.
Jasanya bukan hanya dikenal lantaran berhasil membongkar misteri ikan oling. Dia salah satu dalang yang membinasakan ikan oling.
Makamnya tidak jauh dari lokasi sumber tersebut. Sekitar 200 meter ke utara. Namun kini, makamnya sudah tak terlihat lantaran sering diterjang banjir saat musim hujan.
“Makamnya ada. Hanya saja sudah sejajar dengan tanah. Karena sering terdampak banjir,” kata Sugeng Siswoyo, 66, keturunan ke-empat Mbah Senapon.
Dahulu, Mbah Senapon merupakan tokoh penjinak keris. Di lokasi yang angker, jika sudah ditarik kerisnya, akan tidak lagi angker. Salah satunya, cerita sumber yang dihuni ikan oling tersebut.
Namun, keris yang disimpannya, tidak mau diturunkan pada anak cucunya. Menjelang kematiannya, Mbah Senapon sengaja mengembalikan benda pusaka itu, ke lokasi sebelumnya. Sebab, ia khawatir anak turunnya tidak akan kuat mengendalikannya.
Mbah Senapon juga diwarisi baju perang oleh ayahnya. Konon baju perang terebut, digunakan berperang melawan penjajah bersama Pangeran Diponegoro.
Namun tidak digunakan Mbah Senapon. Dan masih diturunkan pada anaknya.
Dan saat ini, baju perang itu sudah tidak ada lagi. Oleh cucu Mbah Senapon, Kartono yang merupakan ayah Sugeng, baju perang itu dikubur dalam tanah.
Sebab, baju itu tidak pernah digunakan meski zaman Kartono berperang melawan Belanda.
Sosok Mbah Senapon merupakan orang yang penyabar. Dia selalu menyembunyikan kelebihannya.
Dan memang tidak pernah menampakannya. Mbah Senapon memiliki karomah berdasarkan cerita dari teman-temannya.
Sempat Jadi Jujukan Peziarah dan Cerita Wayang
Karena ketokohannya, makam Mbah Senapon dulunya kerap dijadikan jujukan peziarah.
Bahkan, masyarakat merayakan setiap malam Jumat manisan dengan memainkan wayang cerita tentang pemusnahan ikan oling di lokasi tersebut.
Namun, kondisi itu saat ini berbeda. Makam Mbah Senapon kini sudah tak tampak lagi. Sehingga, tidak ada lagi peziarah yang mengunjungi makamnya.
“Dahulu, memang banyak orang ke sini, untuk berziarah. Bahkan, ada tradisi main wayang, untuk mengenang Mbah Senapon. Tapi, sekarang tidak ada lagi,” terang Sugeng Siswoyo, 66, keturunan keempat Mbah Senapon.
Kepala Desa Nguling/Kecamatan Nguling, Edi Suyitno menambahkan, cerita itu memang benar adanya dari beberapa sumber sesepuh di Desa Nguling. Bahkan, logo di wilayah ini adalah ikan oling atau sidat.
“Itu di Jalan Raya Pasar Nguling terdapat tugu ikan oling. Karena nama Nguling berdasarkan kisah ikan oling dan Mbah Senapon,” ulasnya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin