Buyut Tipah sangat dikenal oleh warga di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya. Dia dipercaya merupakan pembabat alas Desa Suwayuwo yang berasal dari Madura.
CERITA bahwa Buyut Tipah merupakan salah satu pembabat alas Desa Suwayuwo, terjaga dengan baik hingga saat ini. Bahkan, makam sebagai manifestasi keberadaannya juga terawat dengan baik di Dusun Klanting, Desa Suwayuwo.
“Bagi warga di desa kami, beliau merupakan yang babat alas desa. Cerita turun temurun yang disampaikan pada kami seperti itu,” kata Kades Suwayuwo Abdul Mujib.
Buyut Tipah sendiri adalah seorang perempuan, lelono atau pengembara dari Madura. Dia hidup di zaman Wali Sanga. Pengembaraannya kemudian menuntunnya sampai ke Suwayuwo. Dia lantas menetap di Suwayuwo hingga akhir hayatnya.
“Saat tinggal di desa ini, Buyut Tipah memiliki beberapa murid. Saat meninggal, para muridnya ini dimakamkan di sekitar makam Buyut Tipah,” bebernya.
Semasa hidupnya, Buyut Tipah dikenal sakti. Sehingga, memiliki murid yang setia. Salah satu kesaktian yang dimilikinya yaitu perkataan atau ucapan yang disampaikannya selalu menjadi kenyataan. Dia juga bisa menyembuhkan beragam penyakit yang diderita warga saat itu.
“Jadi selain lelono, beliaunya juga orang sakti. Itu cerita turun temuran di desa kami,” cetusnya. (rizal fahmi syatori/hn)
Makamnya Ramai Peziarah
HIDUP di zaman Wali Sanga, itu berarti cerita tentang Buyut Tipah bertahan selama ratusan tahun. Ceritanya tidak hanya terjaga di Desa Suwayuwo saja. Namun, juga di desa dan kecamatan lain di sekitarnya.
Salah satu buktinya, makam Buyut Tipah hingga kini selalu ramai jadi jujukan peziarah. Lokasinya yang mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor, membuat peziarah makin betah datang ke makam ini. Selama ini, tiap harinya ramai peziarah yang berdatangan. Baik pagi, siang, sore, maupun malam.
Dari kantor Desa Suwayuwo di jalan nasional Surabaya–Malang, jaraknya sekitar 400 meter. Kondisi makamnya bersih serta terawat dengan baik. Lantainya keramik dan bangunan sekelilingnya berupa pendapa beratapkan genting.
“Tiap hari selalu saja ada peziarah yang datang ke makam Buyut Tipah. Paling ramai saat hari Kamis malam Jumat. Rata-rata tujuannya ngalap berkah,” jelas As’ad, 42, juru kunci makam Buyut Tipah, warga desa setempat.
Mereka yang berziarah ke makam Buyut Tipah sebagian besar dari sekitaran Pasuruan. Banyak juga yang berasal dari Probolinggo, Madura, Malang, Surabaya, dan daerah lainnya.
Kendaraan peziarah biasanya diparkir di luar areal makam. Yakni, di lahan kosong dekat lapangan sepak bola yang merupakan tanah kas desa.
“Mereka kemudian berwudu. Selanjutnya berdoa di makam seperti tahlil dan lain-lain selama 30 sampai 60 menit. Setelah itu pulang,” tuturnya.
Tidak hanya pagi sampai sore, makam Buyut Tipah juga ramai sampai malam. Lokasi makam yang dilengkapi penerangan lampu dan bersih, membuat mereka kerasan. Bahkan, jumlah peziarah kadang lebih banyak saat malam.
“Peziarah datangnya lebih banyak pada malam hari, bahkan hingga jelang subuh. Sepertinya banyak yang cocok atau berjodoh. Sebab, sejumlah peziarah seringkali datang ke makam ini,” cetusnya. (rizal fahmi syatori/hn)
Sumber Airnya pun Tetap Mengalir
TAK jauh lokasi makam Buyut Tipah, terdapat sumber air alami. Saat musim penghujan dan kemarau, debit airnya terus mengalir. Tidak pernah kering. Tempatnya sangat rindang, dikelilingi pepohonan. Seperti beringin, celumprit dan lain sebagainya.
Sumber air tersebut oleh warga diberi nama Sumber Klanting, karena lokasinya ada di Dusun Klanting. Sumber Klanting ini dipercaya sebagai sumber yang ada sejak Buyut Tipah hidup. Bahkan dimanfaatkan oleh Buyut Tipah dan para muridnya untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Sumber air ini dulu menjadi tempat mandi sekaligus ritualnya Buyut Tipah. Karena itu sebagian peziarah mandi ritual di sumber Klanting ini sebelum ke makam,” ucap As’ad, juru kunci makam Buyut Tipah.
Para peziarah yang datang juga banyak yang membawa pulang air sumber. Air itu biasanya dimasukkan botol plastik atau jerigen. Sebab, airnya dipercaya mujarab menyebuhkan penyakit.
“Di sumber ini, saya juga beberapa kali pernah dapat batu semacam akik. Sampai sekarang ada dan saya simpan,” tuturnya.
Sementara warga setempat memanfaatkan Sumber Klanting untuk aktivitas sehari-hari. Sepulang dari sawah atau bekerja keliling, banyak yang istirahat sekaligus mandi di sumber ini. Sebab, airnya jernih dan segar.
Ada juga warga yang mencuci pakaian di sini. Air dari sumber ini juga untuk irigasi persawahan yang berada di sekitaran sumber.
“Sumber Klanting merupakan salah satu wisata religi di desa kami, sama dengan makam Buyut Tipah. Rencananya tahun depan di lahan sekitaran sumber akan dibangun stand-stand UKM,” ujar Kades Suwayuwo Abdul Mujib. (rizal fahmi syatori/hn)
Editor : Ronald Fernando