Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petilasan Paguron yang  Jadi Jejak Lain Gajah Mada di Negororejo

Ronald Fernando • Sabtu, 20 Mei 2023 | 16:09 WIB
Kades Negororejo Nganto di lokasi yng dijadikan tempat semedi. (Foto-Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Kades Negororejo Nganto di lokasi yng dijadikan tempat semedi. (Foto-Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Mahapatih Gajah Mada melewatkan sisa hidupnya dengan menyepi di Madakaripura, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Sebelum tinggal di sana, dia bertapa di sebuah lokasi yang saat ini dikenal dengan sebutan Petilasan Paguron. Juga di Desa Negororejo.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SEJUMLAH catatan menyebut, akhir hidup Mahapatih Gajah Mada dilewatkan di Madakaripura, Desa Negororejo. Sebuah tanah perdikan atau hadiah dari raja atas jasa-jasanya.

Dalam perjalanan menuju tempat terakhirnya itu, hingga akhirnya moksa, Gajah Mada pernah bertapa di sebuah hutan yang ada di Dusun Krajan, Desa Negororejo. Hutan ini dibabat oleh Mbah Bias, prajurit Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 15.

Di sini lantas dibangun sebuah padepokan oleh Ki Mangir dan Mbah Wali. Padepokan ini pun sangat terkenal sebelum zaman penjajahan Hindia Belanda.

Saat itu banyak masyarakat yang datang ke lokasi ini untuk belajar ilmu kanuragan atau ilmu agama. Lokasinya yang tenang dan jauh dari permukiman penduduk membuat banyak masyarakat mendatanginya. Termasuk Gajah Mada.

Jaraknya sekitar dua kilometer dari air terjun Madakaripura. Saat ini, ada dua bangunan di tempat ini. Yakni, bangunan utama yang terdapat sumur. Serta di sisi utara yang memiliki batu yang disusun sebagai tungku.

Kades Negororejo Ngasto mengungkapkan, petilasan ini sudah ada sejak tahun 1500-an. Mahapatih Gajah Mada pun pernah mendatangi tempat ini. Ia sempat tinggal dan bersemedi beberapa waktu sebelum pergi ke air terjun Madakaripura.

"Di lokasi yang dipercaya jadi tempat semedi Gajah Mada itu lalu dibangunkan arca. Dan arca itu masih ada dan utuh sampai saat ini," katanya.

Sejak didatangi oleh Gajah Mada, banyak masyarakat yang datang ke lokasi ini melakukan hal yang sama. Bahkan, meski Kerajaan Majapahit runtuh, tempat ini tidak pernah sepi didatangi oleh masyarakat. Tidak hanya wilayah Lumbang, adapula dari luar Lumbang.

"Paling ramai itu saat malam 1 Suro dan malam Jumat Legi. Puluhan orang datang. Bahkan, sampai menginap di lokasi ini," ungkapnya.

Mereka yang datang biasanya bersemedi. Ada pula yang bertawasul dengan membaca zikir atau yasin. Biasanya, kegiatan ini dilakukan di bangunan utama.

Kebanyakan, mereka yang datang karena memiliki hajat tertentu. Misalnya dimudahkan jodoh, mendapatkan penglaris, dan lain sebagainya.

Jika keinginan mereka terkabul, mereka biasanya datang lagi dengan membawa kambing. Kambing ini dipotong dan dimasak di atas tungku yang ada di sisi utara bangunan. Kambing ini lantas dimakan bersama di bangunan utama sebagai wujud syukur.

Photo
Photo
Lokasi yang sering dijadikan tempat memasak. (Foto-Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)



"Kambingnya disembelih di petilasan. Dimasak dengan disate atau dijadikan gule. Terus dimakan bersama di dekat sumur itu," jelas Ngasto.

Karena banyak warga yang datang ke lokasi ini setiap bulannya, Bupati Probolinggo Pamoedji pada 1993 mendirikan sebuah bangunan di lokasi ini. Selain itu, dibangun sumur di sekitar arca. Tujuannya, untuk melindungi arca.

"Namun, bangunan ini sudah perlu direhab. Termasuk jalannya juga harus dibangun karena aksesnya masih tanah," tuturnya. (fahrizal firmani/hn)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lokasi Petilasan Cukup Angker

MESKI sering didatangi masyarakat untuk bertawasul, lokasi Petilasan Paguron cukup angker. Tidak sedikit mereka yang datang melihat penampakan yang di luar nalar. Penampakan ini bisa terjadi cukup lama.

Perangkat Desa Negororejo Kamsu menuturkan, dirinya pribadi pernah mendapat pengalaman menyeramkan saat datang ke petilasan. Kejadiannya saat Jumat Legi tahun 2022.

Saat itu, ia bertawassul dengan membaca yasin. Ia datang bersama temannya dan berniat menginap sampai pagi. Saat tengah malam di waktu membaca zikir, tiba-tiba ada suara keras menggelegar.

Suara itu diikuti dengan penampakan sesosok orang yang sedang mengayun-ayunkan dahan pohon berulang kali. Karena merinding, ia tidak menoleh ke arah dahan pohon itu.

Kejadian ini berlangsung selama 30 menit. Setelah itu, suara tersebut menghilang. Namun, ia tetap memilih tidak pulang hingga subuh.

"Ternyata kejadian seperti yang saya alami juga pernah dialami oleh warga lain. Cuma kalau kita yakin itu makhluk Allah dan fokus pada tujuan awal, insyaallah aman," jelasnya. (fahrizal firmani/hn) Editor : Ronald Fernando
#petilasan paguron #kecamatan lumbang #desa negororejo