------------------------------------------------------------------------------------------------------
YA, nama sumber air itu memang sama dengan nama desa tempat sumber air berada. Karena itu, diyakini ada keterkaitan khusus antara sumber itu dengan Desa Sumbersuko. Sayangnya, tidak diketahui apa keterkaitan tersebut.
“Dari namanya yang sama, pasti ada hubungan historis antar sumber tersebut dengan keberadaan desa ini. Tapi cerita pastinya seperti apa tidak ada yang tahu. Termasuk saya dan warga di sini,” terang Kades Sumbersuko Susilo Hadi.
Yang diketahui warga hanyalah, debit air Sumber Suko tak pernah surut. Bahkan, tidak pernah berkurang. Baik di musim penghujan, termasuk di musim kemarau.
Karena itulah, sampai saat ini Sumber Suko menjadi jujukan warga setempat untuk mandi. Terutama warga yang baru pulang dari sawah atau tegalan.
Memang, di dekat sumber air itu ada kolam kecil. Juga pancuran yang mengalir dari pipa. Lalu di sebelahnya ada surau yang dibangun swadaya oleh warga setempat.
Saat malam hari hingga menjelang pagi, Sumber Suko banyak dimanfaatkan untuk mandi ritual. Terutama oleh warga dari luar desa. Seperti dari Surabaya, Sidoarjo, Malang dan lain-lain.
Susilo Hadi menyebut, memang Sumber Suko dikenal hingga keluar daerah. Sebab, airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
“Itulah mengapa, banyak yang mandi ritual di sini. Terutama pada Kamis malam Jumat, seringkali orang dari luar daerah datang ke sumber ini untuk mandi ritual. Tapi itu bagi yang percaya saja,” tuturnya.
Sementara bagi warga Desa Sumbersuko sendiri, air dari sumber ini dipakai memenuhi kebutuhan akan air bersih. Dari sini, air disalurkan ke rumah-rumah warga melalui jaringan pipa yang dibangun secara swadaya.
Anton, 43, warga setempat menuturkan, sumber air ini diberi nama Sumber Suko oleh warga sekitar. Sebab, dulu di sekelilingnya banyak terdapat pohon suko.
Sampai kini pun, pohon suko masih ada di sekitar sumber air itu. Namun, Namun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Hanya tinggal beberapa pohon saja.
“Karena banyak terdapat pohon suko, warga menyebut sumber air ini dengan Sumber Suko. Cerita yang saya dapat seperti itu,” ujarnya. (rizal fahmi syatori/hn)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber Air dan Kolam Kurang Terawat
Meski jadi jujukan warga sekitar untuk mandi. Bahkan, kerap dijadikan tempat untuk mandi ritual oleh warga dari luar daerah. Namun, kondisi Sumber Suko kurang terawat.
Di kolam banyak dedaunan yang jatuh dari pohon. Juga dasar kolam ada sedimen tanah halus yang cukup tebal. Sementara itu, sumber air hanya dikelilingi tembok sederhana. Dengan bagian atas ditutup seng yang di sekelilingnya ditumbuhi rimbunan alang-alang.
Warga yang mau mandi biasanya membersihkan sendiri kolam tersebut. Baru kemudian dipakai mandi.
“Jadi kalau kotor, warga yang mau mandi atau yang datang melakukan ritual biasanya masing membersihkan sendiri kolam ini,” ujar Anton, 43, warga sekitar.
Beruntung, akses jalan menuju kolam sudah diterangi lampu. Sehingga, saat malam warga tidak kesulitan ke lokasi. Hanya memang, lokasi itu bisa Cuma bisa dijangkau kendaraan roda doa atau jalan kaki.
“Kalau malam hari menuju ke sumber dan sekitaran sumber, terdapat lampu penerangan. Jadi tidak gelap,” tuturnya.
Sementara warga yang membawa mobil, harus parkir di kampung terakhir. Baru kemudian jalan kaki ke lokasi. Jaraknya sekitar 600 meter dari kantor Desa Sumbersuko. Sementara dari perkampungan terakhir di Dusun Beji Ledok, melewati jalan paving dan makam umum dusun setempat. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Ronald Fernando