Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tradisi Upacara Adat Unan-Unan, Ritual Penyucian Agar Mendapatkan Keselamatan Hingga Kesejahteraan

Inneke Agustin • Sabtu, 30 November 2024 | 20:50 WIB
TOLAK BALAK: Warga Sapikerep saat menggotong kerbau sembelihan. Kerbau dijadikan salah satu persembahan untuk menolak balak. Karena dalam mitologi, kerbau dianggap sebagai tunggangan Dewa Kebijakan.
TOLAK BALAK: Warga Sapikerep saat menggotong kerbau sembelihan. Kerbau dijadikan salah satu persembahan untuk menolak balak. Karena dalam mitologi, kerbau dianggap sebagai tunggangan Dewa Kebijakan.

DESA Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, memiliki tradisi unik. Tradisi itu dilakukan setiap lima tahun sekali. Namanya, Unan-Unan.

Dalam penyelenggaraannya, ada ritual khusus yang dilakukan, termasuk penyembelihan kerbau.

Unan-Unan berasal dari kata Una (Bahasa Jawa Kuno) yang berarti bulan yang berkurang.

Sementara menurut Bahasa Tengger, Nguna artinya menarik atau melengkapi bulan yang hilang agar kembali utuh.

Jadi, Unan-Unan itu bermakna mengganti hari yang berkurang di tiap bulan selama lima tahun.

IRING-IRINGAN: Para warga saat mengikuti iring-iringan dalam kegiatan Unan-Unan. Ada yang menabuh gamelan hingga alat musik lainnya.
IRING-IRINGAN: Para warga saat mengikuti iring-iringan dalam kegiatan Unan-Unan. Ada yang menabuh gamelan hingga alat musik lainnya.
SENANG: Kegembiraan warga Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura saat berebut mendapatkan ubo rampe dalam upacara adat Unan-Unan.
SENANG: Kegembiraan warga Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura saat berebut mendapatkan ubo rampe dalam upacara adat Unan-Unan.

Ketua Lembaga BPD Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Siswowinardi mengatakan upacara adat Unan-Unan ini, biasa dilakukan setiap lima tahun sekali.

Upacara Unan-Unan dilakukan dengan cara sedekah bumi, sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kenikmatan yang telah diberikan pada masyarakat.

“Biasa ditebus dengan cara menyembelih kerbau. Kepala kerbau lantas ditanam di punden desa atau di tengah desa. Selain itu, kami juga mempersembahkan ubo rampe yang jumlahnya serba seratus. Seperti tumpeng 100 biji, kacang-kacangan 100 ikat, daging 100 irisan, pisang 100 sisir, sate 100 tusuk, dan 100 bunga,” tuturnya.

Kerbau dijadikan kurban, dikarenakan binatang yang memiliki karakter atau kepribadian yang agung, kuat dan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kerbau secara mitologi, sebagai tunggangan Bathera Yama Dewa Keadilan atau Dewa Kebijakan.

“Seluruh ubo rampe ditempatkan di panggung-panggung yang kemudian dibacakan doa oleh dukun. Setelah itu, ubo rampe dibawa ke pepunden dengan diiringi tetabuhan gamelan. Selanjutnya, dukun akan memimpin mantra kedua yakni mantra membersihkan desa. Baru kemudian ubo rampe yang telah didoakan itu, dibagikan kembali kepada warga untuk kemudian dibawa pulang dan ditanam di rumah agar tanah atau ladang mereka bersih dan tanamannya subur. Malamnya ada kesenian tandak,” terangnya.

Unan-Unan bagi masyarakat Suku Tengger adalah upacara yang melekat. Meski tak diatur khusus dalam sebuah perundang-undangan.

Sebab, masyarakat meyakini bila upacara ini tidak dilaksanakan, maka akan timbul sebuah keburukan atau bencana.

Ia menambahkan, Unan-Unan dihitung menggunakan perhitungan tahun Saka. Dahulu, dilaksanakan karena adanya musim pagebluk yang menewaskan banyak masyarakat.

Pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal. Selain itu, tanaman menjadi tidak subur. Lantaran banyak hama yang menyerang tanaman warga.

“Sehingga para nenek moyang mendapatkan petunjuk dari Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, bahwa di tiap bulan ada jumlah hari yang berkurang. Oleh karena itu, perlu adanya sedekah bumi untuk menggantinya serta untuk menyucikan bumi,” jelasnya pria yang juga dipanggil sebagai Ki Ageng Tengger Buwono ini.

BERDOA: Pelaksaan doa bersama yang dilakukan warga Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura dalam upacara adat Unan-Unan.
BERDOA: Pelaksaan doa bersama yang dilakukan warga Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura dalam upacara adat Unan-Unan.
PERAYAAN: Iring-iringan warga dalam merayakan Unan-Unan di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Kegiatan tersebut dilangsungkan lima tahun sekali sebagai bentuk syukur dan cegah tolak balak.
PERAYAAN: Iring-iringan warga dalam merayakan Unan-Unan di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Kegiatan tersebut dilangsungkan lima tahun sekali sebagai bentuk syukur dan cegah tolak balak.

 

Upacara Dipimpin oleh Dukun Pandita

Unan-Unan juga bermakna mengurangi perhitungan bulan atau sasi dalam satu tahun pada waktu jatuh tahun panjang (tahun landhung).

Selama tahun landhung yang biasa disebut tahun Pahing, masyarakat Hindu di Tengger tidak diperkenankan melakukan ritual besar yang sifatnya pribadi atau individual.

Ada tiga hal pokok yang tidak boleh dilakukan selama tahun landhung. Yakni tidak boleh memukul atau nuthuk lambing sunan. Artinya tidak boleh mendirikan bangunan rumah permanen.

Tidak boleh menggelar daun pertra atau mbeber godhong yang artinya tidak boleh mengundang para leluhur atau para atma.

Sehingga dengan demikian, juga tidak boleh melaksanakan walagara pungaran. Serta tidak boleh membunyikan gentha atau nguneken gentha. Yang artinya tidak boleh melaksanakan upacara entas-entas.

Tahun landhung merupakan tahun di mana terjadi tidak keseimbangan alam. Baik secara sekala maupun niskala.

Tahun panjang adalah juga merupakan tahun mala masa atau tahun tidak baik untuk melakukan ritual-ritual penting.

Oleh karena itu, patutlah kiranya bagi masyarakat Hindu di Tengger tidak melakukan ritual-ritual.

Nama hari dalam satu wuku (seminggu) berumur tujuh hari dengan istilah Radite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra dan Tumpek atau Saniscara.

Sementara nama pasaran ada Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Paduan antara hari dalam wuku dan hari dalam pasaran dan tanggal ataupun panglong menghasilkan tiga puluh paduan.

Beberapa nama hasil paduan wuku hari pasaran dan tanggal ataupun panglong pada bulan atau sasi tertentu, dianggap sebagai dina mecak atau nguna ratri yang pada hari tersebut, dua tanggal yang berurutan disatukan, maka pada bulan tersebut hanya terdiri dari dua puluh sembilan hari.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa purnama akan jatuh pada tanggal lima belas (15) dan tilem jatuh pada panglong lima belas (15).

Hal tersebut di atas dasar kenyataan, bahwa lama peredaran bulan dalam satu tahun adalah 354 hari, 8 jam, 48 menit.

Sehingga dalam satu bulan itu, sebenarnya hanya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 36 detik.

Menurut Guru Agama Hindu SDN Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Misjono, upacara Unan-Unan merupakan kegiatan ritual untuk mengadakan bersih desa.

Yaitu membebaskan desa dari gangguan makhluk halus (Bhutakala) atau sebagai tolak balak.

Disamping itu, Unan-Unan digunakan pula untuk permohonan penyucian. Agar terhindar dari segala penyakit dan penderitaan. Serta terbebas dari segala malapetaka.

“Sementara bagi yang masih hidup, bisa hidup sejahtera dan terbebas dari musuh dan gangguan lainnya. Sehingga, dapat hidup sejahtera, aman, dan tentram,” ujarnya.

Dukun Pandita juga membacakan mantra Purwa Bumi Kamulan, yang terdiri dari delapan buah satuan atau lanjaran.

Di mana, masing-masing dibuka dengan kata hong pukulun dan ditutup dengan punika pukulun.

Mantra pertama berisi puja dan maksud persembahan yang disajikan, sekaligus memohon agar terbebas dari segala penderitaan, serta hati nuraninya menjadi bersih dan suci kembali.

Sementara mantra berikutnya, berisi makna permohonan kepada Tuhan untuk disucikan kembali dari segala noda dan dosa.

Serta memperoleh kekuatan batin, terbebas dari segala gangguan, memperoleh nafkah dengan baik, hidup sejahtera dan damai, terlindung dari segala gangguan.

Dengan Upacara Unan-Unan atau Mayu Bumi (Amrastita Bumi) ini, diharapkan agar manusia terbebas dari penderitaan noda dan dosa.

Disamping itu, melalui Upacara Unan-Unan bermakna agar umat manusia seluruh dunia (Lumahing Bumi Kureping Langit) mendapat keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian abadi. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#unan-unan #Tolak Balak #kerbau #sukapura #keselamatan