Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kharisma Nanda Zenmira, Dosen Sekaligus Satu-satunya Kurator Seni Perempuan di Pasuruan

Rizal Syatori • Selasa, 14 April 2026 | 21:36 WIB
Kharisma Nanda Zenmira
Kharisma Nanda Zenmira

  

Kharisma Nanda Zenmira, 28, lebih dikenal sebagai dosen di kampusnya. Namun perempuan asal Kelurahan/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ini juga berprofesi sebagai kurator. Bahkan satu-satunya kurator perempuan di Pasuruan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari, Radar Bromo

Aktivitas Kharisma Nanda Zenmira, 28, berjalan seperti kebanyakan ibu rumah tangga. Ia memasak, merawat anak, dan mengurus kebutuhan keluarga sehari-hari.

Namun di balik rutinitas domestik tersebut, tersimpan peran lain yang tak kalah penting. Sebagai dosen sekaligus kurator seni.

Saat keluar rumah, istri dari Deden Suprayogi ini menjalani kesehariannya sebagai dosen program studi Desain Komunikasi Visual di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan. Sejak 2022, ia mengabdikan diri di dunia akademik, bahkan dipercaya menjabat sebagai kepala program studi (kaprodi).

Perjalanan akademiknya turut membentuk jalan hidupnya hari ini. Ia merupakan lulusan Sarjana Strata Satu Universitas Negeri Malang (UM) dan melanjutkan pendidikan magister di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Dari sana, ketertarikannya pada dunia seni tidak hanya berhenti sebagai penikmat. Namun kemudian berkembang menjadi peran yang lebih dalam: kurator seni. Bahkan, di Pasuruan, ia dikenal sebagai satu-satunya kurator perempuan saat ini.

“Kalau di rumah saya ibu rumah tangga, di luar menjadi dosen sekaligus kurator. Alhamdulillah semuanya berjalan baik dan lancar, keluarga pun mendukung,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Bagi Zenmira, peran sebagai dosen dan kurator bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkaitan dan menguatkan. Terlebih ia juga seorang penyuka seni sekaligus seniman, khususnya di bidang seni lukis.

Minat tersebut telah tumbuh sejak lama. Saat masih menempuh pendidikan, ia kerap terlibat dalam pengelolaan pameran seni.  Dari pengalaman itu, ia menyadari adanya passion di bidang tersebut.

Keputusan melanjutkan studi pascasarjana di bidang tata kelola seni semakin menguatkan langkahnya. Termasuk memahami peran kurator secara lebih mendalam.

Sejak 2022, ia mulai menekuni profesi kurator secara serius. Hingga kini, ia telah enam kali menjadi kurator dalam pameran seni, dengan cakupan wilayah di Jawa Timur seperti Pasuruan, Malang, dan Surabaya.

Dalam perannya, kurator tidak hanya memilih karya seni untuk dipamerkan. Ia juga bertanggung jawab meneliti, merawat, serta menyusun narasi pameran agar karya dapat dipahami publik.

“Intinya, kurator menjadi penghubung antara seniman dan masyarakat, sekaligus menjaga nilai dan keaslian karya,” jelasnya.

Karena itu, menjadi kurator tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan pemahaman seni yang kuat, jaringan yang luas, serta kemampuan komunikasi, manajemen organisasi, hingga public speaking.

Persiapan sebuah pameran pun tidak singkat. Secara ideal, dibutuhkan waktu hingga satu tahun. Namun dalam praktiknya, persiapan seringkali hanya berlangsung tiga hingga enam bulan, tergantung skala pameran.

Sebelum menjadi kurator, Zenmira lebih dulu menapaki peran sebagai penulis pameran seni. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting hingga kini ia mampu menjalankan keduanya sekaligus.

Di tengah berbagai peran yang dijalani, Zenmira menyadari bahwa kunci utama adalah manajemen waktu. Ia berusaha menempatkan setiap peran pada porsinya agar semuanya berjalan seimbang. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#ibu rumah tangga #KURATOR #pasuruan #UNU #dosen