Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenang Sosok HM. Buchori, Wali Kota Probolinggo Dua Periode yang Cukup Populer di Kota Mangga

Arif Mashudi • Rabu, 17 September 2025 | 02:28 WIB
AKRAB: HM Buchori saat ngobrol bareng dr Aminuddin di sela-sela suksesi di Pilwali Probolinggo, beberapa waktu lalu.
AKRAB: HM Buchori saat ngobrol bareng dr Aminuddin di sela-sela suksesi di Pilwali Probolinggo, beberapa waktu lalu.

Buchori tidak hanya dikenal sebagai Wali Kota Probolinggo yang dekat dengan masyarakat. Jauh sebelum itu, dia memang memiliki kepedulian lebih terutama pada masyarakat menengah ke bawah. Kepeduliannya, meninggalkan cinta dan kenangan bagi mereka yang pernah mengenalnya.

ARIF MASHUDI, Kademangan, Rada Bromo

SENIN (15/9) pagi, Jalan Raya Bromo, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo sudah terlihat ramai. Ribuan petakziah berdatangan ke rumah duka yang berada tepat di pinggir jalan itu.

Sejumlah personel Satlantas Polres Probolinggo sibuk membantu petakziah menyeberang dan mengatur lalu lintas.

Mereka ada yang menunggu di halaman rumah duka, ada juga yang masuk ke dalam rumah untuk mendoakan almarhum HM Buchori yang meninggal Senin (15/9) menjelang subuh.

Buchori dikenal sebagai salah satu Wali Kota Probolinggo yang populer di mata masyarakat. Dia dekat dengan masyarakat. Bahkan, program-programnya banyak menyentuh langsung masyarakat, walau sederhana.

Kelahiran 22 Juni 1954 itu bukan berasal dari keluarga berada. Karena itu, Buchori meniti karirnya dari nol.

Bahkan, saat remaja dia sempat menjadi tukang becak di malam hari untuk membantu orang tuanya. Becak yang pernah dipakainya itu kini disimpan di Museum Probolinggo.

Buchori mengawali karirnya dengan bekerja di PT KTI Probolinggo. Perjalanan profesionalnya dimulai sebagai Kasubsi (1974-1980), berlanjut menjadi Kasie (1980-1985), Kabag (1985-1990), Asisten Manajer (1990-1999), dan Deputi Manajer pada 1999.

Setelah menghabiskan waktu lama di dunia industri, ia beralih ke dunia politik. Karirnya pun cukup moncer. Buchori terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 1999-2003.

Kepercayaan masyarakat membawanya ke posisi yang lebih tinggi. Hingga akhirnya menjabat sebagai Wali Kota Probolinggo selama dua periode. Yaitu tahun 2004 hingga 2014.

Jauh sebelum mantan Presiden RI Joko Widodo blusukan, aktivitas itu sudah lekat dengan sosok Buchori. Dia rutin blusukan ke berbagai sudut kota. Ia pun tak segan turun langsung untuk menyelesaikan masalah.

Selain suka blusukan, Buchori juga dikenal sebagai wali kota yang suka bertemu langsung dengan masyarakat. Bahkan door to door. Buchori juga mengenalkan program santunan kematian di kota mangga ini.

Setiap pagi, dia olahraga jalan kaki. Sembari mengecek kondisi kota dan takziah ke rumah-rumah warga yang meninggal.

Buchori menandainya dengan sederhana. Bila bertemu bendera putih bergambar palang hijau saat olahraga pagi, dia pun langsung berhenti di rumah itu dan takziah.

Sering juga dia cangkrukan di ketan kratok Bioskop Garuda, salah satu jajanan tradisional favoritnya. Di sana, dia biasa berjumpa dan ngobrol dengan warga yang datang untuk membeli.

Buchori juga menggagas sejumlah program di Kota Probolinggo yang sampai saat ini masih dilaksanakan.

Salah satunya, acara aktualisasi seni budaya SemiPro (Seminggu di Probolinggo dan Kota Seribu Taman. Taman-taman yang dibangun di masa pemerintahan Buchori, banyak yang terus dipelihara sampai saat ini.

Saking dekatnya Buchori dengan warga kota, anak-anaknya menganggap Buchori tidak hanya menjadi bapak mereka. Namun, juga bapaknya seluruh warga kota.

Indi Eko Yanuarto, putra pertama Buchori mengungkapkan, almarhum seperti diciptakan untuk menjadi bapaknya orang banyak. Dia sangat mengayomi semua orang.

Baginya, hidup Buchori selalu didedikasikan dengan memberikan perhatian pada masyarakat kota. Baik saat bekerja di KTI, DPRD Provinsi Jatim, hingga menjadi Wali Kota Probolinggo.

”Luar biasa perhatian bapak itu pada masyarakat, terutama ulama. Beliau tidak pernah lepas nyambangi masjid, ziarah, dan takziah ke warga,” ucapnya.

Meski selalu sibuk luar biasa, Buchori tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Di tengah kesibukan masyarakat dan Kota Probolinggo, dia menyempatkan traveling bersama keluarga. Dan bagi Indi, itu adalah kenangan manis yang ditinggalkan untuk keluarga.

”Salah satu yang masih saya ingat sampai sekarang, kami pernah ke Jakarta berdua. Naik mobil, nyetir gentian. Bagi kami, beliau bapak terbaik. Tetap ada quality time untuk keluarga,” ujarnya.

Kenangan manis juga diingat kerabat dan rekan seperjuangannya. Seperti diungkapkan Haris Nasution, ketua DPC PDI Perjuangan Kota Probolinggo. Cak Yon–panggilannya–mengingat, dia pertama kali bertemu Buchori pada 1996 di PDI Perjuangan. Mereka saat itu sama-sama berjuang di barisan Promega.

”Dengan Pak Buchori, saya bukan sekadar kawan perjuangan di partai. Tapi juga saudara. Beliau sangat baik, hubungannya dengan manusia, juga ibadahnya,” ujarnya.

Menurutnya, ketekunan Buchori membuat karirnya berjalan dengan baik. Saat di KTI dan di dunia politik, dia tidak pernah mengenal lelah. Semangatnya mengabdi pada bangsa dan negara selalu membara.

Konsistensi dan komitmennya untuk rakyat terus terjaga. Begitu juga ibadahnya. Sesibuk apapun, Buchori selalu menjaga salat. Termasuk salat malam.

”Pak Buchori mulai saya bertemu saat berjuang untuk Promega, hingga menjadi kepala daerah, selalu konsisten untuk rakyat. Saran Pak Buchori yang saya ingat, penting mengabdi pada Allah. Jangan pernah dilupakan,” ungkapnya.

Bandyk Sutrisno, mantan Wakil Wali Kota Probolinggo 2009-2014 yang pernah mendampinginya, mengenang Buchori sebagai sosok komunikatif. Buchori juga tidak ragu bertanya atau diskusi bila ada hal yang penting.

Saat Bandyk jadi wakil wali kota, dia selalu dilibatkan dalam banyak keputusan. Setelah jabatan mereka berakhir, Buchori tetap menjaga komunikasi dan silaturahmi dengannya.

“Almarhum itu kadang-kadang mengundang saya untuk ngobrol dan datang ke rumahnya. Dua bulan sebelum meninggal, kami masih ketemu dan ngobrol,” ceritanya.

Hal serupa dirasakan Rey Suwigtyo, Pj Sekda Kota Probolinggo. Tyok (panggilannya) masih menjabat sebagai kabid di DLH Kota Probolinggo saat Buchori jadi wali kota. Selama itu pula, dia melihat Buchori selalu ada untuk masyarakat.

Hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluh kesah mereka dan memberikan solusi.

”Almarhum dekat di hati masyarakat karena jiwa sosialnya yang tinggi. Karena Pak Buchori berangkat dari bawah sebagai tukang becak, beliau selalu berpesan agar ingat ke rakyat. Ingatlah janji pada rakyat, karena doanya orang bawah itu luar biasa,” katanya.

Rohmatul Ikrom, driver Buchori yang sering menemani saat bepergian mengaku dekat dengan Buchori setelah tidak menjabat. Dia menilai, Buchori memang memiliki karakter  positif.

“Beliau dekat dengan masyarakat bukan karena tuntutan jabatan. Ya memang karakternya begitu. Bahkan, saat tidak lagi menjabat wali kota beliau tetap bagi-bagi ke masyarakat hampir tiap hari,” tuturnya.

Buchori juga sosok yang sabar. Hampir tidak pernah marah. ”Sabar beliau luar biasa. Saya hampir tidak pernah dimarahi. Kalaupun ada salah, beliau marah sebentar lalu hilang,” ujarnya.

Buchori juga terus memikirkan kemajuan Kota Probolinggo, bahkan hingga akhir hidupnya. Dia sangat ingin Kota Probolinggo dapat menyaingi Jogjakarta dan Madiun.

“Beliau ingin membuat Panglima Sudirman indah. Meski lagi sakit, tetap memikirkan Kota Probolinggo,” ucapnya.

Sementara Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengenang Buchori sebagai guru dan panutan dalam berbagai aspek. Mulai dari pemerintahan, kemasyarakatan, hingga kepemudaan.

“Beliau adalah guru bagi kita semua. Satu bulan setengah yang lalu, saat pertama kali dirawat, beliau masih sempat berbincang dengan saya tentang bagaimana membangun Kota Probolinggo ke depan. Sampai akhir hayatnya, pikirannya tetap untuk kota ini,” tambahnya dengan haru.

Di tengah keheningan liang lahat, doa-doa dari ribuan warga yang pernah disentuh perhatiannya terus mengalir. Buchori mungkin telah pergi, namun jejak cintanya masih tertinggal di taman-taman kota, di lorong-lorong kampung, dan di hati rakyat yang selalu ia sebut sebagai keluarga. Ia bukan hanya Wali Kota Probolinggo. Ia adalah bapak yang tulus, pemimpin yang bersahaja, dan teladan yang hidup selamanya dalam kenangan. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#buchori #Wali Kota Probolinggo #dokter aminuddin #kota mangga