Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengunjungi Desa Andungbiru Tiris setelah Jembatan Utama Putus Diterjang Banjir

Achmad Arianto • Senin, 20 April 2026 | 19:39 WIB
DARURAT: Warga melintas di sebuah jembatan semipermanen menyeberangi Sungai Kedaton di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Jembatan hanya bisa dilintasi motor dan pejalan kaki. (Achmad Arianto/ Radar Bromo)
DARURAT: Warga melintas di sebuah jembatan semipermanen menyeberangi Sungai Kedaton di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Jembatan hanya bisa dilintasi motor dan pejalan kaki. (Achmad Arianto/ Radar Bromo)

 

Banjir bandang akibat cuaca ekstrem yang terjadi di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, membuat jembatan utama di Dusun Kedaton putus. Hingga kini, jembatan yang putus hanya diganti dengan jembatan darurat semipermanen. Membuat warga terus khawatir akan ancaman banjir bandang lagi.

Achmad Arianto, Tiris, Radar Bromo

Pagi di dataran tinggi itu masih dimulai seperti hari-hari sebelumnya. Warga berangkat ke kebun, membersihkan lahan, mencari pakan ternak, atau menuju pasar.

Aktivitas berjalan, tetapi tetap ada khawatir. Sejak banjir bandang akibat cuaca ekstrem beberapa bulan lalu menyapu jembatan utama, ada rasa waspada yang terus mengiringi warga.

“Banjir bandang itu datang tiba-tiba. Jembatan langsung putus. Sekarang memang sudah ada jembatan darurat tapi tetap khawatir kalau hujan deras lagi,” kata Santoso, 39, warga setempat.

Jembatan di hulu Sungai Kedaton itu dulunya menjadi urat nadi desa. Ratusan kepala keluarga menggantungkan aksesnya di sana, termasuk jalur penghubung antara Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris dengan Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil.

Semua jenis kendaraan melintas di jembatan itu. Mulai sepeda motor hingga truk pengangkut hasil kebun.

“Jembatan di hulu sungai merupakan jembatan utama. Jadi semua jenis kendaraan lewat jembatan itu. Termasuk truk yang mengangkut hasil kebun warga,” jelasnya.

Kini, yang tersisa adalah jembatan darurat semipermanen dari kayu dan bambu. Dibangun cepat agar desa tidak terisolasi, sehingga bisa mengembalikan akses warga. Namun ia belum mampu mengembalikan rasa aman.

Dengan konstruksi kayu dan bambu, jembatan hanya bisa dilintasi kendaraan ringan. Seperti motor, mobil pribadi, atau pikap dengan muatan terbatas. Truk yang biasa mengangkut hasil panen warga, untuk sementara tak bisa melintas.

Akibatnya, pola kerja warga berubah. Hasil kebun yang biasanya diangkut sekali jalan dengan truk, kini harus diangkut bertahap menggunakan kendaraan kecil. Lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan, meski warga mencoba memaklumi keadaan.

“Ya bagaimana lagi, muatan harus disesuaikan dengan kondisi jembatan. Hal itu tentunya akan berdampak pada biaya operasional meskipun tidak terlalu signifikan,” beber lelaki yang hobi ngetrail itu.

Tak hanya satu titik, dampak banjir bandang juga merusak dua jembatan lain di wilayah tersebut. Satu jembatan ada di Dusun Kedaton, berjarak 4 kilometer dari jembatan utama yang putus. Jembatan itu juga putus dan kini hanya bisa dilalui pejalan kaki serta motor.

Satu lagi yaitu jembatan di Dusun Krajan yang kondisinya miring. Sehingga membutuhkan perbaikan agar kembali aman digunakan.

“Dua jembatan itu memang bukan infrastruktur utama. Tetapi memiliki perananan penting sebab menjadi penghubung antara Desa Andungbiru dengan Desa Tiris,” ucapnya.

Di sisi lain, trauma warga justru terasa paling kuat saat hujan turun. Apalagi, jembatan semipermanen berkonstruksi kayu tersebut berpotensi kuat putus. Khususnya saat cuaca ekstrem dan debit air Sungai Kedaton naik.

Bagi mereka yang tinggal di sekitar aliran Sungai Kedaton, hujan deras dengan durasi panjang menjadi sinyal bahaya. Mereka meningkatkan kewaspadaan, bahkan bergantian memeriksa kondisi jembatan, terutama pada malam hari.

“Kalau hujan lama, kami bergantian cek jembatan. Takut air naik dan jembatan tidak kuat,” ungkap Muhammad, 40, warga yang lain.

Rasa takut itu bukan sekadar kekhawatiran biasa, melainkan pengalaman yang masih membekas. Banjir bandang yang datang sebelumnya tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga mengubah cara warga memandang cuaca. Hujan kini bukan lagi sekadar berkah tetapi juga ancaman.

Sekretaris Desa Andungbiru Asrawi menyadari, belum adanya jembatan permanen berdampak besar terhadap kehidupan warga. Sebab, jembatan bukan hanya soal akses. Melainkan juga penggerak ekonomi desa. Tanpa jalur yang memadai, distribusi hasil kebun menjadi terhambat, aktivitas warga melambat, dan rasa aman ikut terkikis.

Koordinasi dengan Forpimca Tiris terus dilakukan agar pembangunan jembatan permanen segera terealisasi. Harapannya, jembatan dengan konstruksi yang lebih kuat dapat memberikan kepastian dan keamanan jangka panjang bagi warga.

Saat ini, warga Andungbiru memilih bertahan dengan apa yang ada. Mereka berhati-hati saat melintas, saling mengingatkan untuk tidak membawa muatan berlebih, dan tetap siaga setiap kali hujan turun.

Di tengah keterbatasan itu, satu harapan terus dijaga: hadirnya jembatan permanen yang tak hanya menghubungkan wilayah. Namun juga menghapus perlahan rasa takut yang masih tersisa setiap kali langit mulai gelap. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#jembatan putus #banjir #andungbiru #tiris #probolinggo