Di Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, nama Gua Gampeng cukup terkenal. Lokasinya Dusun Kemiri, berbatasan dengan Desa Sukorejo. Yang aneh, jarang orang yang datang ke gua itu, meskipun cukup terkenal.
GUA Gampeng tidak hanya dikenal oleh warga Dusun Kemiri. Tapi, juga warga dusun-dusun lain di Desa Pakukerto. Bahkan, sudah lama keberadaan gua tersebut diketahui masyarakat. Namun, kondisinya tidak terawat. Di mulut gua yang terbuat dari batu misalnya, sebagian tertutup tanaman.
Nama Gua Gampeng sendiri, menurut Kades Pakukerto Surateman, karena lokasinya berada di tepi sungai. Sementara di atasnya merupakan tanah tegalan. Lalu struktur fisik gua itu berupa batu.
Lokasi gua sejatinya masuk wilayah Desa Sukorejo. Namun, akses menuju gua tersebut lebih mudah lewat Dusun Kemiri di Desa Pakukerto.
“Selatan sungai ikut Desa Sukorejo, timur sungai ikut Desa Pakukerto. Lha gua ini berada di selatan sungai. Tapi, akses menuju ke gua lebih mudah dijangkau lewat Dusun Kemiri di Desa Pakukerto. Sementara lewat Desa Sukorejo medannya sulit,” sambungnya.
Meski cukup dikenal, tidak ada warga yang berani memasuki ke gua itu. Rata-rata warga hanya melihat gua dari kejauhan. Kondisi ini tidak terlepas dari kepercayaan warga setempat.
Cerita yang berkembang di masyarakat selama ini, gua tersebut tempat persembunyian ular besar. Warga takut bertemu ular tersebut bila memasuki gua. Karena itulah, tidak ada yang berani masuk ke gua tersebut.
Memang di sekitar gua itu, warga sering menemukan ular jenis piton dan jenis lain. Ada yang berukuran kecil hingga sedang. Bahkan, beberapa kali ular-ular tersebut berhasil ditangkap warga.
“Setelah ditangkap, tak lama kemudian dilepas kembali. Ada juga yang dipelihara. Dapatnya ya dari sekitaran gua tersebut,” cetusnya.
Sebagian warga percaya, ular di gua itu sungguhan. Ada juga yang percaya, ular di gua itu merupakan ular jadi-jadian atau semacam makhluk halus.
“Ada yang percaya itu ular jadi-jadian. Sebab, ular itu hanya muncul di hari-hari tertentu. Tiba-tiba saja kelihatan sekilas sedang masuk ke gua. Yang sering begitu,” ungkapnya.
Cerita itu bahkan sudah lama berkembang di masyarakat dan jadi cerita turun temurun. Warga sekitar yang mengetahuinya pun banyak, lebih dari satu.
“Meskipun ular besar itu dipercaya ada, keberadaannya tidak pernah mengganggu warga. Termasuk hewan peliharaan seperti ayam dan lainnya, selama ini aman,” tuturnya. (rizal fahmi syatori/hn)
Tentang Gua Gampeng
- Terletak di Desa/Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan
- Akses jalan menuju gua lebih mudah melewati Dusun Kemiri di Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo
- Nama gua dijadikan nama salah satu gang di Dusun Kemiri. Yaitu, Gang Gugam atau Gua Gampeng
- Warga mempercayai Gua Gampeng tempat persembunyian ular besar. Karena itu, tidak ada warga yang berani masuk ke sana. Hanya melihat dari kejauhan
- Di sekitar gua, warga juga sering menemukan ular piton atau ular jenis lain
Dijadikan Nama Salah Satu Gang
LOKASI Gua Gampeng dari Balai Desa Pakukerto berjarak sekitar 400 meter. Sama-sama berada di Dusun Kemiri.
Dari balai desa setempat, menuju ke lokasi bisa ditempuh dengan naik motor maupun mobil. Namun, motor dan mobil parkir di tepi jalan atau depan teras rumah warga. Selebihnya, jalan kaki melewati pematang sawah sekitar 75-100 meter saja.
Dan dari seberang sungai, Gua Gampeng sudah terlihat jelas. Namun, untuk melihat dari dekat, bahkan masuk ke gua, tidak ada warga yang berani.
“Aksesnya mudah, melewati jalan berpaving dan kondisinya baik. Kalau ke sana, sebaiknya jangan sendirian. Bila perlu ajak atau didampingi warga sekitar,” ucap Kades Pakukerto Surateman.
Karena terkenalnya gua itu, nama Gua Gampeng dijadikan sebagai salah satu nama gang di Dusun Kemiri. Yaitu, Gang Gugam, akronim dari Gua Gampeng.
“Nama gangnya, Gugam. Itu singkatan dari Gua Gampeng. Gangnya kokoh. Ada tulisan Gugam cukup besar,” bebernya.
Warga sengaja menjadikan nama gua itu sebagai nama gang. Alasannya, karena lokasi itu dekat dengan Gua Gampeng. Selain itu, penyebutannya mudah.
“Juga sebagai penanda bahwa gang itu akses masuk dan keluar menuju gua ini,” cetusnya. (rizal fahmi syatori/hn)
Editor : Ronald Fernando