Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Legenda Desa Kalisalam, dari Sosok Mbah Salam Sang Pembabat Alas Hingga Cerita Keberadaan Ular Baruklinting

Inneke Agustin • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 19:10 WIB
BERDOA: Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59, saat berdoa di petilasan Mbah Salam, di Dusun Wonosalam, Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu.
BERDOA: Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59, saat berdoa di petilasan Mbah Salam, di Dusun Wonosalam, Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu.

KEBERADAAN Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, memiliki sejarah yang panjang.

Pada masa pemerintahan Belanda sekitar tahun 1800, Desa Kalisalam masih berupa hutan belantara.

Hutan ini lantas dibabat dan dijadikan perkampungan oleh sesepuh desa bernama Mbah Salam.

Mbah Salam sendiri merupakan seorang perantau dari daerah Lumajang. Ia berjalan dari arah selatan menuju utara.

Hingga akhirnya, bertemu tepi pantai di Dusun Wonosalam.

“Makanya disebut Wonosalam. Sebab, Wono itu kan artinya hutan belantara yang sulit dilewati orang. Namun akhrinya ditebang oleh Mbah Salam, untuk dijadikan permukiman para saudagar dan awak kapal yang berlabuh. Sehingga disebutlah Wonosalam,” jelas Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59.

Selain Desa Wonosalam, pada masa awal berdirinya Desa Kalisalam, memang terbagi menjadi tiga pedukuhan dengan masing-masing pemimpin.

Yaitu Desa Wonosalam, Desa Gepeng, dan Desa Nangger.

Disebut Desa Nangger, sebab dahulu ada pohon kapuk atau randu berukuran besar.

Saat ini, Desa Nangger berubah nama menjadi Dusun Grogol. Sementara bagian Desa Nangger yang memiliki banyak langgar atau musholla, kini disebut sebagai Dusun Langgaran.

“Sementara untuk Desa Gepeng, tidak ada yang tahu pasti asal muasal nama tersebut. Namun bila dilihat dari bahasa, Gepeng ini kan artinya kurus. Sehingga diduga, menggambarkan kondisi aliran sungai yang menyempit,” tutur Didik.

Didik mengatakan, di Desa Kalisalam, memang terdapat aliran sungai yang mengalir dari utara hingga selatan.

Sungai tersebut dahulunya memiliki lebar sekitar tiga meter. Sehingga dapat dilewati sampan dari arah pantai.

Seiring berkembangnya zaman, alirannya kini telah menyempit.

Di samping itu, aliran sungai tersebut, dipercaya terbentuk dari seekor ular besar atau naga yang terlahir dari kaum manusia.

Ular ini memiliki tanduk atau mahkota di kepalanya. Masyarakat kerap menyebutnya Baruklinting.

“Jadi, bekas lintasan yang dilalui ular tersebut, kemudian menjadi sungai. Sungai ini membentang dari utara ke selatan, sebagai batas antara Desa Kalisalam dan Desa Randuputih,” kisah Didik.

MAKAM: Petilasan Mbah Salam, di Dusun Wonosalam, Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu. Tampak Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59, menata Surat Yasin di makam tersebut.
MAKAM: Petilasan Mbah Salam, di Dusun Wonosalam, Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu. Tampak Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59, menata Surat Yasin di makam tersebut.

 

Tiga Pedukuhan Melebur Menjadi Desa Kalisalam

Seiring berjalannya waktu, ketiga pedukuhan tersebut, kemudian dijadikan satu dengan nama Desa Ngali Salam.

Ngali berasal dari kata Kali atau sungai. Sementara Salam, tetap diambil dari nama pembabat alas desa ini.

Namun tak berselang lama, melalui rembug desa, namanya kembali diganti. Menjadi Kalisalam.

Nama Kalisalam, bertahan hingga masa sekarang. Kini di Desa Kalisalam, terdapat lima dusun.

Yaitu Dusun Grogol, Dusun Kebonan, Dusun Langgaran, Dusun Gepeng dan Dusun Wonosalam

Sejak itu, Desa Kalisalam dipimpin oleh seorang berjuluk Demang. Sekitar tahun 1900-an Desa Kalisalam dipimpin oleh Mbah Singo.

Sepeninggalan Mbah Singo, kepemimpinan dilanjutkan oleh Mbah Joyo, lalu Mbah Parjo dan Mbah Karino.

“Sempat dipimpin oleh Mbah Karno namun hanya setahun. Dari 1945 hingga 1946 saja. Setelah itu, diganti oleh Bapak Mulyo Rejo Rustam. Sayangnya juga meninggal pada 1976,” cerita Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59.

Baru pada 1976, dilakukan pemilihan kepala desa. Didik mengatakan, masih mengingat momen pemilihan pertama kepala desa tersebut.

Ada lima orang calon saat itu. Namun kelima calon tersebut, gagal menjadi kepala desa pada putaran pemilihan pertama.

Ini karena, jumlah suara yang didapat oleh tiap calon, masih belum memenuhi syarat target yang ditentukan.

“Sehingga dilakukan pemilihan ulang. Saat itu, cara pemilihannya bukan dengan cara dicoblos seperti sekarang. Tapi menggunakan tusuk sate yang dimasukkan ke toples. Yang paling banyak dapat itulah yang jadi. Akhirnya terpilih Bapak Purwadi selaku kades saat itu,” jelasnya.

Purwadi berhasil memimpin desa, sejak 1977 hingga 1989. Dilanjutkan Aswari pada 1990 hingga 1998.

MIRIP MUSALA: Bangunan petilasan Mbah Salam yang dirancang mirip musala.
MIRIP MUSALA: Bangunan petilasan Mbah Salam yang dirancang mirip musala.

Di mana, terdapat peraturan baru, bahwa kepala desa dapat menjabat hingga delapan tahun.

Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sambang, mulai 1998 hingga 2014.

“Pada 1998, peraturan berubah lagi. Kepala desa hanya dapat menjabat selama enam tahun. Setelah Bapak Sambang, dilanjutkan oleh Bapak Sukur Susiono yang menjabat sejak 2015 hingga 2021. Terakhir hingga sekarang, dipimpin oleh Bapak Mat Tali,” ungkap Didik.

 

Ramai Saat Malam Jumat Legi

Petilasan Mbah Salam berdiri di tepi pantai di Dusun Wonosalam. Lokasinya bersebelahan dengan petilasan Syekh Siti Jenar.

Menariknya, meski di dekat laut, tanah di sekitar pemakaman tersebut tak pernah terkikis.

“Malah tanah-tanah sawah yang di samping kanan dan kirinya, yang terkikis oleh air laut,” tutur Sekretaris Desa Kalisalam, Kecamatan Dringu, Didik Saturin, 59.

Kata Didik, dahulu makam tersebut masih berupa makam biasa. Tanpa adanya bangunan di atasnya.

Sementara di sekitar makam, ada banyak pohon gayam. Beberapa orang terdahulu percaya, bahwa Mbah Salam seolah tak mengizinkan adanya bangunan di atas makamnya.

“Jadi ketika dibangun, kata orang-orang terdahulu, bangunan tersebut selalu roboh. Mungkin, selalu dicoba kembali oleh masyarakat, dengan memulai dari atap saja, hingga berupa semacam musholla. Sayangnya, kondisinya sempat tak terawat hingga akhirnya kami bangun dengan lebih layak pada 2021 lalu,” jelasnya.

Dahulu makam tersebut selalu ramai ketika menginjak 17 Agustus. Banyak masyarakat yang membawa makanan ke sana untuk sekadar tasyakuran bersama.

“Namun karena sekarang sudah banyak dilakukan di daerah masing-masing, jadi animonya menurun. Kalau dulu sebelum 1995, masih banyak yang ke sini,” kenangnya.

Sementara itu, juru kunci petilasan tersebut, Tuki, 54, mengatakan bahwa makam tersebut masih tetap ramai dikunjungi masyarakat pada malam-malam tertentu.

Seperti malam Jumat Legi. Tak hanya dari dalam kota. Ada juga yang berasal dari luar kota, seperti Yogyakarta dan Jakarta.

“Bukan hanya masyarakat biasa, ada juga para petinggi dari luar kota. Mereka bermunajab di sini, mencari barokah. Kadang hingga bermalam di sini. Bahkan, hingga seminggu,” kata lelaki asal Kecamatan Leces ini.

Tuki menambahkan, pada masa awal ia bertugas, pernah mendapat teguran dari sosok yang dipercayainya sebagai Mbah Salam.

Saat itu, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Banyak makanan yang diberikan warga untuk Tuki.

“Akhirnya saya makan semua makanan tersebut. Kan sayang bila tidak makan. Ternyata saya ditegur oleh mbah. Mbah memberitahu saya, agar jangan makan terus-terusan. Sejak itu, saya tidak sering-sering makan dan lebih banyak mengisi waktu untuk bekerja ataupun berdoa,” akunya.

Tuki juga mengaku, pernah merasa didampingi sosok Mbah Salam ketika dirinya sedang salat di lokasi petilasan. Ketika itu, ia tengah membenahi jembatan di dekat petilasan.

Melihat hari mulai sore, ia menghentikan pekerjaannya. Karena takut, ketinggalan waktu sholat Ashar.

“Buru-buru saya salat. Nah, ketika saya mengucap salam pertama dengan menoleh ke kanan, saya melihat ada orang di samping saya. Namun ketika saya toleh kiri, dan balik toleh kanan, sudah tidak ada lagi,” bebernya.

Tuki berpesan bagi masyarakat yang berkunjung ke lokasi petilasan Mbah Salam dan Syekh Siti Jenar, untuk selalu menjaga sikap.

Jangan takabur ataupun meminta hal-hal yang tidak benar. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#ular #Babat Alas #Pembabat Alas #desa kalisalam #Mbah Salam