Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pasutri Sueb-Suyami yang Tetap Jualan di Umbulan Park Winongan Pasuruan meski Jarang Pengunjung Datang

Fuad Alyzen • Selasa, 20 Januari 2026 | 17:33 WIB

 

M. Sueb, 60, dan Suyami, 55 di Umbulan Park yang sepi. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)
M. Sueb, 60, dan Suyami, 55 di Umbulan Park yang sepi. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)

Sudah lama wisata Umbulan Park di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, ini sepi pengunjung. Namun ada pasangan suami-istri (pasutri) yang bertahan berjualan di salah satu lapak di sana. Sendirian. Mereka adalah M. Sueb, 60, dan Suyami, 55. Tidak peduli semua fasilitas kumuh dan rusak.

FUAD ALYZEN, Winongan, Radar Bromo

Langit mendung menggantung di atas Umbulan Park, Rabu siang (14/1) itu. Suasana terasa sepi, seperti Umbulan Park yang lama kehilangan pengunjung.

Di antara kolam yang retak dan taman yang ditumbuhi rawa, sepasang lansia tampak sibuk menyapu, menguras, dan merapikan kolam. Berharap taman itu tidak benar-benar mati.

Mereka tidak lain Sueb dan istrinya, Suyami. Pasutri itu sudah sejak lama menggantungkan hidup dari berjualan makanan dan minuman di kawasan Umbulan.

Jauh sebelum Umbulan Park berdiri megah, keduanya lebih dulu berjualan di sumber Umbulan alami yang dahulu tak pernah sepi pengunjung.

Hari itu, kolam yang mereka bersihkan tak dipenuhi wisatawan. Hanya beberapa anak warga sekitar sedang bermain air, sekadar mandi dan melepas penat.

Umbulan Park telah lama kehilangan pengunjung. Namun Suyami dan Sueb tetap datang setiap hari. Membersihkan kolam dan taman, seolah ingin berkata bahwa tempat ini masih layak untuk didatangi.

“Kalau kumuh begini, siapa yang mau datang?” ucap Sueb lirih sambil menggosok dinding kolam yang berlumut. Tangannya terus bekerja, meski harapan kerap terasa rapuh.

Dulu, sumber Umbulan alami adalah nadi kehidupan desa. Setiap pagi hingga malam, sekitar 40-45 PKL berjajar rapi.

Warga datang silih berganti: mengambil air minum, mandi, dan mencuci pakaian. Bahkan, banyak warga mencuci kendaraan di sana. 

Keramaian itu menjadi berkah. Menjadi magnet munculnya puluhan PKL, yang dari sana mereka bisa menghidupi keluarga.

Rutinitas itu bahkan berjalan sepanjang tahun. Selain itu, warga juga memanfaatkan lahan parkir untuk memperoleh keuntungan dari pengunjung sumber Umbulan.

Harapan baru muncul pada 2017, ketika Pemprov Jawa Timur membangun Umbulan Park. Para pedagang disosialisasikan akan mendapat lapak yang lebih layak.

Suyami dan Sueb, seperti pedagang lainnya, menyambutnya dengan penuh suka cita. Dalam benak mereka, Umbulan Park akan jauh lebih ramai, dagangan akan semakin laris.

Namun realitas berkata lain. Setelah pembangunan rampung, banyak fasilitas tak sesuai rencana.

Meski begitu, mereka tetap mencoba bertahan. Dari puluhan lapak yang tersedia, hanya segelintir yang terisi. Salah satunya milik Suyami dan Sueb.

Seolah kondisi terus memburuk, pengunjung tak kunjung datang. Fasilitas yang tak terawat perlahan ditinggalkan.

Satu per satu pedagang menyerah, beralih profesi atau pindah tempat. Hingga akhirnya, Umbulan Park nyaris kosong, menyisakan pasangan lansia ini seorang diri.

Pandemi Covid-19 memperparah keadaan. Sempat ada sedikit keramaian pada 2021–2022, namun kembali surut. Di akhir pekan, pengunjung yang datang hanya hitungan jari.

Memasuki 2025, Umbulan Park benar-benar sepi. Pergerakan tanah merusak salah satu kolam utama, membuat kondisi semakin tak layak.

“Tahun ini sudah tidak ada pengunjung sama sekali. Pendapatan ya kadang ada, kadang tidak,” tutur Sueb.

Pada tahun 2025, menurut Suyami, sempat menyisakan dua pedagang. Namun karena tak ada pembeli, akhirnya mereka pergi. Kini hanya mereka berdua yang tersisa. Tak ada pengelola. Tak ada perawatan.

Namun Suyami dan Sueb memilih melawan keadaan dengan cara sederhana: membersihkan. Mereka merapikan halaman yang dipenuhi rawa, menguras kolam utama, meski tenaga terbatas. Semua dilakukan sendiri, tanpa alat memadai.

“Siapa tahu ada pengunjung yang datang kalau melihat tempat ini bersih,” ujar Suyami sambil tersenyum tipis.

Upaya itu bukan tanpa risiko. Suatu hari, saat membersihkan kolam yang licin, Suyami terjatuh. Pergelangan tangan kanannya patah. Ia menunjukkan bekas cederanya, tanpa nada mengeluh.

“Itu waktu bersih-bersih. Karena licin, kemudian jatuh. Sempat patah tangan saya,” katanya pelan.

Semua dilakukan demi satu harapan sederhana: ada orang datang, membeli dagangan mereka. Namun kenyataan kerap pahit.

Dalam sehari, pembeli hanya satu atau dua orang. Itu pun warga yang melintas ke sawah, bukan pengunjung Umbulan Park. Pendapatan kadang hanya Rp 10 ribu, bahkan sering tak ada sama sekali.

Sekretaris Desa Umbulan Lukman Hakim mengaku tak tega melihat kondisi tersebut. Ia mengenal betul kehidupan para PKL sebelum Umbulan Park terbengkalai.

“Dulu waktu berjualan di sumber Umbulan utama, enak. Setiap hari mereka dapat untung karena banyaknya pengujung. Sekarang Rp 10 ribu saja itu sudah senang. Nggak tega saya,” ujarnya.

Pemerintah desa, kata Lukman, telah berulang kali mengajukan proposal perbaikan ke pemerintah provinsi. Namun hingga kini belum ada respons.

Kekecewaan warga pernah memuncak, hingga akhirnya memprotes pemdes. Sebab, mereka mengira Umbulan Park sengaja dibiarkan terbengkalai oleh pemdes.

Di tengah semua ketidakpastian itu, Suyami dan Sueb tetap datang setiap hari. Menyapu daun, membersihkan kolam, menata taman yang nyaris dilupakan.

Mereka tahu harapan itu kecil. Namun mereka memilih menjaga Umbulan Park—seperti menjaga hidup mereka sendiri. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #jualan #winongan #umbulan park #pasutri