Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Agus Lithanta: Sosok ASN, Pegiat Sosial, Seniman, dan Penggerak Literasi di Probolinggo

Muhammad Fahmi • Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05 WIB

 

DUA SISI: Agus Lithanta saat ditemui di ruang kerjanya. Inset Agus saat memainkan gitar saat acara di GOR Bayuangga.
DUA SISI: Agus Lithanta saat ditemui di ruang kerjanya. Inset Agus saat memainkan gitar saat acara di GOR Bayuangga.

 

Bagi Agus Lithanta, hidup adalah waktu yg dipinjamkan oleh Allah. Ia manfaatkan betul tiap waktunya untuk berbagai kegiatan positif. Di sela-sela kesibukannya sebagai aparatur sipil negara (ASN), ia aktif di berbagai organisasi yang ia pimpin. Ia pun masih meluangkan waktunya untuk dunia seni dan literasi yang jadi hobinya.

======================================

DI Indonesia, nama Agus Lithanta termasuk salah satu anomali. Lain dari kebanyakan lelaki bernama Agus lainnya. Biasanya, yang bernama Agus, merupakan kelahiran bulan Agustus. Namun Agus Lithanta berbeda.

Agus Lithanta lahir 27 Juni 1972. Kok bisa diberi nama Agus? “Yang memberikan nama itu ayah saya. Gus itu dari bahasa Madura yang juga berarti Mas,” kenangnya.

Sejatinya, nama aslinya adalah Agus Litanto yang diambil dari bahasa Jawa lama. Namun namanya diubah sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia. Jadilah namanya Agus Lithanta seperti saat ini.

“Nama saya saat ini cukup estetik untuk pria seumuran saya. Itu tak terlepas dari sosok ayahanda saya,” ujarnya.

Agus memang sangat mengagumi sosok ayahandanya yang merupakan seorang guru. Tak heran, ia pun mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang pengajar.

Awalnya, Agus jadi guru di Kabupaten Probolinggo. Persisnya di SDN Condong 1. Ia pun diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 1993.

Pada tahun 2000, ia memutuskan untuk pindah menjadi pegawai di Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo. Hal itu tak terlepas lantaran usai menikah, ia tinggal di Randuputih, Dringu. Jaraknya lebih dekat dengan kota daripada Condong.

Karirnya di dunia pendidikan pun melesat. Ia pernah terpilih sebagai juara 1 guru berprestasi tingkat SD se-Kota Probolinggo pada 2003.

Agus juga mendapat dua penghargaan dari Wali Kota Probolinggo pada 2005. Yakni, sebagai pegawai berprestasi serta PNS teladan dengan predikat Harapan Teladan 1.

Tak heran, Agus pun sudah dipercaya menjadi kepala sekolah di usia muda. Yakni saat masih 36 tahun. Ia pun kembali mengukir sejumlah prestasi. Mulai prestasi pribadi sebagai kepala sekolah hingga mengantar sejumlah sekolah yang dipimpinnya meraih sejumlah penghargaan seperti Adiwiyata.

Ada cerita menarik semasa Agus menjadi kepala sekolah. Sekolah yang ia pimpin kerap jadi media darling. Berbagai kegiatan di sekolahnya seringkali dimuat sejumlah media massa.

“Saat itu saya melihat banyak teman yang takut sama wartawan. Kalau saya, justru sebaliknya. Sebab, lewat wartawan, sejumlah ide, gagasan, dan kegiatan kita bisa diketahui khalayak,” kenangnya.

Kesuksesannya memimpin sejumlah sekolah itu, membuat Agus hampir tak pernah lama memimpin di tiap lembaga sekolah negeri di kota mangga.

Sejumlah sekolah yang pernah ia pimpin yakni SDN Jrebeng Wetan, SDN Sumberwetan 2, SDN Mangunharjo 2, SDN Kedungasem 4, SDN Tisnonegaran 2, hingga SDN Sukabumi 2.

Setelah jadi kepala sekolah di sejumlah tempat, Agus sempat jadi pengawas. Lalu jadi sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hingga kini mengemban amanah menjadi Kabag Umum Sekretariat DPRD Kota Probolinggo.

Agus Lithanta (baju garis-garis merah-putih) saat main ludruk dengan legenda ludruk Kota Probolinggo alm Cak Mukadi. (Dok. Radar Bromo)
Agus Lithanta (baju garis-garis merah-putih) saat main ludruk dengan legenda ludruk Kota Probolinggo alm Cak Mukadi. (Dok. Radar Bromo)

 

Aktif di Berbagai Organisasi

Sosok Agus Lithanta dikenal tak bisa diam. Tak heran, ia aktif di berbagai kegiatan sosial. Bahkan ditunjuk sebagai ketua di sejumlah organisasi yang digelutinya.

Saat ini Agus tercatat sebagai ketua PGRI Kota Probolinggo, ketua Dekopinda, ketua KPRI Eka Kapti Kota Probolinggo, hingga ketua komunitas Bromo Pro Litera. Ia juga aktif di Dewan Kesenian Kota Probolinggo dan sekretaris PMI periode 2021-2026.

Rupanya, kegemarannya aktif di kegiatan sosial itu juga menurun dari ayahnya. Sejak muda, Agus suka berorganisasi. Diawali dari aktif di karang taruna.

“Filosofi saya, hidup bukan hanya pinter-pinteran. Tapi banyak-banyakan teman dan jaringan,” selorohnya sambil tersenyum.

Bagaimana ia bisa mengatur waktunya? Bagi Agus, organisasi tak akan mengganggu waktunya bekerja. Apalagi di organisasi ada sebuah tim.

“Yang jadi prinsip hidup saya yakni komunikasi, koordinasi, diskusi, kolaborasi, dengan level tertinggi eksekusi,” pesannya.

Sosok Multitalenta

Selain aktif di berbagai organisasi, Agus Lithanta juga dikenal multitalenta. Di sela-sela kesibukannya mengajar dan berorganisasi, ia juga memiliki sejumlah kegiatan positif dari hobinya.

Mulai dari seni hingga dunia literasi. Dalam dunia seni, darah seniman Agus sudah terasah sejak ia masih kecil. Ia mampu menguasai sejumlah alat musik. Ia pun tergabung dalam sebuah grup musik orkes melayu.

Ia pula yang membidani lahirnya grup musik di lingkungan Disdikbud. Tak heran hingga kini dipercaya jadi pengurus Dewan Kesenian untuk Komite Musik. Ia juga tercatat aktif di dunia teater.

Selain sosok seniman, Agus juga merupakan tokoh penggerak literasi. Di sela-sela kesibukannya, ia meluangkan waktunya untuk menulis. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di media massa, salah satunya Jawa Pos Radar Bromo.

 

Ia kini juga tercatat telah menerbitkan sejumlah buku. Di antaranya, Best Practice: Membangun School Branding; Sekolah Hijau Generasi Cerdas: Implementasi Program Adiwiyata di Era Teknologi.

Serta Membranding Sekolah dengan Publikasi: Strategi Membangun Citra Pendidikan Unggul di Era Digital. Buku itu melampirkan kreativitasnya dalam wujud kliping koran yang pernah diliput Jawa Pos Radar Bromo dan media cetak lain. Buku itu akan diserahkan pada direktur Radar Bromo saat momen Radar Bromo Awards.

Dua bukunya juga dalam proses penerbitan. Yakni, Kisah Lucu dan Hikmah Orang Madura dan Antologi Cerpen dalam Sahaja Rindu, karya bersama kelompok Menulis Bromo Pro Litera. (mie/*)

Editor : Muhammad Fahmi
#agus lithanta #literasi #asn #probolinggo #seniman