Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Dua Pintu Dam Delapan di Kecamatan Maron Yang Dipercaya Keramat

Achmad Arianto • Sabtu, 24 Februari 2024 | 20:55 WIB
KOKOH: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berdiri mengecek aliran air Dam Delapan.
KOKOH: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berdiri mengecek aliran air Dam Delapan.

SIAPA yang tidak tahu Dam Delapan atau Dam Pekalen di Desa Brabe, Kecamatan Maron. Bangunan peninggalan zaman Kolonial Belanda yang usianya nyaris dua abad tersebut, rupanya memiliki sejarah dan cerita yang melekat di masyarakat.

Khususnya, dua pintu dam intake sisi timur si Mayit dan barat si Kemantan.

Dam Delapan atau Dam Pekalen yang dimanfaatkan sebagai pengatur irigasi dari hulu ke hilir, dibangun pada tahun 1825 oleh Belanda.

Dam tersebut memiliki sejarah panjang, bukan hanya sebatas luasan daerah irigasi dan pemanfaatannya.

Tetapi juga, insiden yang pernah terjadi, hingga menjadi tradisi bagi pekerja atau penjaga dam.

SI KEMANTAN: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berada di atas pintu intake nomor dua dari barat bernama si Kemantan.
SI KEMANTAN: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berada di atas pintu intake nomor dua dari barat bernama si Kemantan.

Seperti yang dikisahkan oleh mantan Juru Pengairan Dam Delapan, Satro, 59.

Dari delapan pintu intake yang berjajar dari sisi timur ke barat, terdapat dua pintu yang memiliki nama, lantaran memiliki cerita tersendiri.

Yakni pintu intake nomor dua dari timur yang bernama si Mayit dan pintu intake nomor dua dari barat yang bernama si Kemantan.

“Dari semua pintu intake, hanya dua yang kami hormati dan kami percaya ada

penjaganya. Sebab, memang ada cerita turun-temurun dari penjaga dam sebelumnya,” kata Satro.

Pria yang pensiun Agustus tahun 2023 lalu itu mengatakan, penamaan dua pintu tersebut terjadi sekitar tahun 1960.

Sebelum ada pintu kisi-kisi, yang berfungsi sebagai penyaring air menuju pintu intake.

Pada tahun tersebut, kerap terjadi banjir besar yang terjadi di daerah hulu.

Banjir tersebut menghanyutkan warga yang saat itu beraktivitas di sekitar sungai.

Mengetahui ada orang yang hanyut, warga kemudian melakukan pencarian jenazah.

Pencarian dilakukan oleh belasan orang. Mereka menyusuri seluruh aliran Sungai Pekalen.

Sayangnya, jenazah tersebut tidak ditemukan. Hingga akhirnya, pencairan diperluas sampai dam delapan. Namun, hasilnya juga nihil.

Pencarian tersebut kemudian dibantu oleh pekerja dam delapan. Semua sisi dam delapan, dicek.

SI MAYIT: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berada di atas pintu intake nomor dua dari timur bernama si Mayit. Di pintu inilah setiap tahun dilarungkan kepala kambing hitam polos.
SI MAYIT: Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq berada di atas pintu intake nomor dua dari timur bernama si Mayit. Di pintu inilah setiap tahun dilarungkan kepala kambing hitam polos.

Ternyata, jenazah tersebut, ditemukan menyangkut pada pintu intake nomor dua dari timur.

Hal itu jelas membuat heboh. Mendapati apa yang dicari, pekerja dam bersama warga, langsung mengevakuasi jenazah tersebut, untuk kemudian dimakamkan.

“Jenazah ketemu di pintu nomor dua, dengan posisi menyangkut. Segera, dilakukan pengangkatan oleh pekerja dan warga,” imbuhnya.

Tak hanya jenazah manusia. Pekerja juga sering mendapati bangkai hewan yang menyangkut.

Bukan satu atau dua insiden. Temuan itu, berulang. Hal itulah, yang membuat penamaan si Mayit, diberikan pada intake tersebut.

“Entah kenapa, kalau ada binatang hanyut, pasti ditemukan mati dan menyangkut di pintu nomor dua tersebut,” bebernya.

Satro sendiri, sejak berusia belasan tahun, membantu kakaknya yang saat itu telah menjadi juru pengairan Dam Pekalen.

Hampir setiap hari, ia ikut membersihkan pintu air dari sampah bawaan banjir, batu besar, dan pohon hanyut.

Kemudian pada tahun 1980-an, dia resmi bergabung menjadi juru air.

Sementara, penamaan pintu intake nomor dua dari barat, yang dinamai si Kemantan, memiliki cerita hampir mirip dengan si Mayit.

Hanya saja, korban merupakan warga yang baru menikah. Hanyut tersapu banjir, saat melakukan aktivitas di sekitar sungai.

Berhari-hari lamanya, pencarian dilakukan. Namun, tidak membuahkan hasil.

Ternyata, jenazah tersebut ditemukan menyangkut pada pintu nomor dua dari barat.

Seketika itu, pekerja menyebut pintu tersebut dengan si Kemantan.

“Setelah ada insiden sekitar tahun 1977, dibangunlah kisi-kisi, berfungsi sebagai penyaring. Jadi, tidak sampai masuk ke pintu intake,” terangnya.

 

Larung Kepala Kambing Hitam Setiap Tahun

Dua Pintu Air di Dam Delapan, memang dianggap istimewa.

Bahkan, dipandang keramat. Karenanya, warga sering menggelar ritual, di dam setempat.

Hal ini seperti yang diungkapkan Penjaga Pintu Air Dam Delapan Ahmad Shiddiq, 36. Menurutnya, dua pintu intake tersebut, memang dianggap istimewa.

Karena itulah, setiap tahunnya di bulan Oktober pada Kamis Kliwon atau malam Jumat manis, ada ritual memotong kambing hitam.

Kepala kambing tersebut, kemudian dilarungkan pada pintu intake si Mayit nomor dua dari timur.

Dilanjutkan dengan mengaji bersama pada dua kantor pengamat air.

“Kegiatan larung kepala kambing, sudah dilakukan turun-temurun sejak dulu. Kami hanya melanjutkan dan menghormati. Harapannya, agar mendapatkan keselamatan dalam menjalankan tugas,” ucapnya.

Shiddiq menceritakan, pernah ada kejadian misterius selama dirinya bekerja. Kejadian itu bermula, ketika tiba saatnya acara ritual larung.

Waktu itu, kambing yang hendak dikorbankan, tidak berwarna hitam polos.

Sedikit bulu yang ada di kepala kambing, berwarna putih.

Pekerja dam delapan kemudian berinisiatif, untuk menghitamkan bagian putih tersebut menggunakan cat pilox. Kemudian melarungkannya.

Malam harinya saat piket, Shiddiq dan rekannya, tidur di kantor dam delapan.

Tiba-tiba, pintu tengah kantor, ada yang mengetuk. Mulanya, bunyi tersebut dikira bunyi suara cicak.

Sehingga, regu yang piket tidak mengindahkannya.

Namun, suara tersebut semakin nyaring, seolah-olah memang ada penghuni rumah dan menakuti para pekerja.

“Boleh percaya atau tidak. Tetapi kami mempercayai itu. Setelah kejadian tersebut, kami benar-benar mencari kambing polos. Agar saat bekerja, kami juga tenang,” imbuhnya. (ar/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Dam Delapan #tempat keramat #pintu air #kecamatan maron