Suara halus gesekan jarum dan kain terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Dusun Pateguhan, Desa Tawangrejo, Pandaan. Di sana, satu per satu boneka kecil dijahit oleh tangan-tangan terampil. Di antaranya, sepasang tangan milik Suyitno, 55, pemilik usaha boneka yang telah mengukir cerita selama lebih dari satu dekade.
RIZAL F. SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
Bagi Suyitno, boneka bukan sekadar kerajinan. Di dalam jahitannya, tersimpan cerita ketekunan, perjalanan panjang, dan harapan.
Sejak 17 tahun lalu, ia menekuni profesi sebagai pengrajin boneka. Sepuluh tahun pertama ia jalani sebagai mitra produsen. Sisanya ia jalani dengan penuh kemandirian, memproduksi dan memasarkan sendiri kerajinannya.
“Awalnya saya menggeluti kerajinan boneka ini karena melihat ada peluang pasar. Prospeknya bagus,” tuturnya pelan, sambil terus mengawasi jalannya produksi yang dilakukan beberapa pekerjanya.
Bersama istri tercinta, Siti Anisah, ia mulai memproduksi boneka dari rumah kecil mereka di RT 07 RW 06, Dusun Pateguhan. Kini, usaha itu telah tumbuh. Melibatkan sekitar sepuluh ibu rumah tangga dari sekitar tempat tinggalnya.
Setiap hari, mereka bersama-sama memproduksi boneka dari pagi hingga sore. Bahkan, hingga malam jika pesanan sedang banyak.
Boneka yang diproduksi Suyitno, dikenal rapi. Terutama boneka kecil untuk gantungan kunci atau suvenir. Sebab, proses produksinya dijahit manual menggunakan tangan. Sementara boneka ukuran sedang dan besar, dijahit dengan mesin Jahir.
Suyitno sendiri belajar secara otodidak. Dari memotong kain, mendesain, menjahit, hingga memasarkannya. Kini, ia menyerahkan proses produksi kepada para pegawainya.
Saat ini, bapak empat anak itu lebih fokus pada desain dan pemasaran. Namun, ia tetap memantau setiap tahapan produksi dengan saksama.
Menurutnya, memproduksi boneka itu hanya butuh peralatannya sederhana. Seperti alat konveksi pada umumnya.
Bahan bakunya terdiri dari kain nilek, velboa, yelvo, dan rusfur. Sebagian besar bahan baku itu dibeli di Pandaan, sisanya dari Jawa Barat. Untuk isi bonekanya, dipakai dakron atau silikon karena lebih ringan dan mudah didapat.
Jenis boneka yang diproduksi beragam. Dari karakter tokoh kartun populer, hingga boneka maskot untuk berbagai acara besar. Ia juga memproduksi gantungan kunci, souvenir, bantal, dan guling.
Ukuran bermacam-macam. Dari yang kecil sepanjang 13 sentimeter, hingga yang terbesar mencapai dua meter.
Hasil produksinya itu lantas dipasarkan ke sejumlah kota. Tidak hanya kota-kota yang ada di Jawa Timur. Namun, juga menjangkau Kalimantan dan Sulawesi.
Suyitno lebih banyak melayani pembelian grosir. Harga boneka buatannya bervariasi, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 450.000, tergantung ukuran, model, dan tingkat kesulitannya.
Seiring waktu, kualitas produksi yang rapi makin dikenal. Bahkan, Suyitno sempat menerima pesanan boneka untuk mascot.
Seperti, boneka maskot untuk Porprov Jatim dari Pemkot Batu. Juga pesanan boneka maskor untuk Pilkada di Kabupaten Pasuruan dan Kediri. Bahkan, rumah sakit di Surabaya juga pernah memesan boneka mascot. Masing-masing jumlah pesanan mencapai ribuan.
Kini dengan penghasilan bulanan yang stabil di kisaran puluhan juta rupiah, Suyitno mantap melanjutkan usahanya. Ia tak memikirkan pensiun. Selama tangan masih kuat menjahit dan mata masih mampu menilai benang yang rapi, ia ingin terus berkarya.
“Ini sudah jadi penghasilan utama saya. Yang penting telaten. Alhamdulillah, cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan masih bisa ditabung,” ujarnya tenang.
Di tengah gempuran industri modern dan produk massal, kisah Suyitno adalah pengingat bahwa kerja keras, keuletan, dan kesetiaan pada proses masih punya tempat. Dari tangan dan hati yang sederhana, lahirlah boneka-boneka yang tak hanya membawa senyum, tapi juga cerita tentang harapan dan keteguhan. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi