Sejak Kiai Djojolelono memerintah pada 1746, hingga kini Kabupaten Probolinggo telah melewati kepemimpinan 35 bupati. Dari puluhan orang itu, ada Babah Tumenggung Han Kek Koo yang menorehkan sejarah tersendiri. Dia memerintah Kadipaten Probolinggo setelah membeli tanah Probolinggo dari Gubernur Jendral Meester Herman William Daendels.
BABAH Tumenggung Han Kek Koo adalah seorang Mayor China. Setelah menjadi Bupati Probolinggo, baru dia memakai gelar Babah Tumenggung.
Han Kek Koo adalah cucu dari Han Siong Kok yang lahir pada 1673 di Lubianse, Tianbao, China. Dia generasi ke-21 dari marga Han. Kakeknya meninggalkan tempat asalnya menuju tanah Jawa sekitar tahun 1700-an.
Han Siong Kong kemudian menetap di Lasem dan meninggal di Rajegwesi (sekarang Bojonegoro). Han Siong Kong memiliki lima putra dan empat putri. Salah satunya, Han Bwee Kong yang merupakan ayah dari Han Kek Koo.
Han Kek Koo sendiri lahir pada tahun 1766. Ia merupakan putra kelima dari Kaptien Han Bwee Kong. Dia memiliki tanah dan perkebunan di Jawa Timur. Termasuk tanah yang tersebar di 12 desa di Pasuruan.
Han menikah dengan Liem Khian Nio dan mempunyai dua anak yang kelak menjadi pengusaha sukses. Yaitu, Han Tjan Goan dan Han Tjan Hien.
"Keluarga Han dikenal sebagai pengusaha terkemuka di Jawa Timur saat itu. Sama seperti kakek dan ayahnya, Han Kek Koo juga menjadi pedagang sukses," kata pemerhati sejarah, Inung Imam.
Pada 1810, saat pemerintahan Hindia Belanda, Gubernur Jendral Meester Herman William Daendels kehabisan anggaran untuk membangun jalan Anyer Panarukan. Ia lantas membuat keputusan ekstrem. Yaitu, menjual Kabupaten Probolinggo pada Han Kek Koo senilai 1 juta Rijksdaaldeers yang dicicil selama 10 tahun. Pembayaran dilakukan tiap enam bulan sebesar 50 ribu Rijksdaalders.
Setelah transaksi disahkan, Daendels memerintahkan untuk membuat surat kredit yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah. Surat itu ditarik enam bulan sekali usai dia menerima pembayaran dari Han Kek Koo.
Surat kredit ini terdiri atas enam pecahan Rijksdaalders dan ditandatangani oleh lima orang saksi. Pecahan itu antara lain, 100 (seri F), 200 (seri E), 300 (seri D), 400 (seri C), 500 (seri B), dan 1000 (seri A). Semuanya ditempel dengan huruf LN, singkatan dari Louis Napoleon. Sebab, saat itu Belanda dikuasai oleh Perancis.
"Total surat kredit yang diterbikan sebanyak 4.100 lembar. Surat kredit ini kemudian dikenal dengan uang kertas Probolinggo," sebut Inung. (Fahrizal Firmani/hn)
Tewas Dalam Pemberontakan
Han Kek Koo memerintah Kabupaten Probolinggo relatif singkat. Mulai tahun 1810 sampai 1813. Dia merupakan bupati kelima dengan gelar Babah Tumenggung.
Begitu menjadi bupati pada 1810, dia langsung memindah kantor bupati yang saat itu ada di Jalan Siaman. Kantor bupati dipindah ke utara Alun-Alun Kota Probolinggo yang kini menjadi pendapa Kabupaten Probolinggo sekaligus rumah dinas Bupati Probolinggo.
Tujuan pemindahan itu, untuk memusatkan pemerintahan di satu titik. Sebab, saat itu di alun-alun sudah berdiri Masjid Agung. Masjid Agung sendiri didirikan pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Djojonegoro, bupati kedua Probolinggo.
Tidak hanya itu. Di masa pemerintahannya, Hak Kek Koo memperkenalkan metode irigasi terbaru dalam pertanian. Dia juga memperkenalkan komoditas tanaman baru selain padi, yaitu hortikultura.
Karena cara-cara itu, produktivitas petani Probolinggo meningkat. Namun, Han Kek Koo juga dituduh melakukan nepotisme. Sebab, separo dari hasil panen petani harus dijual padanya dengan harga sangat murah.
Di masanya inilah, suku Madura mulai berdatangan ke Probolinggo. Bukan datang sendiri. Han Kek Koo sengaja mendatangkan suku Madura ke Probolinggo agar populasi penduduk bertambah.
Sebab, saat itu jumlah penduduk Probolinggo relatif sedikit. Pada masa pemerintahannya, jumlah penduduk Probolinggo hanya 150 ribu. Dia sendiri memimpin 150 orang atau pegawai.
Namun, saat ia memerintah, Jawa Timur mengalami masa paceklik hebat yang berkepanjangan. Banyak rakyat kelaparan dan menjadi miskin. Di sisi lain, rakyat Probolinggo saat itu tidak puas dengan pemerintahan Han Kek Koo. Sebab, dia dinilai hanya mementingkan bisnisnya. Sementara kepentingan rakyat terpinggirkan. Akibatnya, banyak terjadi pemberontakan karena ketidakpuasan warga pada pemerintah.
Puncaknya pada 1813, Inggris yang menguasai tanah Jawa ingin membeli Kabupaten Probolinggo. Mereka merasa menemukan peluang bagus dari krisis yang dialami selama pemerintahan Babah Han Kek Koo.
Di tahun itu juga, pemberontakan besar pecah pada 18 Mei 1813 yang dipimpin oleh Kiai Mas Tertentu, kades Tengger-Adas (Ngadas, Sukapura). Sebelum pasukan Inggris tiba di Probolinggo, Babah Han Kek Koo dibunuh oleh para pemberontak.
"Setelah Han Kek Koo terbunuh, keluarga Han pergi dari Jawa Timur. Mereka mengamankan diri ke Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah," tutur Inung.
Sir Stamford Raffles yang menggantikan Daendels sebagai Gubernur Hindia Belanda lantas membeli Kabupaten Probolinggo dari keturunan Han Kek Koo. Sebagai gantinya, tiga anak Han Kek Koo mendapat bagi hasil seumur hidup dari pendapatan di Kabupaten Probolinggo.
"Sejumlah anak Han Kek Koo juga tetap aktif di industri gula di Pasuruan. Sementara sisanya menjadi tokoh berpengaruh di Pasuruan," sebutnya. (Fahrizal Firmani/hn)
Tentang Han Kek Koo
- Han Kek Koo adalah generasi ke-21 dari marga Han yang berasal dari Lubianse, Tianbao, China.
- Dia bupati kelima Probolinggo yang memerintah tahun 1810-1813
- Han Kek Koo menjadi bupati setelah membeli tanah Probolinggo dari Gubernur Jendral Meester Herman William Daendels.
- Dia meninggal terbunuh dalam pemberontakan yang dipimpin Kiai Mas Tertentu, Kades Tengger-Adas (Ngadas, Sukapura)
- Pada masanya, kantor pemerintahan dipindah dari Jalan Siaman ke utara alun-alun.
- Dia juga mendatangkan suku Madura ke Probolinggo agar populasi bertambah.
Editor : Ronald Fernando