Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalan Berliku Agus Ari Iswianto, Eks Penggawa Persekabpas yang Kini Jadi Kepala Pengelola Pasar Gempol dan Melatih SSB

Rizal Syatori • Kamis, 23 April 2026 | 21:44 WIB
DULU-KINI: Agus Ari Iswianto yang kini jadi kepala Pengelola Pasar Gempol Pasuruan. Agus Ari saat memperkuat Persekabpas (foto kiri) dan skuadra Persekabpas yang diperkuat Agus Ari di musim 2002 silam. (Rizal Syatori/Radar Bromo- Dok Pribadi)
DULU-KINI: Agus Ari Iswianto yang kini jadi kepala Pengelola Pasar Gempol Pasuruan. Agus Ari saat memperkuat Persekabpas (foto kiri) dan skuadra Persekabpas yang diperkuat Agus Ari di musim 2002 silam. (Rizal Syatori/Radar Bromo- Dok Pribadi)

Di tengah rutinitas mengelola Pasar Gempol sebagai seorang PNS Pemkab Pasuruan, Agus Ari Iswianto, 47, menyimpan identitas lain yang tak pernah ia tinggalkan. Yaitu, mantan pemain sepak bola profesional. Dia pernah memperkuat Persekabpas di Liga 2 pada 2002.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

Warga Perum Gempol Citra Asri, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, itu kini menjabat sebagai Kepala Pengelola Pasar Gempol.

Namun jauh sebelum duduk di kursi birokrasi, ia pernah berdiri di bawah sorotan lampu stadion sebagai pemain profesional.

“Jauh sebelum menjadi PNS dan kepala pasar seperti sekarang, dulunya saya pemain sepak bola. Salah satunya pernah memperkuat Persekabpas di Liga 2 tahun 2002,” terang Agus.

Memang hanya satu musim dia memperkuat tim berjuluk Laskar Sakera itu. Namun itu merupakan bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Saat itu, ia memperkuat Persekabpas bersama sejumlah pemain terkenal lain. Seperti Eki Sabilillah, Selamet, Rosidi, Ahmad Ariadi, Suwanto, Kasan Sholeh, Teguh, Panji Setyo, Zulhi, dan Heru.

Baca Juga: Persekabpas Menatap Musim Baru, Mulai Seleksi Kerangka Awal Tim, Siapkan Uji Coba dengan Pasuruan United

Dalam musim tersebut, Persekabpas berhasil menembus Liga 1. Sebuah pencapaian besar bagi klub daerah. Walaupun bagi Agus, perjalanan itu hanya berlangsung satu musim.

Ia sempat mencoba peruntungan lain dengan mengikuti seleksi Persik dan Arema di Liga 1. Namun kesempatan itu tak berlanjut ke kontrak resmi.

Setelah itu, jalan hidupnya mulai berbelok. Tahun 2003, ia mulai bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Pasar Gempol.

“Di Persekabpas, saya hanya satu musim saja. Setahun kemudian, Alhamdulillah menjadi PTT Pemkab Pasuruan sebagai staf pasar. Mulai tahun ini saya menjadi kepala pengelola pasar,” ujarnya tersenyum.

Perjalanan itu kemudian membawanya menjadi PNS pada 2008. Meski kini aktivitasnya banyak berkutat dengan urusan pasar, dunia sepak bola tetap melekat kuat dalam dirinya.

Cinta Agus pada sepak bola tumbuh sejak kecil. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah aktif berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Gempol Putra.

Yang menarik, pelatih pertamanya adalah ayahnya sendiri, almarhum Hamid Asnan. Hamid pun bukan orang asing di dunia sepak bola profesional.

Namanya banyak dikenal sebagai pemain yang pernah memperkuat Niac Mitra dan Persebaya.

Hamid bahkan pernah membela Timnas Indonesia bersama nama-nama besar lain seperti Rusdy Bahalwan dan Rudy Keltjes.

“Sepak bola saya tekuni sejak SD sampai dewasa. Selain dari hasil latihan rutin, juga memang ada bakat dari almarhum ayah yang dulunya pemain sepak bola profesional,” tuturnya.

Sebelum memperkuat Persekabpas, Agus pernah bermain untuk Putra Surabaya (Pusura), salah satu klub internal Persebaya. Posisi yang paling ia kuasai adalah bek tengah atau stopper, peran yang menuntut keberanian dan konsistensi menjaga lini pertahanan.

Meski tak lagi menjadi pemain aktif, dia tidak pernah meninggalkan sepak bola. Setiap sore setelah bekerja di pasar, Agus masih melatih di SSB Bina Bola Hamid Asnan di Gempol.

Ia juga pernah menjadi ofisial Gempol FC pada ajang Bupati Cup 2025. Saat itu, timnya finis di posisi ketiga.

“Rutinitas harian pagi sampai dengan jelang sore, saya dinas di Pasar Gempol. Sorenya melatih SSB Bina Bola Hamid Asnan,” terangnya.

Kecintaan itu kini berlanjut ke generasi berikutnya. Putra keduanya, Muhammad Maulana Ibrahim, aktif berlatih sebagai striker di SSB yang ia latih sendiri.

“Alhamdulillah, bakat pemain sepak bola dari saya turun ke putra kedua. Aktif mengikuti turnamen kelompok umur antar-SSB, posisinya striker. Sebagai orang tua, pastinya mendukung sepenuhnya,” katanya.

Bagi Agus Ari, sepak bola bukan sekadar masa lalu. Ia adalah perjalanan hidup yang terus bergerak. Dari pemain, menjadi aparatur, lalu kembali ke lapangan sebagai pelatih, sambil menurunkan mimpi itu ke generasi berikutnya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pns #pasuruan #persekabkas #liga 2 #pasar gempol