Banyaknya cangkang kerang di tepi pantai Kenjeran, Surabaya, membuat Prayogi Harry Widharta, memiliki ide untuk menyulap cangkang atau kulit kerang menjadi kerajinan. Saat ini bahkan, karyanya itu sudah dieskpor ke Maldives.
INNEKE AGUSTIN, Maron, Radar Bromo.
INISIATIF ini sejatinya telah Yogi mulai sejak 2017. Namun, saat itu skalanya masih kecil. Hingga akhirnya perlahan membesar.
Salah satu pertimbangannya, limbah kulit kerang yang dibuang ke pantai bisa menyebabkan pendangkalan laut. Selain itu, dapat menimbulkan bau tak sedap dan sarang bakteri.
“Karena itu, akhirnya saya kepikiran untuk mengolah cangkang kerang agar bernilai ekonomi. Sekaligus menjaga lingkungan perairan,” terang warga Desa Wonorejo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.
Yogi bahkan memulai usahanya itu sejak masih kuliah di Jurusan Managemen, Universitas Muhammadiyah Surabaya. Saat kuliah, suplai kulit kerang ia dapat dari pantai Kenjeran.
Setelah kembali di desanya, limbah kulit kerang ia dapat dari daerah Situbondo. Kampung halamannya. Total, kebutuhan kulit kerang tiap bulannya mencpai 70 kilogram.
“Ada juga yang disuplai dari Kabupaten Probolinggo, tapi tidak banyak. Lebih banyak dari Situbondo. Biasanya sebulan itu kami butuh bahan baku sekitar 70 kilogram tiap jenisnya,” tutur Yogi.
Jenis kulit kerang yang digunakan Yogi cukup beragam. Mulai dari kerang Simping, hingga kerang Dara. Kulit kerang itu lantas dibersihkan dan disulap menjadi berbagai macam benda unik. Mulai asesoris, kitchen ware, home decor, hingga alat mandi.
Asesoris seperti gelang, anting, kalung, dan sebagainya, menempati urutan pertama jenis barang yang banyak dipesan oleh konsumen. Sebanyak 50 persen pembeli menyukai asesoris yang dibuat dari kulit kerang ini.
“Kalau untuk asesoris biasanya tak makan waktu lama, sekitar 15 menit bisa jadi. Kami memanfaatkan jenis kulit kerang waste atau limbah. Sehingga, bentuknya tidak beraturan. Tapi itulah nilai uniknya,” kata Yogi.
Selain itu, Yogi juga membuat produk tumbler berhiaskan limbah kulit kerang. Prosesnya pun terbilang singkat, hanya butuh sejam.
Kulit kerang pertama-tama dibersihkan. Setelah itu dilekatkan pada lakban dan ditumbuk. Hasil tumbukan lantas ditata di permukaan tumbler, hingga membentuk pola tertentu.
“Proses penempelannya menggunakan lem. Ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tampak rapi,” ujarnya.
Sebagai finishing, tumbler lantas diamplas agar halus dan siap untuk diedarkan. Wilayah penjualannya pun sudah cukup luas.
Di Kabupaten Probolinggo sendiri, produk ini dijual di pusat oleh-oleh seperti Gerbang Wisata Sukapura (GWS) Sukapura.
“Selain itu, paling banyak kami kirim ke Bali dan ada yang ekspor sampai ke Maldives. Meski proses ekspornya saat ini masih pakai agregator. Semoga ke depan bisa ekspor sendiri,” ungkapnya.
Selain dua jenis itu, ada juga produk home décor. Seperti tempat tisu, jam, dan kursi kafe yang Yogi produksi.
“Lalu ada alat mandi seperti tempat kumur-kumur. Ini banyak diminati di Bali juga. Harga yang kami tawarkan juga cukup variatif. Mulai Rp 5 ribu hingga Rp 3 juta,” tambahnya.
Yogi mengatakan, nilai unik dari produknya yaitu memanfaatkan limbah menjadi barang berguna. Ia juga mengajak sembilan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk produksi. “Sehingga juga dapat meningkatkan pendapatan bagi mereka,” katanya.
Pada tahun 2023, Yogi mengikuti program Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Dari ajang ini, Menparekraf, Sandiaga Uno memberikan perhatian khusus dan memerintahkan stafnya untuk menjajaki produk Yogi sebagai suvenir resmi Kemenparekraf dari APBN.
“Kami juga pernah memberikan pelatihan hingga ke salah satu pondok pesantren di Thailand terkait pemanfaatan limbah kulit kerang ini,” pungkasnya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi