Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Empat Sekawan Pembabat Desa Kamalkuning di Krejengan

Ronald Fernando • Sabtu, 18 Maret 2023 | 17:10 WIB
LESTARI: Perangkat Desa Kamalkuning Baijuri berada di Makam Kakek Calang yang diyakini sakti dan keramat. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
LESTARI: Perangkat Desa Kamalkuning Baijuri berada di Makam Kakek Calang yang diyakini sakti dan keramat. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
Ada empat kakek yang diyakini sebagai Pembabat Desa Kamalkuning, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Semuanya sudah meninggal dunia. Namun, jasanya terus dikenang. Makamnya dikeramatkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

KAKEK Calang, Kakek Ginjor, Kakek Juneng, dan Kakek Nurudin. Keempat sekawan ini yang disebut-sebut sebagai pembabat Desa Kamalkuning. Sejauh ini makam empat kakek ini masih terjaga. Sering diziarahi warga.

Keempat sekawan ini diyakini masih saling memiliki hubungan darah. Mereka disebut-sebut berasal dari Pulau Garam Madura. Warga menyebut para kakek ini memiliki kesaktian atau kelebihan dibanding manusia biasa. 

Salah seorang sesepuh Desa Kamalkuning Sarom mengatakan, dari empat sekawan itu, cerita yang masyhur di kalangan masyarakat desa adalah Kakak Calang.

“Sejumlah cerita dari para sesepuh, bahwa Kakek Calang memiliki sejumlah kelebihan. Seperti berkelahi dengan empat macan. Makamnya tidak terkena banjir, sampai tidak boleh sembarangan saat melintas di dekat makam,” ujarnya.

Kakek Calang pernah ditantang bertarung oleh empat macan. Tetapi, Kakek Calang enggan meladeni. “Namun, keempat macan itu terus memaksa,” katanya ketika ditemui di Dusun Karangasem, Desa Kamalkuning.

Dengan terus dipaksa, akhirnya Kakek Calang menyerah. Ia merelakan dirinya dimakan empat ekor macan. Namun, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya harus memakan habis. Tak menyisakan sedikit pun meski hanya sehelai rambut. “Harus dimakan bersih. Tidak tersisa,” jelasnya.

Persyaratan disepakati. Empat ekor macan itu memakan tubuh Kakek Calang dengan lahap. Namun, mereka melanggar. Ada sehelai rambut Kakek Calang yang tak termakan. 

“Akhirnya, macannya mati. Karena persyaratannya juga, bila keempat macan itu tidak bisa menyelesaikan persyaratan tersebut, maka keempat macan itulah yang mati. Saat memakan Kakek Calang, keempat macan ini masih menyisakan sehelai rambut. Tidak dimakan,” ujarnya.

Beda dengan macan yang mati. Kakek Calang, meski tubuhnya sudah dilalap macan, ternyata masih bisa hidup. Entah bagaimana caranya.

Cerita lainnya soal kekeramatan makam Kakek Calang. Asia, juru kunci makam Kakek Calang mengatakan, pernah suatu ketika masyarakat setempat memiliki hajatan di dekat makam Kakek Calang. Mereka mengundang pertunjukan jarang kencak. 

Saat baru dimulai, kuda yang digunakan sebagai jaran kencak tidak bisa berjalan. Tidak bisa beratraksi sebagaimana permintaan juragannya. Akhirnya, pertunjukan jaran kencak gagal digelar.

“Tidak bisa sembarangan. Karena memang dari dulu kramat. Dari sesepuh dulu, apabila hendak mengadakan hajatan di dekat makam, setidaknya melakukan selamatan. Sebagai perantara meminta izin bahwa akan ada hajatan. Karena Kakek Calang ini merupakan pendahulu desa,” jelasnya.

Selain itu, kekeramatan Kakek Calang ditunjukan oleh sejumlah kejadian aneh lainnya. Salah satunya, ketika ada hewan bernyawa melintas di atas makamnya, akan jatuh dan mati. 

Photo
Photo
PEMBABAT DESA: Perangkat Desa Kamal Kuning Baijuri berada di makam Kakek Nurudin. Salah satu dari empat sekawan yang membabat Desa Kamalkuning. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

“Seperti burung yang terbang di atas makam, banyak yang jatuh, kemudian mati. Dulu seperti itu. Sekarang sudah tidak lagi. Tapi, kadang masih ditemukan burung jatuh dan mati,” katanya.

Makan empat kakek ini pun berada di dusun berbeda. Kakek Calang di Dusun Karangasem. Kakek Genjor, Kakek Juneng, dan Kakek Nurudin, berada di Dusun Krajan. (mu/rud)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menjadi Perantara Memohon Hujan 

Saat kekeringan melanda Desa Kamalkuning, Kecamatan Krejengan, warga desa setempat memiliki solusi tersendiri. Mereka akan datang ke Makam Kakek Calang. Memohon kepada Yang Kuasa agar turun hujan melalui perantara Kakek Calang.

“Menjadi perantara meminta hujan, dulu. Selamatannya di makam Kakek Calang,” ujar sesepuh Desa Kamalkuning, Sarom.

Sarom merupakan tokoh yang sering memimpin doa dalam selamatan di makam Kakek Calang. Profesi ini merupakan turunan dari ayahnya, Ronggo. Setelah ayahnya meninggal, ia yang meneruskan menjadi imam dalam berdoa kepada Tuhan.

“Dulu bapak yang baca doa kalau ada selamatan di makam Kakek Calang. Yang mengoordinasi kemudian saya,” katanya.

Semasa Ronggo, kata Sarom, saat musim kemarau tiba, sering dilakukan selamatan dan doa bersama meminta hujan. Dari cerita masyarakat, kadang hujan turun sebelum maupun sesudah selamatan digelar.

“Kalau dulu, kadang saat selamatan masih berlangsung hujan moro-moro turun. Kadang saat hendak mau selamatan, turun,” ujarnya.

Saat selamatan, biasanya masyarakat sekitar berkumpul di makam Kakek Calang. Mereka berbondong-bondong membawa hasil bumi ke makam. Di sana mereka berdoa bersama.

“Saat selesai selamatan, dilanjut makan bersama. Atau bertukar barang yang dibawa. Tapi, herannya hujan benar terjadi,” katanya.

Juru Kunci Makam Kakek Calang Asia  menyebutkan, dulu makam Kakek Calang banyak dikunjungi warga dalam desa maupun luar desa. Mereka datang untuk bertirakat. 

Namun, sejumlah warga yang melakukan tirakat tidak pernah berhasil. Sebab, cobaan atau ujiannya sangat berat. “Kadang melihat ular sebesar sepur, sehingga yang tirakat takut dan tirakatnya gagal. Kalau saat ini sudah tidak ada,” ujarnya.

Dengan masih adanya makam dan cerita para pembabat desa itu, pemerintah desa melakukan pelestarian makam. Salah satunya dengan tetap menjaga secara untuh makam. 

“Tasyakuran desa, salah satunya dengan menggelar selamatan kepada para pembabat desa ini. Mereka merupakan sesepuh desa,” ujar Kepala Desa Kamalkuning Wasik. (mu/rud) Editor : Ronald Fernando
#desa kamalkuning kecamatan krejengan