Dari ruang podcast kecil di SMP Negeri 9 Kota Probolinggo, lahir 1.073 buku karya siswa dan guru. Ribuan karya itu dijuluki Seribu Literasi, menandai tumbuhnya budaya literasi di sekolah tersebut. Kini, karya-karya itu tidak hanya tersusun di rak. Namun juga terarsip digital dan mengantarkan sekolah ini menuju Rekor MURI.
ARIF MASHUDI, Kanigaran – Radar Bromo
Di sela jam istirahat sekitar pukul 09.30, ruang podcast SMP Negeri 9 Kota Probolinggo tampak hidup. Ruangan berukuran sekitar 3 x 6 meter itu tidak hanya menjadi tempat berbincang tetapi juga etalase mimpi.
Betapa tidak, ratusan buku karya siswa dan guru tersusun rapi di rak. Sebagian sudah dicetak dan sekitar 80 lainnya masih dalam proses editing.
Total kini sebanyak 1.073 buku telah dihasilkan. Seluruhnya juga telah terarsipkan secara digital melalui website sipintar9.com. Sehingga bisa dibaca langsung melalui smartphone.
“Alhamdulillah, sampai sekarang sudah 1.073 buku karya siswa dan guru yang telah dibuat. Semua buku itu telah dimasukan dalam majalah sekolah digital dan terarsipkan secara digital melalui website sipintar9.com,” kata Kepala SMPN 9 Kota Probolinggo Qamaruddin.
Capaian itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Di balik deretan buku itu, tersimpan perjalanan panjang lahirnya budaya literasi yang kini mengakar.
Program literasi itu sendiri, menurut Qamaruddin, berasal dari program pemerintah pada tahun 2018 yang bertujuan meningkatkan budaya literasi siswa dan guru. Saat itu, banyak siswa yang membuat catatan-catatan kecil. Namun kerap hilang karena tidak dibukukan.
Program itu sempat terhenti. Lalu kembali digerakkan pada Oktober 2025 melalui lomba menulis.
“Kami sempat mau mulai lagi tahun 2020, tapi tidak sampai terealisasi. Kemudian pada Oktober 2025, saya putuskan untuk mengadakan lomba menulis bagi siswa,” terangnya.
Sebanyak 138 siswa dari perwakilan tiap kelas mengikuti lomba tersebut. Mereka tidak langsung diminta menulis, tetapi terlebih dahulu diberi pelatihan. Mulai dari teknik menulis hingga desain dan layout.
Pelatihan dilakukan hingga empat kali. Lalu, para peserta diminta menularkan ilmunya kepada teman sekelas. Dari proses itu, seluruh siswa yang mencapai 782 anak akhirnya menulis berbagai karya.
Mulai novel, cerpen, autobiografi, hingga buku motivasi. Bahkan, 38 guru turut menyumbang 73 buku.
Proses itu tidak selalu mudah. Banyak siswa kesulitan menemukan ide hingga memahami aturan penulisan.
Namun perlahan, kebiasaan itu terbentuk melalui jam literasi yang rutin dijalankan sekolah. Yaitu, 15 menit setiap Senin hingga Kamis dan satu jam penuh pada Jumat dan Sabtu.
“Waktu tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk membaca, sekaligus menulis. Sebuah kewajiban yang menargetkan setiap siswa mampu menerbitkan minimal tiga buku selama tiga tahun,” terangnya.
Gerakan ini pun berkembang. Dari sekadar kampanye gemar membaca menjadi kewajiban menulis bagi seluruh warga sekolah. Mulai siswa, hingga guru.
Hingga akhirnya, dihasilkan 1.073 karya buku. Kini SMPN 9 Kota Probolinggo tengah mengajukan pencapaian tersebut ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
“Insyaallah, capaian siswa dan guru dengan Seribu Literasi ini memecahkan Rekor MURI,” ucap Qamaruddin.
Di antara para siswa, pengalaman menulis menjadi cerita tersendiri. Aurellia Zetta Widi Nathania, siswi kelas IX telah menulis dua buku berjudul Antologi Jepang dan Tentang Kita dan Waktu. Ia menemukan ide dari novel, film, hingga pengalaman pribadi.
“Saya mengambil referensi dari novel lain, sering menonton film, lalu mengembangkan ide menjadi novel yang saya tulis,” terangnya.
Hal serupa dirasakan Naurah Cordelliana. Ia menulis autobiografi dan cerpen, dan merasakan perubahan dalam dirinya sejak mulai menulis. “Menulis itu asyik dan menyenangkan. Terpenting harus mau dan berani memulai,” ucapnya.
Perkembangan ini juga menarik perhatian berbagai pihak. Kepala BBPMP Provinsi Jawa Timur Praptono menilai, capaian tersebut sebagai kemajuan yang cepat dan konsisten.
“Budaya literasi di SMPN 9 Kota Probolinggo telah menunjukkan hasil yang signifikan. Dari 1.073 buku judul cerita yang disusun oleh murid di sana, sudah dicetak dalam waktu kurang dari dua bulan. Ini menunjukkan kemajuan yang cepat dan konsisten,” ungkapnya.
Melalui aplikasi SIPINTAR, karya-karya itu kini tidak hanya berhenti di rak sekolah. Namun menjangkau pembaca lebih luas, bahkan hingga luar negeri.
”Capaian ini luar biasa, terutama karena literasi merupakan salah satu program prioritas Kemendikdasmen. Kami akan ajukan ke Kemendikdasmen tentang capaian Seribu Literasi ini,” terangnya.
Hasil ini juga mendapat atensi dan dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo. Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Siti Romlah menilai, capaian SMPN 9 Kota dengan Seribu Literasi merupakan bentuk keseriusan untuk menanamkan literasi pada siswa dan guru.
”Kami selalu mendukung program peningkatan literasi di sekolah dan siap memberikan pendampingan,” terangnya.
Di ruang kecil itu, buku-buku bukan sekadar tumpukan kertas. Mereka adalah bukti bahwa keberanian untuk memulai dapat mengubah kebiasaan, bahkan menciptakan sejarah. Mulai dari catatan sederhana, hingga menghasilkan karya yang dibaca banyak orang. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi