Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Warga Bangil Pasuruan Lebaran di Mesir: Menukar Rindu dengan Ilmu di Kairo

Rizal Syatori • Kamis, 26 Maret 2026 | 22:21 WIB
Lubab Hud Abdullah (jaket coklat, tengah), saat acara kajian di sekretariat PCI Persis Mesir 1 (Dok. Pribadi)
Lubab Hud Abdullah (jaket coklat, tengah), saat acara kajian di sekretariat PCI Persis Mesir 1 (Dok. Pribadi)

 Tak ada suara takbir dari musala kampung, tak ada aroma opor dari dapur rumah, dan tak ada pelukan keluarga di pagi hari raya. Bagi Lubab Hud Abdullah, 29, Lebaran bukan lagi tentang pulang. Namun bertahan di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halamannya di Kelurahan Kersikan, Bangil, Kabupaten Pasuruan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Mesir - Radar Bromo 

Sudah enam kali Lubab Hud Abdullah melewati Idul Fitri di Kairo, Mesir. Enam tahun pula ia menahan rindu yang sama: tidak bisa berkumpul bersama keluarga di hari yang paling dinanti umat Muslim.

“Kalau di Indonesia, Lebaran itu kumpul keluarga. Di sini, ya kumpulnya sama teman-teman,” ujarnya pelan.

Lubab bukan tanpa alasan memilih hidup jauh dari rumah. Sejak 15 Januari 2021, ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, kini ia melanjutkan studi magister di Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran.

Keputusan merantau itu berangkat dari tekad sederhana: memperdalam ilmu agama. Dulu, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Persis Bangil, ia sempat bimbang memilih antara Mesir, Arab Saudi, atau Pakistan. Sampai akhirnya, dia mantap memilih Mesir.

Pertimbangan utamanya karena selain kuliah formal, Mesir memberikan kesempatan sangat luas untuk bermulazamah. Yaitu, metode menuntut ilmu dengan melazimkan diri dan terus-menerus mendampingi seorang guru (syaikh) dalam jangka waktu lama. Ini adalah tradisi klasik Islam untuk mempelajari ilmu secara mendalam, adab, dan akhlak langsung dari gurunya.

Tradisi keilmuan yang heterogen dan komprehensif di Kairo, juga jadi salah satu asalan memilih Mesir. Berbagai ilmu keislaman diajarkan. 

Mulai ilmu-ilmu metodologis seperti bahasa Arab dengan berbagai cabangnya. Lalu Ushul Fiqih, Ulumul Quran, Ulumul Hadist, ataupun ilmu keislaman inti. Seperti Aqidah, Fiqih, Tafsir, dan Tasawuf.

Keputusan itu kini ia syukuri. Hari-harinya dipenuhi aktivitas belajar, menghadiri kuliah, hingga mengikuti majelis ilmu di luar kampus. Ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia dan mengajar teman-teman yang membutuhkan bimbingan akademik.

Di balik kesibukan itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar hilang: rasa rindu pada rumah.

Lebaran menjadi momen paling terasa. Saat teman-temannya di Indonesia sibuk menyiapkan baju baru dan kue kering, Lubab justru bersiap menjalani hari raya seperti biasa—tanpa keluarga.

Ia mengaku hanya sekali pulang ke Indonesia selama di Mesir. Itupun bukan saat Lebaran, melainkan menghadiri pernikahan kakaknya. 

Selebihnya, ia memilih bertahan. Selain biaya perjalanan yang tidak sedikit, budaya di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir juga membuat banyak dari mereka tidak pulang selama masa studi.

“Biaya pulang memang mahal. Dan memang banyak teman-teman di sini yang tidak mudik selama kuliah,” ucap anak ketujuh dari tujuh bersaudara, putra pasangan suami-istri Almarhum Hud Abdullah Musa dan Mu'minah Mohammad Asif.

Meski begitu, Lebaran di negeri orang tetap memiliki cerita. Pagi hari dimulai dengan salat Id, lalu dilanjutkan berkumpul bersama sesama mahasiswa Indonesia. Mereka saling berbagi makanan, bercengkerama, dan mencoba menghadirkan suasana hangat yang menyerupai kampung halaman.

Kadang, mahasiswa yang sudah berkeluarga mengundang junior untuk makan bersama. Sesekali, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo juga mengadakan kegiatan yang mempertemukan para perantau.

Di momen-momen itulah, rasa rindu sedikit terobati. Namun tetap saja berbeda. Tidak ada ibu yang menyiapkan hidangan favorit, tidak ada ayah yang menyambut di ruang tamu, dan tidak ada suara riuh saudara yang bercengkerama sejak pagi.

Lubab memahami betul pilihan hidupnya. Ia sadar, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah cita-cita. Baginya, rindu adalah bagian dari perjalanan itu.

“Harapannya, ilmu yang didapat bisa diamalkan dan dibagikan ke masyarakat nanti,” ucapnya.

Ia ingin kembali ke Indonesia sebagai pendakwah dan mengajar di pesantren. Bahkan, ia bermimpi bisa menjadi dosen di perguruan tinggi.

Di tengah hiruk pikuk Kairo dan kesunyian Lebaran tanpa keluarga, Lubab terus melangkah. Ia menukar momen kebersamaan dengan keluarga demi masa depan yang lebih besar.

Dan setiap takbir yang ia lantunkan di tanah orang, selalu membawa satu doa yang sama: semoga suatu hari bisa merayakan Lebaran kembali di rumah. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#mesir #kairo #diaspora #pasuruan #bangil