Di antara kepulan kopi dan riuh percakapan anak muda, sebuah kegelisahan kecil tumbuh. Bukan tentang tren yang sedang ramai, bukan pula tentang mengejar gemerlap dunia. Kegelisahan itu sederhana: mengapa membaca belum menjadi sesuatu yang dekat dengan anak muda?
INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo
Pertanyaan itu berawal dari sebuah meja warung kopi pada akhir Juni 2024. Beberapa anak muda di Kota Probolinggo berbincang tentang banyak hal. Dari obrolan yang semula biasa-biasa saja, muncul gagasan untuk membuat sebuah ruang kecil yang mempertemukan orang dengan buku. Dari sanalah Titik Baca lahir.
Ahmad Ali, 21, founder Titik Baca mengatakan, gerakan tersebut bermula dari keresahan dirinya bersama sejumlah anak muda. Mereka melihat, budaya membaca masih dianggap asing bagi sebagian masyarakat.
Ali ingin mengubah anggapan bahwa buku hanya milik mereka yang berpendidikan tinggi atau memiliki banyak uang. Menurutnya, membaca semestinya menjadi ruang terbuka yang dapat dimasuki siapa saja.
“Selama ini, masyarakat menilai membaca buku hanya dapat diakses oleh kaum intelektual dan kaya raya. Padahal tidak demikian,” katanya.
Kegelisahan itu semakin kuat ketika Ali melihat stigma terhadap anak muda Probolinggo. Anak muda kerap dianggap apatis, mudah mengikuti tren, dan sekadar menjadi bagian dari fear of missing out (FOMO). Tanpa sempat bertanya apakah sesuatu yang diikuti benar-benar memberi makna.
Baca Juga: Pemerintah Desa Pohsangit Tengah di Wonomerto Bangun Sumber Daya Manusia dengan Perkuat Literasi
Ali dan teman-temannya kemudian memilih jalan yang sederhana. Mereka tidak mendirikan gedung perpustakaan. Tidak pula menunggu sebuah ruang khusus tersedia. Mereka membawa buku-buku itu ke ruang publik secara gratis.
Alun-Alun Kota Probolinggo dipilih sebagai tempat bertemu. Di sanalah belasan hingga puluhan buku dihamparkan. Novel, sastra, filsafat, agama, hingga berbagai bacaan lainnya dibiarkan terbuka bagi siapa saja yang ingin mendekat. Buku-buku itu seolah menjadi pintu. Siapa pun boleh membukanya.
“Alun-Alun Kota Probolinggo kami pilih karena masyarakat banyak yang berkunjung ke sini, terutama ketika weekend. Kami biasanya menggelar kegiatan ini setiap Minggu pagi atau sore,” tutur Ali.
Di tengah orang-orang yang berjalan, anak-anak bermain, pedagang menawarkan dagangan, dan keluarga menghabiskan waktu bersama: Titik Baca menciptakan sebuah ruang yang berbeda.
Ada mereka yang duduk dan membaca. Ada yang datang sekadar melihat-lihat. Ada pula yang awalnya hanya menemani teman, kemudian tertarik mengambil sebuah buku. Dari halaman-halaman yang dibaca perlahan, percakapan pun tumbuh.
Titik Baca tak berhenti pada aktivitas membaca. Setelah membaca selama sekitar 30 menit, para peserta diajak menceritakan kembali apa yang mereka dapatkan dari buku yang dibaca. Sederhana, tetapi di situlah proses berbagi pengetahuan berlangsung.
“Setelah itu, mereka akan menceritakan kembali apa yang telah dibaca, sehingga seperti transfer ilmu ke rekan lainnya. Di sana akan terjadi dialektika antarorang,” katanya.
Bagi Ali, membaca bukan sekadar aktivitas memindahkan tulisan dari halaman menuju kepala. Membaca adalah cara untuk bertemu dengan pemikiran orang lain, melihat dunia melalui mata yang berbeda, sekaligus mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap benar.
Ia percaya, semakin banyak seseorang membaca, semakin luas pula jendela yang dimilikinya untuk melihat kehidupan.
Salah satu hal yang membuatnya bertahan adalah perubahan kecil yang ia lihat pada para peserta. Beberapa remaja yang semula mengaku tidak memiliki ketertarikan terhadap buku, perlahan menemukan bacaan yang mereka sukai.
Ada yang menemukan pintu masuk melalui novel. Bahkan ada yang sebelumnya kurang berminat membaca, jadi suka membaca.
“Ternyata dia lebih suka baca novel. Akhirnya hobi membaca tersebut masuk lewat novel. Sekarang dia bahkan memiliki banyak pandangan terhadap sekitarnya, ya dari membaca,” jelasnya.
Buku, bagi sebagian orang mungkin hanya benda yang tergeletak di rak. Namun bagi mereka yang mulai mencintainya, buku dapat menjadi semacam cermin.
Ia memantulkan kehidupan, memperkenalkan dunia yang belum pernah dikunjungi. Sekaligus mengajarkan bahwa setiap persoalan bisa dilihat lebih dari satu sisi.
Karena itulah, Ali berharap rasa ingin tahu tidak boleh dibiarkan padam. "Jadikan ajang ingin tahu itu ajang rebutan,” katanya.
Titik Baca juga tidak berjalan sendirian. Mereka sesekali berkolaborasi dengan berbagai gerakan literasi lain di Kota Probolinggo. Kolaborasi tersebut menjadi cara untuk memperluas ruang bertemu, sekaligus menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak harus lahir dari ruang-ruang formal.
Namun perjalanan itu bukan tanpa keraguan. Ali menyadari bahwa budaya membaca masih menghadapi tembok stigma.
Ada anggapan bahwa membaca tidak menghasilkan keuntungan secara langsung. Ada pula pertanyaan sederhana yang kadang muncul: untuk apa membaca jika tidak menghasilkan uang? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi tantangan tersendiri bagi Titik Baca.
“Sebab ya itu tadi, membaca masih menjadi hal yang tabu. Untuk apa membaca, tidak menghasilkan profit dan sebagainya. Kami harap kegiatan ini juga dapat support dari pemerintah,” terangnya.
Meski begitu, Titik Baca memilih tetap berjalan dengan konsep yang santai, tanpa menggurui. Kegiatan biasanya diawali dengan sesi membaca senyap. Tidak ada suara pengeras, tidak ada tuntutan untuk segera menyelesaikan sebuah buku.
Hanya ada orang-orang yang duduk, membuka halaman, lalu tenggelam beberapa saat dalam dunia yang diciptakan penulis.
Di tengah riuh Kota Probolinggo, barangkali itulah yang sedang mereka cari: sebuah jeda. Sebuah titik kecil untuk berhenti sejenak dari layar gawai, dari kejar-kejaran tren, dari percakapan yang tak pernah habis. Sebuah ruang untuk membaca, berpikir, lalu berbicara.
Sebab terkadang, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa lahir dari keresahan sederhana di sebuah meja warung kopi. Dan dari sana, siapa tahu, lahir satu generasi yang lebih gemar bertanya daripada sekadar ikut-ikutan. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi