Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sri Wahyuni yang Puluhan Tahun Menjadi Pekerja Sosial Masyarakat, Tak Ada Hari Libur bila Menolong Orang

Fahrizal Firmani • Rabu, 6 Mei 2026 | 05:33 WIB
SEPENUH HATI: Sri Wahyuni saat menolong lansia terlantar. Sudah puluhan tahun dia menjadi pekerja social masyarakat (kanan). Sri Wahyuni saat ditemui di kantor Dinas Sosial Kota Pasuruan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
SEPENUH HATI: Sri Wahyuni saat menolong lansia terlantar. Sudah puluhan tahun dia menjadi pekerja social masyarakat (kanan). Sri Wahyuni saat ditemui di kantor Dinas Sosial Kota Pasuruan. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

Ingin membantu masyarakat rentan dan miskin menjadi alasan Sri Wahyuni mengabdi sebagai pekerja sosial masyarakat (PSM). Motivasinya sederhana, melihat senyum bahagia di wajah mereka yang membutuhkan. Setelah diangkat menjadi PPPK Kemensos, dia memilih tidak meninggalkan tanggung jawab itu.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Pilihan Sri Wahyuni menjadi PSM bermula dari keinginannya menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Perempuan 51 tahun asal  Kelurahan Tembokrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan ini menjadi PSM pada 2005 silam. Fokusnya adalah membantu melayani masalah kesejahteraan sosial di masyarakat.

Ada 26 kriteria masalah sosial yang menjadi tanggung jawab PSM. Mulai dari lanjut usia (lansia) terlantar, anak disabilitas, penyandang disabilitas, fakir miskin, wanita rawan sosial, anak jalanan (anjal) hingga gelandangan pengemis (gepeng). Pelayanannya menyesuaikan kebutuhan.

Misalnya gepeng, ia melakukan asesmen berupa mencari identitas, keluarga yang dimiliki hingga tempat asal.

Jika gepeng punya keluarga, maka yang bersangkutan dikembalikan ke domisilinya. Namun jika tidak punya, maka ia dibawa ke panti milik Pemprov Jatim. Di panti ini mereka diberi pelatihan agar bisa mandiri.

Penanganan berbeda dilakukan pada anak jalanan (anjal). Rata-rata anjal ini adalah anak usia sekolah yang masih memiliki orang tua. Mereka dikembalikan ke orang tua dan membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya.

"Anjal ini biasanya berasal dari keluarga tidak mampu atau broken home. Keluarga ada tapi kurang mendapat perhatian," kata Yuni-sapaannya.

Warga Jalan Kyai Mansyur ini menyebut tidak mudah dalam menangani masalah sosial ini. Terkadang ada gepeng dan anjal yang kembali lagi meski sudah diberi pemahaman jika perbuatan mereka salah.

Alasan dari anjal karena mereka bisa dapat uang melalui mengamen atau meminta di perempatan lampu merah.

Sementara gepeng biasanya suka mengemis karena hasil yang diperoleh besar. Tidak jarang dia menemukan gepeng beraksi dengan membawa anaknya. Rata-rata mengemis sudah menjadi budaya dan pekerjaan mereka.

"Kata orang tua mereka, anjal ini sudah dilarang namun mereka pergi tanpa sepengetahuan mereka," sebut lulusan SMEA negeri kota Pasuruan ini.

Perempuan kelahiran Februari 1975 ini menuturkan, pada 2009 lalu, ia menjadi tenaga kesejahteraan sosial (TKSK) Purworejo. Rekrutmen ini dilakukan serentak se Indonesia melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Peran dan fungsi TKSK dan PSM sama, namun memiliki kewenangan lebih luas.

TKSK bertanggung jawab se-Kecamatan Purworejo. Lalu pada 2019 hingga 2024, ia dipercaya menjadi ketua PSM Kota Pasuruan. Sebagai ketua PSM, tanggung jawabnya lebih luas. Ia bertanggung jawab pada masalah sosial di empat kecamatan.

Saat menjadi PSM Kelurahan Tembokrejo, tanggung jawabnya murni dari hati. Karena tanpa honor. Ia termotovasi memberikan kebahagian bagi yang membutuhkan. Utamanya warga yang rentan dan tidak mampu. Baru ada honor saat menjadi TKSK melalui insentif dari kementerian.

Kemudian sejak tahun lalu, sulung tiga bersaudara ini menjadi PPPK Kemensos dan memiliki tugas di sekolah rakyat menengah pertama 28 (SRMP). Namun meski telah menjadi PPPK di SR, dia tidak meninggalkan tanggung jawab sebagai PSM. Meski hari libur, dia tetap terjun membantu masyarakat yang membutuhkan.

"Justru doa yang dirapalkan oleh mereka inilah menjadi rezeki buat saya. Diangkat PPPK juga berkat doa mereka," sebut anak dari pasangan suami istri Chamid dan Sulastri ini.

Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Pasuruan, Kokoh Arie Hidayat menuturkan, Sri Wahyuni sebagai relawan sudah sangat lama dan kinerjanya sangat baik.

Bahkan ketika yang bersangkutan diterima sebagai PPPK di sekolah rakyat, awalnya menolak ke saya karena sangat memperhatikan penerima manfaat yang selalu didampinginya.

Ia merupakan relawan yang betul-betul rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk kepentingan penduduk rentan. Di antaranya penyandang disabilitas berat, orang terlantar maupun penduduk miskin yang membutuhkan bantuan pemerintah.

"Saya membujuknya agar menerima pekerjaan di sekolah rakyat sebagai PPPK karena memang sebagai bentuk penghargaan pemerintah. Terlepas ia tetap membaktikan dirinya sebagai relawan," tutur Kokoh. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#pekerja sosial #jiwa sosial #dinas sosial