Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duka Keluarga Siswa SD di Nguling Pasuruan yang Meninggal setelah Makan Mi Instan-Soda saat Perut Kosong

Fuad Alyzen • Senin, 11 Mei 2026 | 10:05 WIB
BERDUKA: Ainul Yakin ayahanda Raf (Inset) saat ditemui di rumahnya. (Foto: Fuad Alyzen Jawa Pos Radar Bromo)
BERDUKA: Ainul Yakin ayahanda Raf (Inset) saat ditemui di rumahnya. (Foto: Fuad Alyzen Jawa Pos Radar Bromo)

Suasana duka menyelimuti Dusun Kedundung, Desa Watuprapat, Kecamatan Nguling. Di sebuah rumah sederhana, Ainul Yakin, 36 dan Tika Wella, 26, masih berusaha tegar melepas kepergian putra tercinta mereka, Raf, 10. Bocah kelas 3 SDN 3 Watuprapat itu mengembuskan nafas terakhirnya Jumat (8/5) pagi dan meninggalkan luka mendalam sekaligus pelajaran berharga bagi para orang tua.

FUAD ALYZEN, Nguling, Radar Bromo

Terik matahari menyinari pesisir pantai Desa Watuprapat. Di sebuah rumah berjejer dua menghadap selatan, terlihat banyak orang tengah sibuk memasak. Ada yang membuat kue dan lainnya. Ada yang berbincang ringan.

Berbeda dengan pemilik rumah tersebut Ainul Yakin bersama keluarga. Dia masih teringat akan Raf, anak bungsunya yang masih membekas jelas. Bocah itu biasanya bermain setiap hari main di teras rumah dan halaman.

Ainul Yakin masih mengenang bila Raf mau berangkat ke ngaji ke madrasah yang biasanya harus berdrama dulu. Sekedar minta uang setiap jajanan atau diantar. Kini itu sudah tinggal kenanangan.

Raf dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria. Namun, di balik kelincahannya, ia memendam keluhan tak enak badan yang sudah dirasakan beberapa hari sebelumnya.

Sifatnya yang gigih membuatnya tetap memaksakan diri berangkat ke sekolah, meski pagi itu ia sempat muntah sebelum melangkah keluar rumah.

Kebiasaan jarang sarapan dan kegemaran mengonsumsi makanan instan diduga menjadi pemicu petaka.

"Anaknya memang susah disuruh makan di rumah. Dia lebih suka jajan di luar, seperti di sekolah atau madrasah. Kalau di rumah, tidak mau menunggu lama untuk makan," kenang sang ayah dengan nada lirih.

Kamis (7/5) menjadi hari terakhir Raf mengikuti pelajaran. Usai berolahraga, ia sempat menyantap mie instan di sekolah—makanan favoritnya.

Tak lama setelah kembali ke kelas, Raf muntah dan pingsan. Saat diantar pulang oleh gurunya sekitar pukul 11.00, kondisi Raf memburuk.

Dari mulutnya mulai keluar busa, hingga memicu histeris keluarga yang langsung melarikannya ke Puskesmas Nguling.

Ainul yang saat itu bekerja di Surabaya, bergegas pulang demi sang buah hati. Di puskesmas, ia hanya fokus pada kesembuhan Raf tanpa menaruh curiga pada siapapun.

Sempat sadar hingga malam hari, namun takdir berkata lain. Pukul 06.00 keesokan harinya atau Jumat (8/5), Raf dinyatakan meninggal dunia akibat asam lambung yang naik drastis.

Meski pedih, pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian Raf sebagai musibah. Penjual mie di sekolah pun telah datang meminta maaf dan disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga.

"Kami sudah memaafkan, ini sudah suratan takdir usia anak saya sampai di sini. Harapan saya kepada orang tua lainnya, tolong jagalah pola makan anak-anak agar tidak mengalami hal seperti anak saya," ujar Ainul Yakin penuh ketulusan.

Senada dengan sang suami, Tika Wella berharap perhatian terhadap asupan nutrisi anak di lingkungan sekolah semakin ditingkatkan.

Di tengah kabar program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum menjangkau desa mereka, kesadaran orang tua menjadi benteng utama.

Tika menuturkan, Raf dikenal sebagai anak yang sangat aktif. Bahkan, ketika tubuhnya mulai memberikan sinyal tidak sehat beberapa hari sebelumnya, bocah kecil ini memilih tak banyak bicara. Ia tetap ingin berangkat sekolah, mengenakan seragam kebanggaannya, dan bertemu teman-temannya.

Pagi itu, sebelum berangkat, Raf sebenarnya sudah muntah. Perutnya kosong karena ia memang tipe anak yang sulit disuruh sarapan.

"Anaknya memang agak susah kalau disuruh makan di rumah. Kadang mau, tapi lebih seringnya memilih jajan di luar," tutur Tika Wella dengan mata berkaca-kaca.

Di sekolah, semangat Raf tak luntur. Ia bahkan tetap mengikuti pelajaran olahraga yang menguras fisik. Setelah lelah bergerak, ia membeli mie instan—makanan kegemarannya.

Namun, itu menjadi makanan kegemaran Raf yang terakhir disantap. Sesaat setelah masuk kelas pasca olahraga, ia kembali muntah. Kali ini yang keluar adalah mie yang baru saja ia makan, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

Kini, keceriaan Raf hanya tinggal kenangan di SDN 3 Watuprapat, tempatnya bersekolah. Namun, pesan dari balik kepergiannya sangat jelas, kesehatan anak adalah prioritas yang tak boleh ditawar oleh rasa enggan makan atau godaan makanan instan. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#soda #mie instan #pasuruan #meninggal dunia #nguling