Belum satu bulan Alun-Alun Kota Probolinggo dibuka kembali pascarevitalisasi tahun 2025. Namun kondisinya langsung ramai. Makin banyak warga berkunjung dengan kegiatan beragam. Mulai olahraga, bersantai, atau sekadar jalan-jalan. Pelaku usaha di sekitarnya juga merasakan dampak positif.
ARIF MASHUDI, Mayangan, Radar Bromo
Jarum jam baru saja menunjuk angka 06.30, ketika pagi menyapa Kota Probolinggo. Langit belum sepenuhnya cerah, masih berselimut sisa awan putih akibat hujan semalam.
Namun suasana itu tak menghalangi denyut kehidupan yang mulai terasa di jantung kota: Alun-Alun Kota Probolinggo.
Belum genap satu bulan sejak alun-alun ini kembali dibuka pascarevitalisasi tahun 2025, wajah barunya sudah menjadi magnet bagi warga sekitar. Sejak pagi hingga sore, langkah-langkah kaki beradu dengan semangat.
Trotoar yang kini lebih lapang dipenuhi pelari, pejalan santai, hingga keluarga yang menikmati udara pagi.
Ada yang berlari cepat, ada yang sekadar berjalan sembari berbincang. Semuanya menyatu dalam ritme kota yang kembali bernapas.
Rosi, 34 tahun, salah satu warga Kota Probolinggo, adalah bagian dari denyut itu. Hampir setiap pagi, sebelum berangkat bekerja, ia menyempatkan diri berlari mengitari alun-alun.
“Alhamdulillah, sekarang alun-alun sudah nyaman buat olahraga. Trotoarnya luas dan aman. Tidak bingung lagi cari tempat lari pagi,” ujarnya sembari mengatur napas.
Menurut Rosi, di banyak kota memang alun-alun atau kawasan stadion kerap menjadi ruang publik favorit untuk berolahraga. Namun alun-alun memiliki kelebihan tersendiri.
“Kalau alun-alun itu kelebihannya terletak pada pemandangan, suasana, dan ada rasa tenang. Lebih nyaman di sini,” katanya singkat.
Keramaian itu tak berhenti pada aktivitas olahraga. Di sekeliling alun-alun, deretan kendaraan terparkir rapi di tepi jalan. Di sisi selatan, dekat pujasera kuliner Masjid Agung, geliat ekonomi perlahan kembali menggeliat.
Pedagang minuman dan makanan mulai merasakan dampak dari kembalinya ruang publik ini ke tangan warga. Usai berolahraga, banyak pengunjung melepas dahaga dengan segelas jus buah atau minuman lain.
Lapak-lapak kecil yang sempat meredup selama masa revitalisasi, kini kembali disambangi pembeli. Ice Trusnawati, pedagang jus buah di sekitar alun-alun mengaku perubahan itu sangat terasa.
“Sesudah alun-alun dibuka lagi, pembeli jauh lebih ramai. Yang datang ke sini juga ramai,” tuturnya semringah.
Ice membuka lapaknya sejak pukul enam pagi hingga malam. Namun, menurutnya, waktu paling sibuk adalah pagi dan sore. Yaitu saat warga berolahraga atau sekadar berjalan santai. Bahkan, jumlah pembeli disebutnya meningkat hingga lipat dua dibandingkan sebelum revitalisasi.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan suasana saat alun-alun ditutup. Kala itu, jalanan hanya menjadi jalur lalu lintas kendaraan. Ruang parkir sempit, aktivitas warga nyaris tak ada. Pedagang hanya mengandalkan pembeli yang benar-benar berniat datang.
Meski begitu, tak semua pedagang merasakan dampak yang sama besar. Endang, pedagang makanan-minuman di sisi utara alun-alun, menyebut memang ada peningkatan pembeli. Namun tidak terlalu signifikan.
“Yang banyak itu beli minuman. Kalau yang makanan, rasanya masih sama saja,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah berharap revitalisasi ini membawa dampak jangka panjang bagi perekonomian. Namun tanpa mengorbankan ketertiban ruang publik.
Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Ryadlus Sholihin Firdaus menegaskan, peningkatan ekonomi harus selaras dengan penataan kawasan. Yang diharapkan tumbuh adalah pelaku usaha yang punya tempat, bukan pedagang di tepi jalan.
“Dengan demikian, alun-alun tidak kembali kumuh dan mengganggu pengguna jalan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pedagang kaki lima di tepi jalan akan ditertibkan dan dipusatkan di kawasan GOR A. Yani. Untuk itu, pihaknya mendorong DKUP dan Satpol PP agar konsisten menegakkan aturan.
Kini, Alun-Alun Kota Probolinggo bukan sekadar ruang terbuka. Ia menjelma menjadi panggung kecil kehidupan. Tempat warga merawat kesehatan, tempat pelaku usaha menjemput rezeki, dan ruang bersama yang kembali menemukan denyutnya—pelan tapi pasti. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi