BAGI sebagian orang, nama Ranu Segaran tentunya sudah tidak asing di telinga.
Danau yang berada di Desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo ini, merupakan salah satu potensi wisata Kabupaten Probolinggo.
Namun siapa sangka di balik panorama alam yang indah, rupanya memiliki legenda yang mengakar kuat di lingkungan masyarakat setempat.
Yakni legenda moksanya dua kesatria sakti mandraguna hingga dipercaya menjadi penjaga abadi Ranu Segaran.
------------------
Konon saat zaman kerajaan Majapahit, terdapat dua kesatria sakti mandraguna yakni Raden Tirta dan Raden Segara.
Keduanya merupakan murid begawan agung dari lereng Gunung Lemongan.
Setelah menuntut ilmu kanuragan dan kebijaksanaan, mereka diperintahkan untuk melakukan tapa atau bersemedi.
Umumnya, semedi dilakukan di tempat yang tenang atau di dalam goa. Namun, hal itu berbeda dengan perintah begawan agung.
Raden Tirta dan Raden Segara justru di perintahkan tapa dengan cara kumkum (berendam, red) dalam air , dengan waktu yang cukup lama.
Yakni selama 40 hari 40 malam di Ranu Segaran. Perintah sang guru melakukan tapa, agar Raden Tirta dan Raden Segara memperoleh pusaka suci.
“Dua kesatria murid begawan agung setelah mencari ilmu di padepokan, mereka menjadi kesatria yang luar biasa. Lalu mereka diuji oleh gurunya, untuk mengambil pusaka dengan cara bertapa,” kata Pegiat Sejarah, Purnomo.
Setelah berhari-hari melakukan tapa kumkum tersebut, pada hari terakhir pusaka yang dicari muncul.
Pusaka yang muncul bukanlah pusaka biasa, melainkan sebuah selendang merah milik Dewi Rengganis yang menjadi simbol kemurnian dan kekuatan spiritual.
Tak lama berselang, sang pemilik yakni Dewi Rengganis juga menampakkan diri. Raden Tirta dan Raden Segara terkesima dengan kecantikan sang dewi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Alih-alih menjaga kesucian laku spiritualnya, ke dua kesatria ini justru terpikat dan terbawa hawa nafsu.
Munculnya sang dewi, membuat niat kedua kesatria ini berubah dari tujuan awal.
Sebelumnya, mereka melakukan tapa kumkum atas perintah guru untuk mendapatkan pusaka. Tetapi saat melihat sosok Dewi Rengganis justru tertarik.
Bahkan, Raden Tirta dan Raden Segara kemudian sama-sama berkeinginan untuk memiliki sang dewi.
Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu pertikaian. Akhirnya, kedua kesatria ini saling bertarung untuk memperebutkan Dewi Rengganis.
“Godaan datang ketika Dewi Rengganis menampakkan diri dengan kecantikan yang tiada tara. Dua kesatria ini kemudian bertarung,” ucapnya.
Pertarungan yang dilakukan ke dua kesatria yang memperebutkan Dewi Rengganis ini, justru membuat sang dewi tidak suka.
Akhirnya, dewi pun murka dan mengibaskan selendangnya kepada Raden Tirta dan Raden Segara.
Akibatnya, ke dua kesatria itu tenggelam dan menjadi penjaga abadi Ranu Segaran.
“Mereka berdua mendapatkan celaka, karena hanya menuruti nafsu. Tidak menuruti apa yang telah diperintahkan oleh gurunya,” tuturnya.
Kepala Desa Segaran, Budi Utomo mengatakan bahwa legenda moksanya dua kesatria sakti mandraguna tersebut, mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.
Bahkan, legenda tersebut telah diceritakan secara turun temurun hingga lintas generasi. Legenda tersebut sampai saat ini, masih tetap dipercaya dan lestari.
“Memang belum ditemukan bukti kuat baik barang ataupun benda peninggalan yang berkaitan dengan cerita Raden Tirta dan Raden Segara. Walaupun demikian, legendanya begitu melekat sehingga masih dipercaya oleh masyarakat,” imbuhnya. (ar/one)
—---------------------------------
Terus Bersolek Kini Jadi Destinasi Wisata
RANU Segaran masuk wilayah Desa Segaran, Kecamatan Tiris berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (Mdpl).
Dengan luas kelilingnya, mencapai 2 kilometer. Sementara lebarnya mencapai 34 hektare.
Danau tersebut, terbentuk akibat adanya intrusi magma dari Gunung Lemongan.
Lokasinya berada di sisi utara Gunung Lemongan, yang merupakan bekas kawah nonaktif yang tergenang air.
Begitu luasnya Ranu Segaran ini, hingga di kelilingi oleh tiga dusun. Sebelah barat merupakan Dusun Krajan, sebelah utara Dusun Paras, dan sebelah timur Dusun Gudang sekaligus menjadi akses utama untuk masuk ke area Ranu Segaran.
Kepala Desa Segaran, Budi Utomo mengatakan seiring berjalannya waktu, keberadaan Ranu Segaran yang memiliki panorama memukau tersebut, kini menjadi destinasi wisata.
Udara yang sejuk dan lingkungan yang asri, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk berwisata.
“Seiring berjalannya waktu, Ranu Segaran semakin bersolek menjadi destinasi wisata alam yang memiliki banyak pengunjung,” katanya.
Ranu Segaran saat ini, dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan. Selain sekedar menikmati panorama alam, ada kegiatan lain dengan konsep menyatu dengan alam, bisa dilakukan oleh pengunjung.
Diantaranya wahana air seperti perahu dan sepeda air yang bisa disewa saat berkunjung.
Lalu camping dan glamping yang bisa dilakukan oleh pengunjung yang ingin bermalam di area Ranu Segaran.
“Ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di sini. Tergantung selera pengunjung,” ucapnya.
Beberapa waktu lalu, Ranu Segaran menjadi pusat Seven Lakes Festival. Event ini menjadi simbol kebangkitan potensi alam dan pariwisata daerah.
Event yang digelar selama 7 hari tersebut, memiliki tujuan untuk meningkatkan pariwisata dan perekonomian berkonsep nature, culture tourism.
Ranu Segaran merupakan salah satu dari tujuh danau di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan potensi lokal, event ini menjadi ikon wisata tahunan yang memperkuat posisi Kabupaten Probolinggo sebagai destinasi wisata alam dan budaya di Jawa Timur.
“Bertahap fasilitas yang ada akan kami lengkapi. Mudah-mudahan kedepannya, Ranu Segaran lebih baik lagi dan menjadi salah satu wisata alam jujugan pengunjung,” tandasnya. (ar/one)
Editor : Fahreza Nuraga