Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Melihat Lumbung Pangan Rutan Bangil yang Terus Berkembang, Berhasil Panen 100 Kg Nila

Muhamad Busthomi • Selasa, 17 Maret 2026 | 15:47 WIB

 

Warga binaan saat memanen ikan nila yang dibudidayakan di areal Rutan Bangil.
Warga binaan saat memanen ikan nila yang dibudidayakan di areal Rutan Bangil.

Anggapan bahwa penjara tempat “membuang uang negara” untuk memberi makan narapidana, tampaknya tidak berlaku di Rutan Kelas IIB Bangil. Di tempat itu, sebuah revolusi senyap sedang berlangsung. Bukan lewat orasi, melainkan melalui kecipak air dan kibasan sirip ikan nila yang memenuhi jaring-jaring pukat.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

Sebuah pemandangan kontras tersaji di halaman belakang Rutan Bangil, Sabtu (14/3) pagi itu. Di saat masyarakat mungkin masih terlelap, puluhan pria justru sudah berjibaku dengan lumpur.

Mereka tidak sedang menjalani hukuman fisik. Melainkan sedang merayakan “kemenangan ekonomi” dalam wujud panen raya ikan nila.

Ya, Rutan Bangil sedang panen ikan nila. Dan panen kali ini bukan main-main. Sebanyak 100 kilogram ikan nila berhasil diangkat dari kolam budi daya.

Angka satu kuintal tersebut menjadi argumen kuat bahwa lahan terbatas di dalam Rutan bukanlah penghalang untuk menjadi produktif.

Bahkan, Kepala Rutan Bangil Yanuar Rinaldi yang turun langsung ke pinggir kolam, tidak melihat kegiatan ini sebagai sekadar pengisi waktu luang bagi warga binaan. Bagi Yanuar, kolam nila ini adalah unit usaha mikro yang dijalankan dengan standar profesional.

“Kami harus mengubah paradigma. Rutan tidak boleh hanya menjadi tempat konsumsi. Kami harus mulai menjadi produsen,” tegasnya sembari menyaksikan para warga binaan memilah ikan berdasarkan ukuran.

Pesan yang ingin disampaikan Yanuar jelas: ketahanan pangan bisa dimulai dari mana saja, termasuk dari balik jeruji besi. Jika setiap rutan di Indonesia mampu memproduksi pangannya sendiri, maka ketergantungan terhadap anggaran negara untuk urusan dapur bisa ditekan. 

Di Rutan Bangil, upaya itu sudah dimulai. Pemilihan ikan nila sebagai komoditas utama juga didasari logika yang matang. 

Nila dikenal sebagai ikan yang tahan banting, mudah beradaptasi, dan memiliki nilai ekonomis yang stabil. Karakteristik ini seolah menjadi cermin bagi para warga binaan. Mereka dididik untuk menjadi tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman, meski saat ini ruang gerak mereka dibatasi oleh jeruji.

Seorang warga binaan yang menjadi pengelola harian kolam menunjukkan ketangkasan yang luar biasa saat mengoperasikan jaring. Ia bukan lagi sosok yang hanya menunggu jam makan siang tiba.

Di kolam itu, ia seolah manajer produksi yang paham betul kapan harus memberikan pakan protein tinggi dan kapan harus menguras sirkulasi air.

“Di sini mereka belajar disiplin. Ikan itu kalau terlambat dikasih makan, hasilnya tidak bagus. Sama seperti hidup, kalau kita malas, hasilnya juga nol,” ujar Yanuar mengarahkan.

Transformasi mental dari seorang pelanggar hukum menjadi tenaga kerja produktif inilah yang menjadi aset terbesar dari program ini. Hal lain yang menarik yaitu hilangnya sekat kaku antara petugas dan narapidana.

Di bibir kolam, status sebagai pejabat struktural rutan atau sebagai warga binaan seolah melebur. Mereka bekerja dalam satu komando, menarik jaring yang sama, dan merayakan beratnya timbangan yang sama.

Sinergi ini menciptakan ekosistem kerja yang sehat. Pejabat struktural berperan sebagai pemberi kebijakan dan pengawas mutu, sementara warga binaan adalah eksekutor lapangan yang militan.

“Sinergi ini penting. Tanpa kepercayaan dari petugas, program ini tidak akan jalan. Sebaliknya, tanpa keseriusan warga binaan, kolam ini hanya akan jadi genangan air mati,” tambah Yanuar.

Keberhasilan memanen 100 kilogram nila ini rencananya tidak akan berhenti di timbangan saja. Hasil panen ini diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan internal rutan.

Jawa Timur, khususnya Pasuruan, selama ini dikenal sebagai basis perikanan air tawar yang kuat. “Maka kami mencoba masuk ke dalam peta tersebut dengan cara warga binaan,” katanya.

Jika ditarik lebih jauh, program ini adalah tamparan halus bagi stigma negatif masyarakat tentang penjara. Di saat banyak orang di luar sana mengeluhkan sempitnya lapangan kerja, para penghuni Rutan Bangil justru menciptakan lapangan kerja mereka sendiri di lahan sisa di belakang kantor.

“Mereka membuktikan bahwa produktivitas tidak membutuhkan ruang yang luas atau kebebasan yang tanpa batas. Produktivitas hanya butuh kemauan dan manajemen yang tepat,” beber Yanuar.

Matahari mulai menyengat di halaman Rutan, namun semangat para petani berbaju narapidana itu belum luntur. Mereka sudah bersiap menyebar benih baru untuk siklus berikutnya.

Bagi mereka, setiap sisik ikan nila yang mereka rawat adalah bukti bahwa hidup mereka masih memiliki arti. Bahwa mereka perlahan mulai jadi bagian dari solusi ketahanan pangan nasional dari balik tembok tinggi. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#warga binaan #lumbung pangan #ikan #panen #rutan bangil buat masker