Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Siswa Sekolah Rakyat Kota Probolinggo dan Kota Pasuruan Tampil di Depan Presiden RI Prabowo Subianto

Fuad Alyzen • Jumat, 16 Januari 2026 | 22:21 WIB

 

 

HORMAT GRAK: Rahmad Albifahi, 12, siswa kelas VII SRMP 28 Kota Pasuruan saat bertemu Presiden Prabowo.
HORMAT GRAK: Rahmad Albifahi, 12, siswa kelas VII SRMP 28 Kota Pasuruan saat bertemu Presiden Prabowo.

Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) se-Indonesia di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (13/1). Tidak sekadar peresmian. Kegiatan itu menjadi saksi bagi sejumlah siswa SRT Kota Probolinggo dan Pasuruan yang tampil di hadapan Presiden.

ARIF MASHUDI-FUAD ALYZEN, Probolinggo - Pasuruan, Radar Bromo

Bukan pidato pejabat atau sambutan elite yang paling menyentuh hari itu. Justru penampilan siswa-siswa Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) yang membuat suasana terasa berbeda. Ada yang pidato dengan bahasa asing, ada pula yang menyampaikan pesan lewat barisan disiplin Polisi Cilik.

Dari Kota Probolinggo hingga Kota Pasuruan, cerita mereka bertemu dalam satu momentum kebangsaan. Salah satu yang menyita perhatian adalah Riski Aulia, siswi kelas I SMP SRT 7 Kota Probolinggo.

Dengan suara lantang dan artikulasi rapi, Aulia menyampaikan pidato menggunakan bahasa Jepang. Presiden Prabowo pun tak menutupi rasa kagumnya.

“Terus terang saya terkesima. Bisa ada anak yang pidatonya dalam beberapa bahasa, luar biasa,” ucap Presiden Prabowo saat itu.

Aulia merupakan satu dari empat siswa SRT yang berpidato menggunakan empat bahasa asing, mewakili 34 provinsi. Namun di balik keberanian tampil di hadapan Presiden, tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari kegemaran masa kecil.

Lahir di Probolinggo pada 27 Juli 2012, Aulia tumbuh sebagai anak yang menyukai kartun Jepang seperti Naruto. Ketertarikannya membuat ia gemar menggambar tokoh anime sejak SD.

Saat kelas V di SDN Triwung Lor I, Aulia mulai menyalurkan hobinya dengan serius. Dari kegemaran menggambar itu, rasa ingin tahunya terhadap budaya Jepang tumbuh.

Ia mulai belajar hiragana dan katakana (huruf-huruf Jepang) secara otodidak melalui aplikasi di telepon genggam.

“Waktu itu belajarnya dari HP,” ujarnya tersenyum saat ditemui di ruang perpustakaan sekolah, didampingi Kepala SRT 7 Kota Probolinggo Susilowati.

Kemampuan berbicara bahasa Jepang baru benar-benar diasah ketika Aulia masuk Sekolah Rakyat. Karya gambarnya menarik perhatian Direktorat Jenderal Kementerian Sosial hingga Menteri Sosial Syaifullah Yusuf. Dari sinilah bakat Aulia diarahkan dan difasilitasi.

Karena di SRT 7 belum tersedia guru bahasa Jepang, Aulia kemudian mendapat les privat dari guru Bahasa Jepang SMAN 1 Kota Probolinggo. Setiap sore sepulang sekolah, ia belajar dengan tekun. Dalam waktu singkat, kemampuannya berkembang pesat.

Penampilan perdananya terjadi saat menyambut kunjungan Menteri Sosial di SRT 7 Kota Probolinggo. Dengan teks kanji di tangan, Aulia memperkenalkan diri, “Hajimemashite, watashi wa Riski Aulia desu.”

Dari momen itu, kesempatan demi kesempatan datang. Termasuk tampil pada soft launching Sekolah Rakyat se-Jawa Timur dan puncaknya peresmian nasional di Banjarbaru.

“Kalau di depan Pak Presiden justru tidak grogi. Lebih grogi waktu tampil di Surabaya,” kata putri pasangan Rudi Pramono dan Siti Nur Hafilah tersebut.

Aulia mengaku tak ingin menyia-nyiakan pendidikan gratis yang ia terima. Dengan fasilitas lengkap di Sekolah Rakyat, ia bercita-cita lulus hingga SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. “Saya hobi menggambar, cita-cita saya ingin jadi seniman,” ucapnya mantap.

Dari panggung yang sama, kisah lain datang dari Kota Pasuruan. Kali ini bukan lewat pidato, melainkan hentakan langkah dan barisan rapi Polisi Cilik (Pocil) Sekolah Rakyat Pasuruan Kota yang tampil memukau.

Di antara barisan itu, berdiri Rahmad Albifahi, 12, siswa kelas VII SRMP 28 Kota Pasuruan. Wajahnya berbinar saat mengenang momen bertemu dan berdialog langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

“Bahagia. Lewat Pocil saya bisa bertemu presiden dan tampil di depan presiden,” kata Rahmad yang merupakan Danton Pocil Sekolah Rakyat itu.

Presiden sempat menanyakan identitas dan cita-citanya. Dengan suara mantap, Rahmad menjawab ingin menjadi polisi.

Jawaban itu disambut pernyataan Presiden bahwa Rahmad akan mendapat beasiswa kepolisian. Sebuah kalimat singkat yang tak disangkanya, namun membuat semangatnya kian menyala.

Rahmad mengaku, perjalanan menuju panggung nasional tidak mudah. Saat awal mengikuti Pocil, ia merasa minder dan tidak percaya diri. Setiap menjelang latihan dan keberangkatan, ia selalu meminta doa kepada ibunya agar diberi kelancaran.

Melalui bimbingan penuh kesabaran dari jajaran Polres Pasuruan Kota, mental Rahmad dan rekan-rekannya perlahan tumbuh. Program Pocil Sekolah Rakyat ini dibina langsung oleh Satlantas Polres Pasuruan Kota. Konsepnya yaitu memadukan baris-berbaris dengan nilai kedisiplinan, kepemimpinan, dan cinta tanah air.

Kasat Lantas Polres Pasuruan Kota AKP Amrullah Setiawan menjelaskan, program ini lahir dari Buku Pedoman Polisi Cilik yang digagas Kapolres Pasuruan Kota AKBP Davis Busin Siswara dan telah disahkan Menteri Sosial sebagai pedoman resmi Pocil Sekolah Rakyat.

Tim Pocil Sekolah Rakyat merupakan gabungan siswa dari berbagai sekolah dan latar belakang. Mulai SRMP 28 Pasuruan, SD Unggulan NU Bangilan, SD Al Kautsar, SD Tri Bahasa, hingga SMP Bahtera. Keberagaman itu menjadi cermin persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Setelah tampil memukau dalam pra-launching Sekolah Rakyat di hadapan Menteri Sosial pada 27 Desember 2025, Pocil Sekolah Rakyat mendapat amanat tampil di peresmian nasional di Banjarbaru. Dengan waktu persiapan singkat, mereka berlatih hampir setiap hari.

Kapolres Pasuruan Kota AKBP Davis Busin Siswara menegaskan, keberhasilan Pocil Sekolah Rakyat merupakan hasil dari kolaborasi dan pembinaan yang berkelanjutan. Ia wujud nyata pembinaan karakter generasi muda.

“Melalui Pocil, anak-anak dilatih disiplin, kepemimpinan, serta nilai persatuan dalam keberagaman. Kami berharap program ini menjadi inspirasi dan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembentukan generasi yang berkarakter dan berjiwa kebangsaan,” katanya.

Dua kota, dua cerita, satu panggung kebanggaan. Dari pidato bahasa Jepang hingga barisan Polisi Cilik, anak-anak Sekolah Rakyat membuktikan mampu tampil sejajar di ajang nasional. Di hadapan Presiden, mereka berdiri tegak—menjadi wajah harapan pendidikan Indonesia. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Sekolah Rakyat #pasuruan #prabowo subianto #Pocil #pidato #probolinggo #Presiden RI