Senin sore (29/9), suara azan menggema lembut di langit Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Seruan itu menjadi panggilan bagi para santri Ponpes Al Khoziny untuk salat Asar berjemaah.
Lantai dua musala sore itu terasa teduh, tempat para penuntut ilmu sujud dan memanjatkan doa. Tak ada yang menyangka, keheningan ibadah itu akan berubah menjadi jerit pilu dan kepanikan.
INNEKE AGUSTIN, Wonomerto, Radar Bromo.
SAAT rakaat kedua, lantai musala mulai bergetar. Suara retakan terdengar dari sudut bangunan. Para santri belum paham apa yang tengah terjadi. Hingga tiba-tiba, suara gemuruh keras memecah kesunyian.
Dalam hitungan detik, bangunan empat lantai itu ambruk. Menimbun 167 santri di bawah bongkahan beton dan besi.
Dari ratusan korban itu, tiga di antaranya adalah santri asal Desa Sepuh Gembol, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo: Syehlendra Haical Raka Aditya, 13; Alfin Ramadani; dan Maulana Ibrahim Ainul Yakin.
Namun di antara mereka, kisah Haikal menjadi yang paling menggetarkan hati. Dia bertahan tiga hari dua malam di bawah reruntuhan tanpa makanan dan nyaris tanpa harapan.
Abdulhawi, 39, ayah Haikal masih ingat betul sore itu. Sekitar pukul 15.00, pesan singkat masuk ke grup WhatsApp wali santri. Kabar buruk itu datang cepat—musala ponpes roboh saat salat Asar berjemaah.
Tanpa pikir panjang, Hawi dan keluarganya langsung berangkat ke Sidoarjo. Setibanya di lokasi, ia hanya bisa menatap reruntuhan bangunan yang tak lagi berbentuk.
Tim penyelamat bekerja siang malam, berpacu dengan waktu dan cuaca. “Kami hanya bisa berdoa, semoga Haikal ditemukan selamat,” kenangnya.
Doanya terkabul. Setelah berjam-jam pencarian, tim menemukan tanda-tanda kehidupan di antara puing. Dalam video yang sempat viral, seorang relawan Rescue Surabaya bernama Aziz terdengar berbicara lirih kepada dua santri yang terjebak.
“Haikal ada di arah jam satu, sekitar dua meter dari saya. Yusuf di arah jam dua belas, empat meter dari sini,” ujarnya dalam video itu.
Dengan suara lemah, Haikal menjawab, mengadu bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia terjepit beton, miring ke kiri, tangannya kebas, dan kaki kirinya tertindih coran.
“Bawah fondasi coran atasnya beton. Badannya tidak bisa bergerak sama sekali,” tutur Hawi, menirukan kisah putranya.
Pada hari pertama di tengah reruntuhan, Haikal bertahan tanpa makanan dan minuman.
Namun, ada hal yang menenangkan di tengah kondisi itu. Ia sempat bercerita kepada ayahnya, seseorang datang memberikan seteguk air di tengah himpitan beton.
“Katanya anak kecil datang bawa air, dikira adiknya yang datang, tapi bukan. Mungkin itu malaikat kecil yang dikirim Allah,” ungkap Hawi.
Baru pada hari kedua, tim berhasil memasukkan selang infus melalui celah kecil di reruntuhan.
“Hanya infus yang bisa masuk. Jalur evakuasi terlalu sempit, bahkan untuk merayap saja sulit,” kata Hawi.
Meski terhimpit bangunan dan kesakitan, Haikal tak meninggalkan salatnya.
Di tengah reruntuhan, ia masih menunaikan salat Isya berjamaah bersama temannya yang juga terhimpit, tak jauh dari posisi Haikal. Haikal bahkan menepuk pundak temannya itu untuk ikut salat.
“Seperti ada yang mengimami katanya, tapi anak saya tak tahu itu siapa. Dia masih membangunkan temannya untuk salat. Tapi saat Subuh tiba, temannya itu sudah tidak lagi menyahut,” kisah Hawi.
Keteguhan iman dan semangat hidup itulah yang menuntun Haikal bertahan hingga hari ketiga. Rabu (1/10) pukul 15.10, ia akhirnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Namun, dia harus kehilangan kaki kirinya akibat infeksi berat. Operasi amputasi dilakukan pada Sabtu (4/10) dini hari di RSUD R.T. Notopuro, Kabupaten Sidoarjo.
Kini, Haikal masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya mulai berangsur membaik. Dalam setiap percakapan dengan ayahnya, justru ia yang menguatkan.
“Saya bilang, lebih baik ayah yang sakit, Kak. Tapi Haikal jawab, jangan Pa, jangan sakit. Kalau Papa sakit, siapa yang jaga Mama dan adik. Di situ saya menangis,” tutur Hawi.
Selain Haikal, dua santri lain asal Desa Sepuh Gembol juga turut menjadi korban yaitu sepupu korban.
Alfin Ramadani mengalami luka di kepala dan telah menjalani operasi. Sementara Maulana Ibrahim Ainul Yakin menderita luka di kaki dan juga telah dioperasi.
Bendahara Desa Sepuh Gembol Mulyadi mengatakan, keduanya merupakan saudara sepupu dari Haikal. Mereka sudah kembali ke rumah setelah dirawat di rumah sakit di Sidoarjo.
“Saat kejadian mereka salat di musala itu, tapi berhasil lari saat bangunan mulai berguncang. Jadi kena bangunannya, tapi tak separah Haikal. Sekarang mereka sudah pulang di rumahnya masing-masing. Sementara Haikal masih dirawat di rumah sakit,” jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Hariawan Dwi Tamtomo menyampaikan, penanganan dan pendampingan bagi para korban akan dikoordinasikan dengan Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo.
“Kami sudah berkomunikasi dan akan memastikan dukungan medis maupun sosial bagi keluarga korban,” ujarnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Rachmad Hidayanto menambahkan, pihaknya telah menjadwalkan kunjungan langsung ke rumah para korban.
“Kami ingin melihat kondisi mereka, sekaligus memberikan bantuan sosial dan pendampingan psikologis,” katanya.
Sementara di lokasi kejadian, musala itu kini hanya menyisakan puing dan debu. Namun, di balik reruntuhannya, masih ada sejumlah korban. Menunggu untuk dievakuasi. Masih ada banyak keluarga yang menunggu kepulangan putra-putri tercintanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi