Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kiai Sekar Al Amri, Seorang Alim yang Dikenal Ahli Tasawuf

Fahrizal Firmani • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 19:10 WIB

UNTUK MENERIMA TAMU: Pendapa yang digunakan Kiai Sekar untuk menemui tamu penting. Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berceramah di tempat ini saat haul Kiai Sekar pada 2006.
UNTUK MENERIMA TAMU: Pendapa yang digunakan Kiai Sekar untuk menemui tamu penting. Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berceramah di tempat ini saat haul Kiai Sekar pada 2006.
 

 

Penyebaran agama Islam di Probolinggo tidak terlepas dari peran Kiai Muhtadin atau yang dikenal dengan Kiai Sekar Al Amri. Dia dikenal sebagai ahli tasawuf. Pondok pesantren (ponpes) yang didirikannya merupakan salah satu pesantren tertua di Probolinggo.

 

PERAN Kiai Sekar dalam menyebarkan agama Islam di Probolinggo memiliki sejarah panjang. Ia mendirikan Ponpes Kiai Sekar pada 1850 di Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo atau 173 tahun yang lalu. Ini menjadikan Ponpes Kiai Sekar sebagai salah satu pesantren tertua di Probolinggo.

Bahkan, ada informasi lain yang menyebutkan, Ponpes Kiai Sekar telah berdiri 25 tahun sebelumnya. Yaitu pada 1825. Tetenger pendirian ini mudah. Yaitu, perang Diponegoro yang terjadi selama tahun 1825-1830. Selama perang yang dilakukan dengan taktik gerilya itu, pasukan Pangeran Diponegoro ada yang bersembunyi di Ponpes Kiai Sekar.

Kiai Sekar sendiri dikenal sebagai kiai yang alim, sehingga sangat disegani saat itu. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Probolinggo. Namun, hingga Kabupaten Lumajang dan Jember.

Pada perkembangannya, Ponpes Kiai Sekar ini kemudian berganti nama menjadji Ponpes Al Amri sekitar tahun 1990-an. Lokasinya sama, hanya namanya yang kemudian berubah.

“Sebelum berdiri Ponpes Kiai Sekar yang saat ini dikenal sebagai Ponpes Al Amri, Desa Leces, saat itu masih berupa rawa. Kiai Sekar sepuh ini membabat alas di desa ini,” kata Gus M Hasanuddin, cicit Kiai Sekar.

Berbeda dengan kiai khos seperti Syaikhona Kholil Bangkalan yang mengajarkan syariat atau ilmu fikih. Kiai Sekar memilih mengajarkan ilmu tasawuf dan tauhid. Kealimannya dalam ilmu tasawuf diakui oleh masyarakat dan para ulama saat itu.

Salah satu ajaran Kiai Sekar dalam ilmu tasawuf yang masih lestari sampai saat ini adalah dudusan. Caranya, melakukan tirakat semalaman dan bersedekah ternak. Seperti ayam, sapi, atau kambing. Ternak ini disembelih, kemudian dimakan bersama. Dan dilanjutkan dengan mencuci pusaka yang dimiliki.

Dalam ajaran dudusan ini, Kiai Sekar tetap menekankan atau mengedepankan konsep tauhid. Dia mengajarkan, tidak ada pusaka yang sakti. Semata-mata itu berasal dari Allah. Sama seperti kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, semuanya juga dari Allah.

“Kiai Sekar diakui sebagai ahli tasawuf. Sehari-harinya ia suka tirakat. Ajaran dusdusan darinya masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat di wilayah Leces dan Tegalsiwalan sampai saat ini,” terang generasi keempat ini. (fahrizal firmani/hn)

 

UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang.
UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang.

Hadratus Syaikh Pernah Berguru Padanya

 

Sebagai ahli tasawuf, keilmuan dan kealiman Kiai Sekar diakui oleh banyai kiai besar lainnya. Di antaranya, Kiai Hasyim Asy’ari atau yang dikenal sebagai Hadratus Syaikh. Pendiri Nahdhatul Ulama ini bahkan pernah berguru pada Kiai Sekar.

Gus M Hasanuddin, cicit Kiai Sekar mengatakan, cerita bahwa Kiai Hasyim pernah berguru pada buyutnya itu disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur menceritakannya saat menghadiri haul Kiai Sekar pada 2006 di Ponpes Al Amri di Leces.

Di hadapan ribuan jamaah yang hadir dalam haul itu, Gus Dur menyebut bahwa Kiai Hasyim pernah berguru pada Kiai Sekar. Saat itu, Kiai Hasyim datang ke Ponpes Kiai Sekar dan nyantri tidak sampai setahun.

Ia juga tidak tahu pasti apa yang dipelajari oleh Kiai Hasyim dari Kiai Sekar. Namun, diyakini Kiai Hasyim nyantri sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sebab, Kiai Sekar wafat sebelum Indonesia merdeka.

“Kami di sini baru tahu bahwa Hadratus Syaikh pernah berguru pada buyut kami dari cerita Gus Dur saat memberikan ceramah di acara haul itu. Cuma nyantri-nya tahun berapa, saya kurang tahu pasti,” katanya.

Setelah Kiai Sekar wafat, anak keturunan Kiai Sekar tetap mengembangkan ponpes setempat. Mulai dari Kiai Sekar Anom, kakek dari Gus Hasanuddin hingga Kiai Suhud, ayah dari Gus Hasanuddin.

Kini, Ponpes Al Amri dikembangkan lebih modern.  Santrinya mencapai lebih dari 600 orang. mereka berasal dari seputar wilayah Leces hingga Kecamatan Ranuyoso, Klakah dan Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Ada pula santri yang berasal dari Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.

“Saat Kiai Sekar masih hidup, pesantren ini memang khusus mengajarkan ilmu tasawuf. Semenjak Kiai Sekar wafat, kami juga mengajarkan ilmu fikih. Beliau dimakamkan di Sumberkedawung, Leces,” tutur Gus Hasanuddin. (fahrizal firmani/hn)

Editor : Ronald Fernando
#kiai sekar al amri #agama islam di probolinggo