Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Warga Gempol Pasuruan Lebaran di Bulgaria: Tak Ada Open House, Tradisi Asahan Satukan Hati para Diaspora

Muhamad Busthomi • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:16 WIB

 

Momen Kharisma Adi Putra saat Lebaran di Eropa. (Istimewa)
Momen Kharisma Adi Putra saat Lebaran di Eropa. (Istimewa)

Peralihan musim di Sofia, Bulgaria, mungkin sedang bersahabat bagi warga lokal. Namun bagi WNI muslim yang tinggal di sana, suasana Hari Raya Idul Fitri 2026 ini terasa lebih berat dari biasanya. Dentum eskalasi konflik di Timur Tengah yang getarannya merambat hingga koridor diplomatik di Eropa, membuat mereka harus berlebaran dengan sederhana.

 

MUHAMAD BUSTHOMI, Bulgaria, Radar Bromo

Pria 45 tahun asal Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, ini bukan seorang atase pertahanan. Bukan juga pakar geopolitik. Ia adalah seorang juru masak di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia di Bulgaria.

Namun di tengah ketegangan Iran melawan AS dan Israel, dapur Adi menjadi garis depan pertahanan mental bagi para diaspora Indonesia yang dirundung kecemasan dan rindu rumah. Terutama saat Lebaran.

Situasi geopolitik per Maret 2026 memang sedang berada di titik nadir. Sebagai bagian dari Uni Eropa dan NATO, secara tidak langsung Bulgaria ikut merasakan dampak dari krisis di Timur Tengah.

Kondisi ini berimbas pada perayaan Idul Fitri tahun ini. “Lebaran tahun ini kemungkinan besar hanya digelar sederhana. Sesuai pesan Presiden, tidak ada open house atau ramah tamah yang berlebihan,” ujar Adi saat berbincang melalui pesan WhatsApp.

Padahal biasanya, WNI di luar negeri punya tradisi khusus saat menggelar kegiatan keagamaan. Termasuk di momentum Idul Fitri. Seringkali, mereka membawa beberapa makanan, cemilan, buah, atau minuman untuk melengkapi apa yang sudah disediakan oleh KBRI setempat.

“Jadi persis asahan kalau di kampung,” kata pria yang sudah delapan kali melewati Lebaran di negeri orang ini.

Sebelum mendarat di Bulgaria, ia menghabiskan empat tahun di Swiss dan empat tahun di Australia. Baginya, setiap negara memiliki tantangan rasa yang berbeda.

Di Bulgaria, jumlah WNI tidak sebanyak di Swiss. Sebagian besar bekerja di sektor hospitality (perhotelan), pertanian, jasa boga, hingga mahasiswa.

Meski sudah melanglang buana, ada satu hal dari tanah air yang tak pernah bisa ia temukan di luar negeri. Yakni, kehangatan suasana riyayan.

“Yang paling sulit digantikan adalah budaya silaturahmi berkeliling ke rumah sanak saudara. Di sini, rindu itu hanya bisa diobati lewat video call. Mudik virtual sudah jadi ritual wajib,” akunya jujur.

Sebagai juru masak kedutaan, ia memikul beban ganda. Ia adalah abdi negara yang harus melayani WNI, sekaligus individu yang memendam homesick.

Pengalamannya saat Lebaran di Swiss maupun Australia, dapur KBRI berubah menjadi laboratorium rasa. Ia harus memastikan ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, hingga sate ayam, tetap memiliki rasa otentik bagi lidah Jawa.

Bahkan, beberapa bahan khusus harus dibawa langsung dari tanah air. Demi bisa menyajikan cita rasa khas semua masakan itu.

Ada satu cerita unik yang selalu membekas di hati Adi selama bertugas di luar negeri. Ia sering menjumpai WNI yang makan ketupat sambil bercucuran air mata.

“Lebaran jauh dari keluarga itu memang pedih sekali di hati. Saya sendiri pun, meski sudah bertahun-tahun, tetap saja terbawa perasaan setiap kali takbir berkumandang,” kenang Adi.

Di samping itu, tantangan WNI saat Lebaran di mancanegara biasanya terbentur hari kerja. Sebab, tidak semua negara memberlakukan hari libur ketika Idul Fitri. Namun tahun ini, tantangannya berlipat ganda. Yakni keamanan dan ekonomi.

“Tapi kami bersyukur, sinergi antara kami di perwakilan dengan WNI setempat sangat kuat. Dukungan mereka dalam persiapan logistik secara swadaya sangat mengharukan,” jelasnya.

Menutup perbincangan, pria asal Gempol ini menitipkan pesan bagi warga Pasuruan yang bermimpi berkarier di kancah internasional. Menurutnya, keberanian saja tidak cukup di tengah dunia yang makin kompetitif.

“Bekali diri dengan keahlian khusus. Jaga etos kerja semaksimal mungkin. Jika sudah di luar negeri, jangan jauh dari KBRI. Tetap jalin komunikasi baik dengan sesama WNI,” pesannya. (bersambung-hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#bulgaria #sofia #pasuruan #wni #lebaran #gempol