Di sela persiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2026 di SMPN 6 Kota Pasuruan, tiga remaja berbincang santai. Sesekali mereka tertawa, lalu kembali serius membahas latihan. Lendra Kassaif, Mochammad Hafis Atha, dan Bagaskara Aji Nugraha, bukan hanya sahabat sekolah. Mereka trio atlet muda petanque Kota Pasuruan yang terus menorehkan prestasi.
Fahrizal Firmani, Radar Bromo, Pasuruan
USIA mereka baru 15 tahun. Meski belum genap dua tahun dipasangkan dalam nomor triple men, sederet medali bergengsi telah mereka raih, mulai tingkat provinsi hingga nasional.
Kini, mereka memiliki mimpi yang sama, yakni menjadi atlet pelatnas dan membela Indonesia di ajang internasional.
Perjalanan ketiganya di dunia petanque sebenarnya kebetulan. Mereka justru menekuni cabang olahraga lain sebelum dikenalkan pada petanque oleh guru olahraga SMPN 6 Pasuruan, Budi Utomo.
Bagaskara atau Bagas, misalnya, sebelumnya aktif bermain sepak bola. Bahkan, ibunya sempat kurang setuju ketika ia memutuskan beralih ke petanque karena olahraga itu belum banyak dikenal.
Baca Juga: Atlet Kota Pasuruan Sabet Prestasi di Kejuaraan Tingkat Pelajar Petanque
"Pak Budi yang memperkenalkan saya pada petanque. Dia guru olahraga saya di SMPN 6. Justru karena belum terlalu dikenal saya jadi tertarik," katanya.
Hal yang sama dialami Lendra dan Atha. Keduanya mengenal petanque sejak kelas VII SMPN 6 Pasuruan. Sebelum itu, mereka sempat menekuni atletik. Rasa penasaran terhadap olahraga yang mengandalkan ketepatan lemparan itu membuat mereka memilih fokus menjadi atlet petanque.
"Alhamdulillah ayah dan ibu sangat mendukung. Pak Budi yang memperkenalkan pada saya. Saya tertarik karena olahraga ini terbilang unik," sebut Atha yang diamini oleh Lendra.
Kini ketiganya kerap dipasangkan dalam nomor triple men. Sementara Bagas dan Lendra juga bermain bersama di nomor double men.
"Saya main double men berpasangan dengan Lendra. Atau main triple men dipasangkan dengan Lendra dan Atha. Sudah setahun terakhir ini," ujar Bagas.
Menurut Bagas, petanque memiliki 11 nomor pertandingan. Yaitu, single men, single women, double men, double women, double mix, triple men, triple women, beregu putra, triple mix, shooting men, dan shooting women.
Pertandingannya menggunakan sistem poin selama 60 menit. Tim yang lebih dulu mencapai 11 poin menjadi pemenang. Jika hingga waktu habis belum ada yang mencapai angka tersebut, tim dengan poin tertinggi menang. Apabila poin masih imbang, pertandingan dilanjutkan dengan satu game tambahan.
Meski terlihat sederhana, petanque membutuhkan teknik, konsentrasi, dan ketahanan fisik. Lendra mengatakan, para pemain harus tetap fokus selama satu jam penuh. Mereka juga harus kuat bergantian jongkok dan berdiri selama pertandingan berlangsung.
Untuk menjaga kondisi fisik, mereka rutin menjalani latihan jogging sekitar lima kilometer selama 30 menit. Latihan dilakukan tiga kali sepekan. Pada Senin, Rabu, dan Jumat sepulang sekolah. Sekitar pukul 14.00.
Kedisiplinan mereka pun membuahkan hasil. Pada Kejurprov 2023 di Malang, Lendra dan Atha meraih perunggu nomor triple mix. Setahun kemudian, ketiganya mempersembahkan medali emas nomor triple men dan medali perak beregu putra pada Popda 2024 di Bangkalan.
Prestasi itu berlanjut pada Porprov Jawa Timur 2025 di Malang. Lendra dan Atha kembali menyumbangkan medali perak melalui nomor triple mix.
Lalu di ajang Open Pelajar Tingkat Nasional di Grati, Kabupaten Pasuruan pada akhir 2026, mereka meraih satu medali emas nomor shooting beregu. Juga satu medali perak nomor double 4 to 4.
Selanjutnya, saat Open Pelajar Tingkat Nasional di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Juni 2026, Lendra dan Atha kembali membawa pulang medali. Yaitu, medali emas nomor double men serta medali perunggu nomor triple men.
Di balik keberhasilan itu, kekompakan menjadi modal utama. Ketiganya terbiasa menghabiskan waktu bersama karena berasal dari sekolah yang sama. Mereka sering mengobrol dan bermain bersama di luar latihan untuk menjaga chemistry saat bertanding.
Kini mereka memang akan melanjutkan pendidikan ke sekolah berbeda. Namun persahabatan dan latihan tetap menjadi prioritas.
"Lendra dan Bagas keterima di SMAN 3 Pasuruan. Sementara saya diterima di SMKN 2 Pasuruan. Kami bisa diterima lewat jalur prestasi," sebut Atha yang diamini oleh Lendra dan Bagas.
Meski telah mengoleksi berbagai medali, ketiganya sepakat perjalanan mereka masih panjang. Mereka memiliki cita-cita yang sama.
"Kami ingin menjadi atlet pelatnas. Bisa meraih gelar di ajang internasional mewakili Indonesia. Juga menjadi atlet andalan Kota Pasuruan dan Jawa Timur," tutur Lendra, Bagas, dan Atha kompak.
Pelatih mereka, Budi Utomo, optimistis mimpi tersebut bisa diwujudkan. Menurutnya, usia 15 tahun merupakan modal besar untuk berkembang menjadi atlet nasional. Apalagi mereka sudah memiliki pengalaman dan prestasi di tingkat kejurprov, porprov, hingga kejurnas.
"Usia emas seorang atlet itu di usia 20 tahunan. Di usia yang masih 15 tahun, asal dibarengi dengan kerja keras dan pantang menyerah, saya yakin mereka bisa mewujudkan mimpinya," kata Budi.
Berawal dari ajakan seorang guru, Lendra, Bagas, dan Atha kini terus melangkah membawa nama Kota Pasuruan di berbagai kejuaraan.
Dengan semangat berlatih, kekompakan, dan mimpi yang sama, ketiganya berharap suatu hari bisa berdiri di panggung internasional mengenakan seragam Merah Putih. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi