Cukup banyak peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Kabupaten Probolinggo. Namun, hanya sebagian yang memiliki bentuk utuh dan ciri khas Majapahit. Termasuk, sebagian saja yang memiliki identitas bahwa bangunan atau benda tersebut berasal dari zaman Kerajaan Majapahit. Sementara yang lainnya, banyak hanya berupa puing dengan cerita mengakar kuat di masyarakat.
Candi Kedaton adalah salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang tergolong utuh. Bangunan dengan material batu andesit khas pegunungan ini berada di Dusun Lawang Kedaton, Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris. Meskipun bentuknya sudah tidak sempurna, bangunan ini merupakan bangunan penting pada saat itu.
Lokasi candi mudah dijangkau. Berjarak 2 kilometer ke arah timur kantor Desa Andungbiru. Jalannya makadam, namun dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.
Selama perjalanan menyusuri jalan tersebut, pengunjung harus berhati-hati, sebab jalan berbatu. Khususnya saat hujan, karena jalan lebih licin untuk dilintasi. Beberapa ruas jalan juga menanjak. Sehingga, pengendara harus lihai mengendarai kendaraannya.
Begitu sampai di lokasi candi, pengunjung harus menuruni jalan setapak rabat beton dengan lebar 1 meter sepanjang 100 meter. Jalan ini hanya dapat dilintasi kendaraan roda dua atau berjalan kaki. Baru kemudian sampai di areal candi yang berada persis di sisi timur jalan.
"Akses menuju lokasi memang sedikit menantang. Di ruas jalan Dusun Lawang Kedaton, candi tidak terlihat. Harus turun dulu. Barulah terlihat bangunan candi," ujar Jupel Candi Kedaton Niman, saat ditemui.
Saat ini, Candi Kedaton dikelola Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Provinsi Jawa Timur. Mempunyai panjang 6 meter, lebar 6 meter, tinggi 2,05 meter, dan terbuat dari batu andesit.
Pada sisi tangga sebelah kiri terdapat pahatan huruf Jawa Kuno bertuliskan tahun 1292 Saka atau 1370 Masehi. Tulisan tersebut diduga merupakan tahun pembuatan candi. Pada sisi kiri dan kanan angka terdapat Surya Majapahit. Yang menjadi stempel atau penanda bangunan era kerajaan Majapahit.
"Ada tulisan tahun dan stempel Surya Majapahit. Kami meyakini memang dibangun pada zaman kerajaan itu (Majapahit, Red)," bebernya.
Saat ini, kondisi bangunan Candi Kedaton banyak rusak dan hilang. Bentuk yang terlihat kini berupa batur (alas candi, Red). Yaitu, candi yang hanya mempunyai kaki bangunan tanpa badan dan atap candi. Namun, dulunya diperkirakan candi ini memiliki atap tidak permanen berupa ijuk.
"Tidak ada atapnya, hanya tinggal bagian kaki dan pipi tangga. Pada bagian pemisah antara batur dan kaki candi diberi pelipit yang berbentuk sisi ganta dan diberi hiasan," kata Niman.
Ketua Pokdarwis Andungbiru Agus Subiyanto mengatakan, Candi Kedaton diketahui berasal dari masa akhir Majapahit abad ke-14. Pada zamannya, daerah yang kini menjadi Desa Andungbiru diperkriakan menjadi pusat aktivitas masyarakat Hindu, khususnya sekte Syiwa.
Perkembangan agama Hindu sekte Syiwa ditunjukkan pada relief batur Candi Kedaton sebelah kiri. Di sana ada relief yang menggambarkan kisah Arjunawiwaha. Di mana seorang pertapa telanjang bertemu dengan Arjuna. Ini dipercaya merupakan salah satu budaya ekstrem Hindu Syiwa kala itu, di mana untuk bertemu dewata harus melakukan tindakan ekstrem. Seperti telanjang atau menyerahkan bagian tubuhnya untuk persembahan bagi dewa.
"Candi ini masih menjadi misteri, perlu ada penelitian lebih lanjut. Namun, dari beberapa referensi yang ada, Desa Andungbiru diperkirakan menjadi pusat kebudayaan pada zamannya. Serta pusat penganut Hindu Syiwa," tuturnya.
Ada Arca Bima, Sumber Magis Kerajaan
Keelokan Candi Kedaton masih tampak hingga kini. Di ketiga sisinya terdapat cerita relief yang menyimpan misteri masa lalu. Ada kisah Arjunawiwaha di sisi barat, kisah Garudeya di sisi selatan, dan kisah Bhomantaka atau Bhomakawya di sisi timur. Semua kisah tersebut terkait dengan kehidupan pertapaan atau karesian.
Ketua Pokdarwis Andungbiru Agus Subiyanto mengatakan, keberadaan candi ini menjadi salah satu penanda penting kawasan di Lereng Argopuro ini. Wilayah tersebut merupakan kawasan pertapaan atau karesian.
Bisa juga merupakan suatu kawasan otonom kecil yang keberadaannya diakui oleh penguasa Majapahit. Sementara cerita yang mengakar di masyarakat, penguasa wilayah Argopuro dan sekitarnya adalah Dewi Rengganis, salah satu puteri Majapahit.
"Sekeliling bangunan candi terdapat panil-panil relief yang menceritakan Arjunawiwaha, Bhomakawya, dan tentang Garuda. Tetapi, relief tersebut banyak yang sudah tidak lengkap. Beberapa bagian relief hilang dan digantikan oleh balok batu biasa," katanya.
Relief yang terdapat di Candi Kedaton ini termasuk relief yang menyentuh, terutama relief Garuda yang sedang menghaturkan sembah kepada ibunya. Juga relief tentang Samba yang mengunjungi ibunya sebelum bertempur dengan Bhoma. Cerita Bhoma dan Samba merupakan Asura Naraka versi Bhomakawya.
Secara terperinci, relief-relief yang terdapat di Candi Kedaton di antaranya adalah relief yang memperlihatkan Garuda sedang menghaturkan sembah kepada ibunya. Namun, bagian atas dan bawah relief telah hilang.
Kemudian, Relief Arjunawiwaha, suatu kisah tentang Arjuna yang bertapa mencari senjata sakti. Pada saat bertapa diutus dua bidadari cantik untuk menggoda Arjuna oleh para dewa. Bidadari ini merayu Arjuna dengan segala cara, tetapi Arjuna bergeming.
Selanjutnya, relief tentang Arjuna yang sedang menghaturkan sembah kepada Bhatara Shiwa. Setelah Shiwa lenyap, tiba-tiba datang penjelmaan Shiwa dalam bentuk Ardhanariswara.
Kemudian Shiwa menghadiahi Arjuna senjata sakti berupa panah mahasakti yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun. Senjata itu dinamakan Pasopati. setelah itu, Shiwa kembali lenyap.
Lalu relief tentang Kakimpoi Bhomakawya, menceritakan tentang Kresna dan Bhoma. Relief menceritakan Sri Khrisna yang hendak membunuh Bhoma terlihat dari Sri Khrisna memegang senjatanya berupa Cakra Sudharsana.
"Relief yang ada mengisahkan banyak cerita. Salah satunya ajaran yang dianut pada saat zaman candi berdiri," katanya.
Juru Pelihara Candi Kedaton Niman mengatakan, pernah ditemukan Arca Bima di seberang Candi Kedaton. Melewati sungai Kedaton yang berjarak sekitar 1 kilometer. Tinggi arca lebih dari 2 meter. Kini, arca tersebut disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto.
Arca seperti itu biasanya berada di pusat kota atau pemerintahan. Merupakan sumber kekuatan magis suatu kerajaan. Diduga, dahulu kawasan Tiris dan sekitarnya merupakan pusat peradaban. Bukan saja karena adanya Candi Kedaton dan arca Bima besar, melainkan di daerah sepanjang lereng Argopuro ini banyak ditemukan punden berundak sebagai salah satu peninggalan zaman megalitikum.
"Mengenai sejarah Candi Kedaton, siapa rajanya dan siapa tokohnya yang berhubungan dengan Candi Kedaton, cukup sulit diungkap. Belum ditemukan prasasti atau kitab-kitab kuno yang menceritakan secara gamblang," lanjut Niman.
Satu-satunya keterangan yang ada ialah pahatan tahun 1292 Saka atau 1370 masehi. Sehingga jika ditarik kesesuaian dengan tahun tersebut, diperkirakan Candi Kedaton berasal dari zaman Kerajaan Majapahit pada waktu diperintah oleh Raja Hayam Wuruk.
"Tentunya untuk membuat terang sejarah dan makna di balik bangunan candi perlu ada penelitian lebih mendalam. Ada beberapa puing yang kami letakkan pada sisi utara candi. Sampai saat ini belum diketahui fungsinya. Yang jelas merupakan bagian dari bangunan candi," ujarnya. (achmad arianto/hn) Editor : Jawanto Arifin