Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Yuli Winanti, Guru asal Pasuruan yang Dua Karya Tulisnya Masuk Karya Inovel Terbaik Nasional

Fahrizal Firmani • Kamis, 21 Mei 2026 | 20:42 WIB

 BERPRESTASI: Yuli dengan karya terbaiknya.

BERPRESTASI: Yuli dengan karya terbaiknya.

Keterbatasan ekonomi saat sekolah membuat Yuli Winanti jarang jajan ke kantin. Dia lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca. Kebiasaannya ini membuat Yuli menjadi guru yang suka menulis. Sejumlah karya tulisnya pernah masuk dalam karya terbaik.

Fahrizal Firmani, Pasuruan, Radar Bromo

Yuli Winanti, 45, tersenyum saat diminta menunjukkan karya tulisnya. Tangannya menelusuri halaman berjudul Membuat Media Pembelajaran tentang Pengamatan Koloid. Kemudian beralih ke karya lain berjudul Lebih Kreatif dengan IPA Terpadu.

“Dua karya ini masuk nominasi nasional. Lebih Kreatif dengan IPA Terpadu masuk inovasi belajar (Inovel) terbaik kedua nasional,” ujarnya dengan mata berbinar, mengenang perjalanan panjangnya menekuni literasi.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Yuli sudah akrab dengan buku. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa jajan seperti anak-anak seusianya.

Alih-alih ke kantin untuk jajan, Yuli memilih ke ruang perpustakaan saat jam istirahat sekolah tiba.

Di rumah, tetangganya yang tidak bisa membacara sering meminta tolong padanya untuk membacakan majalah anak-anak Bobo. Lama-lama, Yuli mulai jatuh cinta pada kata-kata dan cerita.

Baca Juga: Temui Mahasiswa, Wali Kota Probolinggo Janji Kaji Kebijakan, Termasuk soal Bosda dan Honor Guru Ngaji

“Setiap kali ada edisi baru, saya selalu menjadi orang pertama yang bisa meminjam majalah,” kenangnya.

Kebiasaan membaca itu terus berlanjut hingga SMP dan SMA. Di masa-masa itu, ia juga lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sekolah daripada jajan ke kantin saat jam istirahat.

“Uang saku terbatas, jadi saat teman beli jajan ke kantin, saya ke perpustakaan. Setiap hari saat istirahat selalu main ke perpustakaan,” jelasnya.

Di perpustakaan, ia melahap berbagai jenis bacaan. Mulai novel, majalah, hingga buku pengetahuan umum. Dari majalah Aneka Yess dan Kawanku, Yuli mulai menyukai rubrik cerita pendek dan informasi tentang artis.

Tidak hanya itu. Selama sekolah Yuli biasa meminjam buku paket (mapel) dari temannya untuk dirangkum. Sebuah kebiasaan yang memaksanya membaca sebelum menulis rangkuman.

Hal itu dilakukan karena keluarganya tidak sanggup membelikannya buku paket. Ayahnya hanya mengandalkan jual beli besi tua di Pasar Comboran, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa.

“Penghasilan ayah tidak menentu. Jadi saya selalu merangkum dengan meminjam buku milik teman,” ungkapnya.

Keterbatasan ekonomi juga memengaruhi pilihan studinya. Yuli memilih pendidikan fisika karena ingin cepat bekerja dan mandiri. Selain itu, menjadi pendidik adalah impian sejak kecil.

“Ayah bilang tidak mampu menguliahkan saya. Karena itu, sejak masuk kuliah, biaya dibantu oleh empat orang kakak,” ujarnya.

Namun ia tidak hanya mengandalkan bantuan keluarga. Selama kuliah di Universitas Negeri Jember, Yuli bekerja sebagai asisten dosen dan tutor di lembaga bimbingan belajar.

Honor dari dua pekerjaan ini digunakan untuk kebutuhan sekunder. Seperti membeli pakaian atau perlengkapan pribadi.

Setelah menikah, Yuli mengikuti suaminya ke Kabupaten Pasuruan. Awalnya ia mengajar di lembaga bimbingan belajar sebelum menjadi guru honorer di SMKN Grati dan SMPN 8 Kota Pasuruan.

Di sela kegiatan mengajar, ia juga menjadi asisten dosen di Universitas Merdeka Pasuruan untuk mata kuliah profesi pendidikan.

Pada 2006, Yuli resmi menjadi PNS dengan formasi SMK, meski akhirnya ditempatkan sebagai guru fisika di SMPN 8.

Gaji PNS digunakan sebagian untuk membangun rumah, sehingga Yuli mencari penghasilan tambahan dengan cara lain. Dan pilihannya kembali pada menulis.

Pada 2008, ia mengikuti lomba karya tulis ilmiah dengan judul Membuat Media Pembelajaran tentang Pengamatan Koloid. Karya ini menyoroti masalah lingkungan di sekitar sekolah.

Misalnya, sungai depan SMPN 8 yang keruh dijadikan tantangan: Yuli mengajak siswa membersihkannya menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti arang, pasir, sapu, dan botol mineral.

“Air sungai bisa kembali bersih. Dan ini masuk Top 9 pada Seminar Nasional 2018,” ceritanya.

Karya lain yang membawanya ke prestasi nasional adalah Lebih Kreatif dengan IPA Terpadu, yang meraih juara 2 Inovasi Belajar (Inovel) Nasional pada 2014.

Karya ini mengajarkan siswa tentang laut sebagai sumber kehidupan. Mulai dari ekosistem laut hingga fotosintesis tanaman air.

Tak hanya menulis karya ilmiah, Yuli juga menyalurkan imajinasinya melalui karya fiksi. Ia menulis buku berjudul Priestley dan Kunci Ajaib, yang berisi enam cerita dengan menggabungkan ilmu fisika, kimia, dan biologi.

Cerita-ceritanya memadukan fakta ilmiah dengan kisah imajinatif, dari proses fotosintesis hingga pernapasan manusia. “Total ada 10 karya tulis yang saya buat sejak 2008. Di luar itu ada dua fiksi dan dua masuk nasional,” ujarnya.

Bagi Yuli, menulis bukan sekadar hobi, tetapi juga cara membagikan pengetahuan dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Ia menilai, meski generasi saat ini memiliki rasa ingin tahu tinggi, minat baca mereka rendah.

Salah satu strategi Yuli adalah “menagih” siswa untuk menulis. Misalnya, meminta mereka membuat cerita tentang kegiatan sekolah atau pengalaman di Pondok Ramadan. “Saat ditagih menulis, siswa akan dipaksa membaca,” ujarnya.

Perjalanan Yuli Winanti membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi. Dari membacakan majalah untuk tetangga, hingga meraih penghargaan nasional; menunjukkan bahwa ketekunan, cinta ilmu, dan kreativitas bisa melampaui segala keterbatasan.

Perempuan kelahiran Juli 1981 ini adalah bukti nyata bahwa kecintaan pada literasi bisa mengubah hidup. Sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus membaca, menulis, dan bermimpi tinggi. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#guru #karya tulis #pasuruan #nasional