SEBUAH makam kuno di RT 8/RW 4, Dusun/Desa Banjarimbo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, diistimewakan oleh warga setempat.
Mereka meyakini, makam tersebut, merupakan milik orang sakti. Bahkan, sosok yang menjadi pembabat alas desa.
Penghuni makam tersebut, disebut-sebut bernama Mbah Rekso. Atau lebih dikenal dengan nama Mbah Raden.
Konon, Mbah Raden merupakan keturunan kerajaan. Ia dipercaya hidup, sejak Islam pertama kali masuk Nusantara.
Di Banjarimbo ia membabat alas membangun permukiman manusia.
Nama Banjarimbo sendiri, juga diambil dari pernyataan Mbah Raden. Banja yang berartikan alas atau hutan.
Sementara Rimbo, adalah hewan yang berjalan. Kawasan setempat, dulunya memang merupakan alas yang banyak hewan.
Dari situlah, akhirnya desa setempat dinamai Banjarimbo.
Bahkan hingga sekarang, hewan liar disebut-sebut masih berkeliaran di wilayah setempat. Seperti harimau ataupun celeng. Warga percaya, Desa Banjarimbo kala itu, merupakan hutan belantara.
Tidak ada permukiman sama sekali. Kehadiran sosok berdarah biru itulah, yang akhirnya terbangun kawasan permukiman di sana.
Mbah Raden mendirikan tempat tinggal. Dari situ, banyak pendatang yang akhirnya tinggal di sana.
Karena kesaktian dan kedermawanannya, banyak masyarakat kala itu, yang mengistimewakannya.
“Sosok Mbah Raden begitu diistimewakan kala itu. Karena ia dikenal sakti, sehingga disegani warga,” ujar Tokoh Desa Banjarimbo, Kecamatan Lumbang, Bahakudin, 52, yang tinggal di RT 4/RW 2, Dusun Kemamang, Desa Banjarimbo, Kecamatan Lumbang.
Menurutnya, Mbah Raden dipercaya hidup di zaman Islam masuk pertama kali di Indonesia.
Kala itu, masyarakat masih menganut agama Hindu, kejawen. Mbah Raden yang menganut agama Islam, bersyiar. Mendakwah untuk mengislamkan masyarakat.
Tak hanya mensyiarkan agama. Sosok Mbah Raden, juga disebut-sebut ikut berperang. Ketika Belanda, menjajah Indonesia. Konon, ia dipercaya juga masih hidup kala itu.
“Cerita ini dipercaya kevalidannya. Bahwa, Mbah Raden hidup selama ratusan tahun. Hanya saja, berapa ratus tahun persisnya, tidak ada yang mengetahui. Orang yang diwariskan cerita ini, sudah meninggal semua,” kisahnya.
Mbah Raden meninggal lama, sebelum akhir penjajahan Belanda. Terbukti, bahwa Mbah Raden juga memerangi Belanda.
Di sekitar makamnya, termasuk pintu masuk ke makam, terdapat banyak bendera Indonesia. Karena memang, ia diyakini melindungi masyarakat, dari penjajahan.
Meski Mbah Raden sudah meninggal dunia, warga masih bernaung padanya.
Ketika terjadi pengejaran tentara Belanda, masyarakat bisa hilang setelah bersembunyi di sekitar makam Mbah Raden. Seolah-olah Mbah Raden masih hidup.
Padahal sebelumnya, dipemakaman Mbah Raden merupakan tempat pemakaman umum.
Dan tidak sesakral setelah ada makam Mbah Raden. Lantaran itu, masyarakat masih beraktivitas atau sering berkunjung ke makam orang pertama di Desa Banjarimbo tersebut.
Namun, lantaran aksesnya jalannya tidak memadai, kini hanya tinggal makam Mbah Raden dan pengikutnya yang tampak.
Makam masyarakat lainnya terdahulu, sudah tak lagi tampak. Karena nisannya yang hanya berupa kayu, sudah habis dimakan rayap.
“Makam orang dahulu kan hanya nisan kayu. Habis sudah. Padahal banyak makam di sana. Tapi terlihat rata,” jelasnya.
Pemakaman umum di Dusun Banjarimbo ini, dipindah ke tempat yang aksesnya bisa dilalui dengan nyaman. Lokasinya tidak jauh dari makam Mbah Raden.
Sementara itu, Nur Salim, 52, yang juga merupakan tokoh di Dusun Banjarimbo menjelaskan, makam Mbah Raden begitu istimewa, karena setelah mendoakan atau tahlil ke makamnya, yang punya hajat diberi kelancaran.
Sesuai dengan cerita pada masa hidupnya. Mbah Raden merupakan orang yang dermawan.
Itu sudah terbukti berkali-kali. Selama ini, banyak orang luar berkunjung ke makamnya. Tak hanya dari warga luar desa.
Tetapi juga, dari luar kota. Mereka datang, karena memiliki keinginan untuk masa depannya.
Seperti melamar pekerjaan hingga hajat keselamatan.
Mereka yang berhasil bernadar ke makam Mbah Raden, menyembelih kambing atau domba untuk dimakan bersama masyarakat sekitar.
“Orang Probolinggo sebelumnya bernadar. Makan bersama di sini,” ungkapnya sembari menunjukan lokasi makan bersama.
Begitu juga dengan orang yang sakit. Masyarakat masih meyakini, kedermawanan Mbah Raden.
Yang setelah mendoakannya, kemudian dihubungkan ke Yang Maha Esa.
Berdasarkan pengakuan banyak masyarakat, tandanya sehari sebelum didatangi Mbah Raden dalam mimpinya, keesoakan harinya bisa sembuh.
“Ini sudah sering terjadi pada masyarakat sekitar,” akunya.
Dikunjungi untuk Minta Berkah
Meski sudah berusia ratusan tahun, makam Mbah Raden belum tersentuh rehab. Hanya catnya saja yang diperbarui.
Kondisinya sama. Menampakkan Banja alias alas dan Rimbo alias hewan yang berjalan. Sekitarnya banyak pohon tua seperti hutan.
Meski tampak seperti hutan, warga sekitar senantiasa memelihara makam tersebut.
Bahkan, ada pendopo yang dibangun. Untuk tempat juru kunci makam berisitirahat.
Tokoh Desa Banjarimbo, Kecamatan Lumbang, Bahakudin, 52, mengatakan tak hanya menyapu area makam, agar tampak bersih.
Tetapi juga, mendoakan. Serta menjaga area makam, agar tampak alami seperti kawasan hutan.
“Perawatannya seperti itu. Agar tetap tampak seperti hutan. Sesuai cerita selama hidupnya,” ujar guru di SMPN 4 Nguling ini.
Makam tersebut, kerap juga difungsikan untuk mengalap berkah. Tak hanya masyarakat sekitar yang datang. Melainkan dari luar Kota.
Namun ada saja orang-orang yang menyalahgunakannya. Ada orang yang meminta pesugihan, kekebalan tubuh dan lainnya.
Nur Salim, Tokoh Desa Banjarimbo lainnya memaparkan, ada saja orang yang meminta pesugihan, lantaran makam Mbah Raden diyakini bisa mewujudkan harapan mereka.
Setiap hari, hampir ada saja yang datang ke makam.
“Entah caranya bagaimana. Namun, yang jelas, kalau kami, ke makam hanya mendoakan. Berharap keberkahan,” bebernya.
Ramai saat Malam Jumat Legi
Hampir setiap hari, ada saja orang yang datang ke makam Mbah Raden.
Mereka datang, untuk beragam tujuan. Berharap berkah, untuk pesugihan serta banyak yang lainnya.
Apalagi, ketika malam Jumat Legi. Kunjungan semakin tinggi.
“Setiap hari, ada saja yang datang. Apalagi, kalau Malam Jumat Legi. Makin banyak pengunjung ke makam,” papar Tokoh Desa Banjarimbo, Kecamatan Lumbang, Bakahudin.
Ia menjelaskan, orang yang berkunjung dengan bermacam niat.
Namun, tak semuanya bisa mendapatkan hasil yang diharapkan. Khususnya, ketika memiliki niat buruk.
Tidak akan mendapatkan apa-apa. Berbeda dengan orang yang tengah kesusahan. Ingin mendapatkan sesuatu yang positif, maka diyakini akan bisa digapai apa yang menjadi harapan.
“Seperti ketika ada orang sakit. Ketika Mbah Raden datang ke mimpinya, ke esokan harinya langsung sembuh. Ini sudah beredar di Desa Banjarimbo,” kisahnya.
Hal itu sudah diakui banyak orang. Bahkan, orang luar kota, juga merasakannya, usai berkunjung ke makam Mbah Raden.
Mereka yang punya hajat, hasilnya positif. Atau orang sakit, bisa sembuh.
Nur Salim, Tokoh Desa Banjarimbo lainnya mengaku, sepengetahuannya yang sering berkunjung ke makam Mbah Raden, rata-rata orang Probolinggo dan Pasuruan Timur.
Setiap mereka datang, terdeteksi warga dari wilayah yang telah disebutkan ini.
Hanya saja, akses jalan ke makam Mbah Raden, sempit.
Jaraknya, sekitar 400 meter dari jalan raya. Dan itu, harus dilalui dengan penuh tantangan. Karena jalannya licin.
“Kalau dulu hanya bisa jalan kaki. Sekarang bisa dilalui motor, tapi harus profesional,” timpalnya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin